Riset Menunjukkan, Properti Jabodetabek Masih Bertahan

August 18, 2020, 09:18 AM UTC

Penulis: Amirudin Zuhri

Suasana bangunan apartemen di kawasan Jakarta Pusat/ Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA- Sektor properti, terutama di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dinilai masih bertahan di tengah tekanan ekonomi pada kuartal II 2020. Hal tersebut setidaknya tergambar dalam riset yang dilakukan Rumah.com.

“Kami optimistis ekonomi akan membaik meskipun BPS (Badan Pusat Statistik) mengumumkan pada kuartal II ekonomi terkontraksi 4,19 persen. Atau secara kumulatif terkontraksi 1,26 persen,” kata Country Manager Rumah.com. Marine Novita, dalam penjelasannya kepada wartawan, di Jakarta, Senin 17 Agustus 2020.

BPS, jelas Marine, juga menyebutkan dari 17 sektor lapangan usaha, secara tahunan hanya ada tujuh sektor yang masih tumbuh positif. Sektor tersebut meliputi real estat, pertanian, jasa keuangan, jasa pendidikan, jasa kesehatan, pengadaan air, serta informasi dan komunikasi.

Agar tercapai pertumbuhan positif di kuartal III 2020, dia menyarankan, masyarakat perlu membangun optimisme. Hal itu dibutuhkan karena beberapa indikator pada Juni 2020 mengalami perbaikan, meski masih jauh dari kondisi normal.

Indikator yang mengalami perbaikan, antara lain dari sektor transportasi udara internasional, transportasi udara domestik, angkutan kereta api penumpang, angkutan laut penumpang, dan tingkat penghunian kamar (TPK).

Kepercayaan Pulih

Marine menjelaskan Indonesia Property Market Index Q2 2020 mengindikasikan pulihnya kepercayaan pemangku kepentingan di bidang properti, terutama dari sisi penyedia suplai baik pengembang maupun penjual properti.

Marine menambahkan Indonesia Property Market Index Suplai Q2 2020 berada pada angka 131,6 poin. Nilai tersebut naik sebesar 21 persen (quarter-on-quarter/QoQ) dan 46 persen (year-on-year).

Kenaikan pada kuartal kedua ini tampaknya sebagai kompensasi karena suplai pada kuartal sebelumnya tertahan dan turun sebesar 5 persen (QoQ) pada kuartal pertama 2020.

Marine menjelaskan bahwa optimisme dari sisi penyedia suplai ini terlihat dari naiknya suplai properti secara nasional.

Kenaikan harga properti secara nasional lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga rumah tapak. Indeks harga rumah tapak tercatat sebesar 114,9 pada kuartal kedua 2020, turun sebesar 0,7 persen secara kuartal, namun secara tahunan masih menunjukkan kenaikan sebesar 3 persen.

Sedangkan indeks harga apartemen tercatat pada 116,5 atau naik tipis sebesar 0,4 persen (quarter-on-quarter) dan 1,5 persen (year-on-year). Angka kenaikan tahunan pada kuartal kedua 2020 masih lebih kecil dibandingkan rata-rata kenaikan apartemen secara tahunan yakni sebesar 5 persen.

Menurut survei Consumer Sentiment Study H2 2020, lebih dari separuh (60%) responden memiliki niat akan membeli hunian untuk ditinggali sendiri. Data itu terjadi pada periode 2020 ini maupun pada 2021 mendatang.

Dari hasil survei yang sama, sekitar 59 persen responden memiliki minat untuk membeli properti dalam jangka waktu 1 hingga 2 tahun mendatang. Hanya sekitar 41 persen responden sisanya yang berencana membeli hunian dalam jangka waktu lebih dari 3 tahun mendatang.