Rights Issue Bank Capital (BACA) Dibayangi Absennya Pembeli Siaga dan Penurunan Kinerja Keuangan

12 Oktober 2021 13:33 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Laila Ramdhini

Kantor Bank Capital dan asuransi Capital Life di Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA - Emiten perbankan PT Bank Capital Indonesia Tbk mengumumkan belum memiliki pembeli siaga atas penerbitan saham baru melalui skema rights issue. Emiten bersandi BACA ini akan melepas paling banyak 20 miliar lembar saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham. 

Direktur Utama Bank Capital Wahyu Dwi Aji mengatakan perseroan belum mendapatkan pembeli siaga dari aksi korporasi ini. Kendati demikian, sejumlah pemegang saham dengan kepemilikan di atas 5% telah mengumumkan komitmennya untuk mengeksekusi rights issue.

Pemegang saham itu terdiri dari PT Inigo Global Capital yang mengapit 14,71% saham BACA dan PT Delta Indo Swakarsa yang menggenggam 13,9% saham perseroan. Di sisi lain, KPD Simas Equity Fund yang memiliki 11,06% saham BACA masih belum mengambil keputusan dalam penyerapan rights issue ini. 

Praktis, aksi korporasi ini akan ditentukan oleh minat investor publik dengan komposisi kepemilikan sebesar 60,27%.”Tidak ada pembeli siaga dalam Penawaran Umum Terbatas (PUT) IV perseroan,” ucap Wahyu dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa, 12 Oktober 2021.

Tidak hanya itu, BACA juga masih belum mengumumkan harga pelaksanaan rights issue ini. Bila mengacu pada harga saham BACA di bursa pada perdagangan sesi I Selasa, 12 Oktober 2021, BACA bisa meraup dana maksimal Rp6,4 triliun. 

Penurunan Kinerja

Selain tidak memiliki pembeli siaga, BACA juga diketahui tengah mengalami penurunan kinerja jelang rghts issue ini. Pada semester I-2021, laba bersih perseroan anjlok 77,68% year on year (yoy) menjadi Rp11,60 miliar dari  tahun lalu Rp51,98 miliar.

Susutnya laba bersih BACA disumbang oleh tergerusnya pendapatan sebesar 40,45% yoy. Pada semester I-2021, pendapatan bunga yang diperoleh perseroan sebesar Rp460,42 miliar dari periode tahun lalu Rp773,23 miliar.

Dari aspek intermediasi perbankan, penyaluran kredit perseroan tercatat melemah 34,01% year to date (ytd) menjadi Rp4,20 triliun dari semula Rp6,38 triliun pada akhir 2020.

Adapun total aset perseroan naik 17,47% ytd menjadi Rp23,75 triliun dari akhir 2020 sebesar Rp20,22 triliun. Liabilitas BACA juga naik menjadi Rp22,12 triliun pada Juni 2021 dari posisi Desember 2020 sebesar Rp18,58 triliun. Sedangkan, ekuitas turun tipis menjadi Rp1,62 tri

Berbeda dari BACA, PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) lebih leluasa melakukan rights issue usai sang pemegang saham pengendali (PSP) mengumumkan akan menjadi pembeli siaga. Pembeli siaga itu tidak lain adalah Anthoni Salim melalui PT Indolife Pensiontama.

Harga pelaksanaan rights issue BINA berada di kisaran Rp4.200-Rp4.380 per lembar. Mengacu pada perkiraan harga tersebut, BINA bisa meraup dana paling banyak sebesar Rp1,23 triliun.

Berita Terkait