RI Mulai Produksi Alkes COVID-19 Akhir Mei

May 11, 2020, 10:41 PM UTC

Penulis: wahyudatun nisa

Pengrajin melakukan uji coba ventilator di Industri UMKM Agusta, Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (15/4/2020). UMKM yang memproduksi ventilator untuk membantu medis menangani pasien COVID-19 ini berharap produk buatannya segera mendapatkan sertifikasi dan ijin penggunaan dari Kementerian Kesehatan agar dapat segera di produksi secara massal. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menargetkan produksi sejumlah alat kesehatan seperti test kit PCR (polymerase chain reaction), rapid test, dan ventilator dimulai pada akhir Mei ini.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro mengatakan saat ini rapid test serta test kit PCR sedang dalam tahap uji validasi dan registrasi di Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Sehingga ditargetkan akhir bulan ini untuk rapid test yang berbasis peptida sintesis ini bisa diproduksi 50.000 sampai 100.000 unit,” kata Bambang seusai rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo di Jakarta, Senin, 11 Mei 2020.

Bambang menyebutkan kapasitas industri dalam negeri untuk rapid test kit tersebut bisa mencapai 100.000 unit per bulan. Dengan ini, pemerintah berharap dapat mencapai target tes PCR secara massif ke masyarakat.

“Selain rapid test yang sudah dalam tahap validasi, sebenarnya ada tiga lagi jenis lainnya yang sedang dikembangkan tapi mungkin masih membutuhkan waktu satu sampai dua bulan ke depan,” tambahnya.

Adapun, untuk test kit PCR, Bambang menyebutkan saat ini sudah sampai tahap validasi dan registrasi. Sehingga, akhir bulan ini test kit tersebut diharapkan bisa diproduksi sampai 50.000 unit.

Selain itu, Bambang juga melaporkan perkembangan ventilator. Dia menyebutkan suda ada empat prototipe ventilator yang telah selesai tahap pengujian alat oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (BPSK) Kemenkes dan saat ini sedang menjalani uji klinis.

Adapun, prototype ventilator tersebut dikembangkan oleh Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), serta pihak swatas yakni PT Darma.

“Satu di antara empat itu yang berasal dari ITB sudah selesai uji klinis dan diharapkan bisa segera masuk tahap produksi,” jelasnya.

Ventilator lainnya masih akan menyelesaikan uji klinis, sehingga kemungkinan produksinya baru bisa dilakukan pekan depan.

Dalam penjelasannya, kapasitas produksi dari ventilator tersebut sekitar 100 unit per minggu setiap pabriknya. Sehingga diharapkan bisa mengejar kebutuhan ventilator yang cukup tinggi di Tanah Air.

Menristek juga menyampaikan bahwa mobile laboraturium atau mobile BSL2 sedang diselesaikan oleh BPPT dan ditargetkan pada 20 Mei mendatang sudah bisa dioperasikan di Rumah Sakit Wisma Atlet.

“Dan tentunya ini bisa membantu upaya percepatan pemeriksaan dari sampel dengan kapasitas bisa sampai 250 sampel per hari,” imbuhnya. (SKO)