Rusia Setop Pasokan Gas di Musim Dingin, Jerman Dipaksa Kembali Bakar Batu Bara

24 Agustus 2022 20:00 WIB

Penulis: Rizky C. Septania

Editor: Yosi Winosa

Ilustrasi distribusi batu bara milik PT RMK Energy Tbk (RMKE) / Dok. RMK Energy (rmkenergy.com)

BERLIN - Perusaan utilitas Jerman, Uniper kembali memanfaatkan batu bara untuk menghangatkan negaranya di tengah musim dingin yang melanda.

Langkah ini diambil oleh raksasa utilitas tersebut usai Gazprom, perusahaan gas Rusia memutuskan untuk membatasi aliran gas ke Jerman.

Mengutip Insider Rabu, 24 Agustus 2022, perusahaan yang berbasis di Düsseldorf itu akan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga batu bara Heyden 4 untuk sementara waktu. Uniper sendiri merupakan pembeli gas Rusia terbesar di Eropa.  

Penggunaan bahan bakar tak ramah lingkungan itu rencananya akan dilakukan mulai Senin. Dengan mengaktifan kembali PLTU batu bara di Jerman, Uniper memperkirakan dapat menyediakan listrik sampai akhir April 2023.

"Operasi Heyden 4 yang direncanakan akan dibatasi karena keterbatasan kapasitas transportasi rel batu bara keras ke lokasi, yang mungkin akan diangkat setelah kapasitas transportasi tambahan tersedia," ujar perwakilan Uniper seperti dikutip TrenAsia.com dari Insider.

Perlu diketahui, operasional PLTU batu bara dihentikan Uniper sejak 2020 lalu. Hal ini sebagai salah satu upaya negara tersebut dalam melakukan dekarbonisasi. Sayangnya, tujuan tersebut tampaknya harus tertunda lantaran perang antara Rusia dan Ukraina meletus akhir Februari lalu.

Uniper menambahkan, langkah untuk menghidupkan kembali Heyden 4 didorong oleh undang-undang Jerman yang baru disahkan untuk memastikan keamanan energi. Undang-undang tersebut, kata Uniper, menetapkan larangan penggunaan gas dan panggilan untuk beralih ke pembangkit listrik tenaga batu bara untuk menghasilkan listrik.

Sebelumnya, Gazprom telah membuat pemberitahuan bahwa aliran gas ke Eropa akan dihentikan selama tiga hari terhitung sejak 31 Agustus hingga 2 September. Alasannya, perusahaan akan melakukan pemeliharaan pada pipa tersebut.

Seperti diketahui, krisis energi Eropa telah membuat beberapa pemimpin Benua Biru khawatir tentang musim dingin karena pasokan energi semakin menipis. Bahkan sebagian negara Eropa menuduh Rusia menjadikan energi sebagai senjata pembalasan atas sanksi Barat yang dijatuhkan ke Negeri Beruang Merah setelah menginvasi Ukraina.

Harga gas alam di Eropa dikabarkan naik hingga 20%. Ini menjadi rekor tertinggi baru setelah Nord Stream 1 menghentikan berita, dan kekhawatiran energi meresahkan pasar keuangan lainnya.

Berita Terkait