Riset Menunjukkan Jam Tangan Pintar Berpotensi Deteksi Corona

21 Agustus 2020 15:35 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Foto: Sputnik

JAKARTA – Lembaga riset asal Amerika Serikat (AS), Scripps Research Translational Institute meneliti potensi penggunaan jam tangan pintar (smartwatch) seperti Fitbits dan Apple Watch sebagai pendeteksi awal COVID-19.

Pasalnya, perangkat jam pintar dapat memantau detak jantung, pola tidur, dan tingkat aktivitas fisik. Apabila sistem melihat perubahan fisiologis halus yang menandakan infeksi, maka hal ini dapat mendorong pengguna untuk menjalani tes COVID-19 bahkan sebelum gejala muncul.

Potensi ini akan bermanfaat pada pencegahan penularan dari pasien terinfeksi yang asimtomatik alias tanpa gejala dan membantu otoritas setempat mengatur protokol pengujian dan pelacakan virus.

Dalam hal ini, beberapa penelitian melihat keefektifan perangkat yang dapat dikenakan di tubuh manusia sebagai alat pendeteksi COVID-19 yang menjanjikan.

Kekurangannya

Sayangnya, jam tangan pintar dibandrol dengan harga yang relative mahal, mulai dari US$50 – US$400. Harga tersebut tentu saja tidak dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Utamanya pada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Padahal, kelompok ini justru termasuk yang paling rentan karena tidak memiliki banyak pilihan untuk tetap di rumah atau melindungi diri dengan fasilitas yang memadai.

Pew Research Center mencatat sekitar 31% orang Amerika yang berpenghasilan US$75.000 atau lebih per tahun melaporkan menggunakan perangkat yang dapat dikenakan (wearable tech).

Sebaliknya, hanya 12% dari rumah tangga yang berpenghasilan kurang dari US$30.000 yang menggunakan wearable tech.

Masalah lainnya adalah adanya kekhawatiran akan masalah privasi dan akses pemerintah ke informasi kesehatan pribadi.

Dalam penelitian Scripps berjudul DETECT memantau biometrik dari 35.000 peserta melalui aplikasi yang mengambil data dari Fitbits, Apple Watches, dan wearable tech lainnya. Hasilnya, data sensor dapat membantu mendeteksi COVID-19 sebelum gejala muncul.

Karena hasilnya positif, beberapa perusahaan, Lembaga sosial juga telah membagikan jam tangan pintar kepada sejumlah kelompok masyarakat sebagai bahan penelitian.

Bahkan, penelitian ini juga telah membagikan smartwatch kepada penduduk Afrika-Amerika berpenghasilan rendah di wilayah Jackson. Tercatat, lebih dari 80% populasi Jackson berkulit hitam dan hampir 30% hidup di bawah garis kemiskinan.

Pemerintah AS merekam jumlah infeksi COVID-19 di kota ini telah lebih dari 500 kasus.

Berita Terkait