RI Ekspor 19 Ton Ikan Kerapu Hidup

May 07, 2020, 09:15 AM UTC

Penulis: Sukirno

Ilustrasi ekspor ikan kerapu. / Pixabay

Di tengah pandemi COVID-19, pengusaha budidaya Indonesia mengekspor 19 ton ikan kerapu hidup untuk tujuan Hong Kong.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat ekspor ikan kerapu hidup hasil budidaya kembali menggeliat. Otoritas pemerintah Hong Kong memastikan keran impor kerapu hidup terus dibuka meski pandemi COVID-19 tengah melanda.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan ekspor kerapu dilakukan pada 1 Mei 2020 melalui jalur laut dengan tujuan Hong Kong.

Ekspor dilakukan melalui Maratua, Kalimantan Timur, sebanyak 15 ton dengan nilai US$123.750 yang dilakukan oleh PT Bintan Indo Sejahtera. Kemudian, ekspor juga dilakukan melalui Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, sebanyak 4 ton kerapu hidup dengan nilai US$24.000 dilakukan oleh PT Nagama Samudera.

Menurut dia, kinerja ekspor kerapu mulai berjalan normal kembali setelah sebelumnya terhambat akibat permintaan turun, khususnya pada awal-awal wabah pandemi COVID-19 melanda China hingga Maret lalu. Menurutnya, kembali stabilnya kinerja ekspor kerapu akan memicu geliat usaha budidaya kerapu yang dilakukan para pembudidaya di sentra-sentra produksi.

“Ekspor kerapu akan mendongkrak nilai devisa di tengah hantaman ekonomi akibat COVID-19. Saya rasa, ini jadi angin segar dan harapan untuk mempercepat recovery kondisi kinerja ekonomi makro kita. Di sisi lain, stabilitas kinerja ekspor dipastikan akan memicu aktvitas usaha mayarakat pembudidaya kerapu di berbagai daerah kembali bergeliat. Dengan demikian ekonomi masyarakat akan terdongkrak,” ungkap Slamet dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2020.

Slamet menambahkan ekspor kerapu Indonesia memberikan kontribusi cukup besar terhadap total nilai ekspor produk perikanan nasional. Ia juga memastikan bahwa seiring dengan revisi Permen KP no 32 tahun 2016, KKP akan terus mendorong aktivitas budidaya kerapu ini kembali berkembang di masyarakat.

Slamet juga meminta, para eksportir atau pemilik usaha budidaya skala besar menggandeng masyarakat pesisir untuk melakukan kemitraan usaha, sehingga mereka dapat diberdayakan.

Setidaknya sepanjang akhir April hingga awal Mei 2020, ada tiga aktivitas ekspor kerapu hidup yang dilakukan di tiga Provinsi yakni Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, dan Sumatra Utara. Ketiga daerah tersebut merupakan sentra produksi budidaya ikan kerapu di Indonesia.

Selain ketiga daerah tersebut, pada 3 Mei 2020 kemarin seharusnya ada aktivitas ekspor kerapu hidup di Pulau Sembilan, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumut. Namun, kegiatan tersebut ditolak oleh masyarakat.

Penolakan ini lantaran adanya kekhawatiran dari masyarakat setempat terhadap kru kapal angkut yang diduga membawa wabah COVID-19. “Kapal angkut Hong Kong ini sudah memenuhi prosedur untuk mengangkut kerapu hidup dan telah menjalani masa karantina selama 14 hari serta telah melengkapi administrasi keimigrasian, sehingga mereka bukan membawa wabah COVID-19, tapi mereka membawa devisa bagi negara Indonesia. Semoga kondisi seperti ini tidak terulang lagi di lokasi lain, sehingga aktivitas ekspor kerapu hidup bisa terus berjalan lancar,” harap Slamet.

Sebelumnya, Pemilik PT Putri Ayu Jaya perusahaan eksportir kerapu di Natuna, Eko Prihananto mengatakan bahwa ekspor kerapu ke Hong Kong, utamanya dari Kepulauan Natuna masih terus berjalan.

Hanya saja menurutnya, ada penurunan harga di negara tujuan ekspor akibat dampak wabah COVID-19. Meski terjadi penurunan tersebut, diakuinya tidak terlalu besar.

“Kalau dibandingkan sebelum wabah COVID-19 memang ada penurunan harga, namun tidak signifikan. Kalau dihitung ya paling hanya sekitar 3% penurunannya. Penurunan tersebut disebabkan memang selama wabah COVID-19 demand di tingkat konsumen agak turun juga. Tapi, secara umum tidak memberikan pengaruh berarti terhadap aktivitas ekspor kerapu dari Natuna,” ungkap Eko. (SKO)