RUPSLB BRI Agro Restui Rights Issue 2,15 Miliar Saham

28 September 2021 16:45 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Laila Ramdhini

Ilustrasi bank digital di Indonesia. Infografis: Deva Satria/TrenAsia

JAKARTA - PT BRI Agroniaga Tbk (AGRO) atau kini bernama Bank Raya akan melaksanakan penambahan modal melalui skema rights issue. Aksi korporasi ini pun telah mendapat restu pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Senin, 27 September 2021.

Bank Raya akan menerbitkan paling banyak 2,15 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp100 per lembar. Penerbitan saham baru ini setara 9,96% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan. 

Adapun harga pelaksanaan dari rights issue ini belum dibeberkan perseroan. Bila mengacu pada harga saham AGRO di bursa pada perdagangan sesi 2 Selasa, 28 September 2021 sebesar Rp2.430, maka perseroan bisa menarik dana segar maksimal Rp5,22 triliun. 

Dana segar ini diperlukan Bank Raya untuk bertransformasi menjadi bank digital. Usai bertransformasi, Direktur Utama (Dirut) Bank raya Kaspar Situmorang mengatakan akan fokus menggarap pangsa pasar di sektor gig economy. 

Dengan membidik para karyawan lepas, Bank Raya optimistis bisa menjadi pemain besar bank digital di Indonesia. Dirinya pun menyebut jumlah pelaku gig economy melesat sejak ada pandemi COVID-19.

Diperkirakan jumlahnya akan menyentuh 74,81 juta pelaku gig economy pada 2025. Dengan pangsa pasar besar itu, Bank Raya akan memperkuat infrastruktur digital hingga menambah fitur-fitur yang dibutuhkan oleh nasabah.

Gig economy workers akan menjadi pilar penting yang memperkuat dan memajukan perekonomian bangsa," kata Kaspar.

Setelah dikurangi biaya emisi, AGRO bakal mengalokasikan dana rights issue untuk memperkuat permodalan serta penyaluran kredit digital.

Mengutip laporan keuangan AGRO pada semester I-2021, modal tier 1 atau inti perseroan diketahui mencapai Rp4,21 triliun. Angka ini naik tipis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp4,13 triliun.

Pemegang saham mayoritas Bank Raya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) pun sudah memberi lampu hijau transformasi bisnis perseroan. Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza mengatakan Bank Raya kini menjadi attacker di BRI Group untuk menggarap bisnis perbankan digital.

“Sebagai pemegang saham mayoritas dan perusahaan induk Bank Raya, saat ini BRI tengah mempersiapkan Bank Raya menjadi digital attacker untuk menghadirkan solusi layanan digital. Untuk mewujudkan hal tersebut, Bank Raya akan memenuhi dan patuh terhadap peraturan serta persyaratan yang ditetapkan regulator,” ujar Aestika kepada TrenAsia.com, Selasa, 28 September 2021.

Persaingan Bank Digital

Bank Raya merupakan bank digital dengan modal inti yang paling mendekati PT Bank Jago Tbk (ARTO) dengan Rp7,88 triliun. Upaya rights issue ini dapat menjadi babak baru Bank Raya untuk menggoyang dominasi Bank Jago di bisnis digital.

Bank Raya sebelumnya mengumumkan kenaikan laba bersih hingga 31% year on year (yoy) pada semester I-2021. Laba bersih calon bank digital ini terbang dari Rp20,04 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp26,22 miliar pada semester I-2021.

Padahal, pendapatan bunga AGRO tergelincir dari Rp998,32 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp879,11 miliar pada semester I-2020. Meski begitu, AGRO berhasil mengurangi beban bunga secara cukup signifikan.

Beban bunga AGRO susut hingga 34% yoy menjadi Rp445 miliar dari sebelumnya Rp675,20 miliar pada semester I-2020. Alhasil, pendapatan bunga bersih AGRO masih bisa tumbuh 34,21% dari Rp323,11 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp433,66 miliar pada semester I-2021.

Dari segi intermediasi bank, AGRO menyalurkan kredit sebesar Rp18,36 triliun pada semester I-2021. Realisasi itu lebih rendah posisi akhir 2020 yang sebesar Rp19,49 triliun.

Meski begitu, AGRO mengalami peningkatan dari rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) dari 23,32% pada akhir Juni 2020 menjadi 24,90%. Menguatnya aspek permodalan AGRO diikuti oleh kualitas aset yang membaik.

Hal itu dapat ditinjau dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross yang susut dari 8,33% pada semester I-2020 menjadi 4,49% pada Semester I-2021. Meski begitu, nilai NPL gross ini masih melebihi rata-rata industri yang sebesar 3.35% per Mei 2021.

Secara keseluruhan, aset AGRO menyusut dari Rp28,01 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp25,40 triliun pada akhir Juni 2021. Kompak, posisi liabilitas pun berkurang dari Rp23,72 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp21,06 triliun pada akhir Juni 2021.

Selain ARTO dan AGRO, beberapa bank lain yang sudah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) antara lain  PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), Jenius dari PT Bank BTPN Tbk (BTPN), Wokee dari PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP), Digibank milik Bank DBS, dan TMRW dari Bank UOB.

Berita Terkait