Saham Bakal Diburu Investor, Analis: Tunggu Prospektus IPO GoTo Kuartal IV-2021

19 Agustus 2021 17:37 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Sukirno

Gojek dan Tokopedia secara resmi mengumumkan pembentukan Grup GoTo pada hari ini, Senin, 17 Mei 2021. / Dokumentasi Gojek-Tokopedia

JAKARTA – Penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) perusahaan teknologi hasil kolaborasi bisnis Gojek dan Tokopedia, yakni GoTo bakal segera terwujud. Perusahaan diketahui tengah mematangkan semua dokumen IPO dan ditargetkan melantai di Bursa pada kuartal IV-2021.

Jelang transaksi tersebut, berbagai isu mulai berhembus. Salah satunya terkait transaksi penjualan saham oleh investor lama di pasar sekunder sebelum IPO dilaksanakan. Meski belum jelas kebenaran materi dan sumbernya, kabar jual beli saham GoTo sebelum IPO ini beredar cepat di kalangan investor.

Kepala Riset Henan Putihrai Sekuritas, Robertus Yanuar Hardy mengatakan IPO perusahaan sebesar GoTo akan sangat menarik perhatian para investor di bursa saham. Oleh karena itu, menurutnya sudah menjadi hal wajar jika IPO perusahaan sebesar GoTo akan banyak diterpa isu. 

Yang pasti kata Robertus, melantainya GoTo di bursa saham akan sangat baik bagi industri pasar modal di dalam negeri. “IPO ini cukup positif. Karena dapat semakin menambah kedalaman pasar saham yang selama ini belum diisi oleh emiten teknologi raksasa seperti yang sudah ada di India, China, dan AS,” kata dia, Kamis, 19 Agustus 2021.

Robertus menyarankan, agar publik atau investor berhati-hati dalam menerima informasi sebelum mengambil keputusan investasi. Terutama mengenai isu lock period, karena sampai saat ini belum ada regulasi mengenai hal tersebut.

“Relaksasi aturan BEI dan OJK sampai sekarang masih disusun, sebaiknya kita tunggu saja hasil akhirnya seperti apa. Jadi sebaiknya ditunggu prospektusnya keluar agar lebih pasti informasinya,” imbuhnya.

Seperti diketahui, sebelum melakukan IPO, setiap perusahaan wajib menyampaikan prospektus IPO yang berisikan semua informasi terkait kondisi bisnis, prospek dan tantangan bisnis ke depan serta para pemegang sahamnya. 

Dengan regulasi yang sudah diatur secara ketat, maka setiap perusahaan yang IPO akan menyampaikan informasi bisnisnya secara mendetail. Karena sesungguhnya IPO adalah satu cara sebuah entitas bisnis untuk mendapat dan memperkuat kepercayaan publik. 

Robertus menambahkan, yang menjadi kekhawatiran investor harga saham GoTo akan turun jika tidak menggunakan lock up saham tidak benar. Sebab di luar negeri sudah banyak yang menerapkan hal seperti itu. 

“Di luar negeri sudah lumrah dilakukan berbagai mekanisme seperti direct listing dan atau melalui special purpose acquisition company (SPAC),” katanya.

Robertus juga menekankan bahwa yang perlu dipahami oleh investor dalam berinvestasi di pasar saham adalah fundamental dari perusahaan itu sendiri. Sebab jika dilihat, GoTo merupakan unicorn bahkan decacorn terbesar Indonesia saat ini. 

Perusahaan teknologi itu memiliki sebuah ekosistem bisnis yang semakin matang dengan jutaan konsumen dan transaksi ratusan triliun rupiah per tahun. GoTo juga sangat berpotensi untuk semakin berkembang, begitu juga seharusnya dengan harga sahamnya. 

Robertus yakin bahwa investor sudah memahami hal tersebut sehingga Ia yakin peminat saham GoTo akan sangat tinggi. “Peminatnya (saham GoTo) berpotensi lebih besar dari Bukalapak, karena ukuran grup GoTo yang juga jauh lebih besar, dan menguasai pangsa pasar industrinya,” pungkas dia.

GoTo merupakan gabungan tiga entitas bisnis pemimpin pasar ride hailing dan pesan antar makanan, pembayaran dan layanan keuangan, serta e-commerce terbesar di Asia Tenggara. Dengan valuasi yang ditaksir mencapai US$40 miliar, kapitalisasi GoTo pasca IPO diperkirakan masuk lima besar di BEI.

Sebagai tambahan, jumlah investor pasar modal terus bertambah di tengah kondisi pandemi saat ini. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per April 2021, jumlah investor pasar modal mencapai 5.088.093 SID.

Rencana IPO GoTo pada tahun ini diperkuat oleh terungkapnya dokumen penawaran pra-IPO milik Gojek beberapa waktu lalu. Dalam dokumen tersebut dinyatakan bahwa GoTo akan menyelenggarakan IPO pada kuartal terakhir 2021 dengan skema dual listing, di Indonesia dan Amerika Serikat.

Tak sampai di situ, Bloomberg turut melaporkan bahwa GoTo tengah berdiskusi dengan para investornya untuk segera menyelenggarakan IPO dengan target pendanaan sebesar US$1 miliar - US$2 miliar atau setara dengan Rp14,5 triliun – Rp29 triliun (asumsi kurs Rp14.500 per dolar AS).

“Nantinya, valuasi pasar akan mencapai antara US$25 miliar (Rp362,5 triliun) hingga US$30 miliar (Rp435 triliun),” kata sumber yang ingin identitasnya dirahasiakan, dikutip dari Bloomberg, Rabu, 28 Juli 2021. 

Berita Terkait