Restrukturisasi BUMN Waskita Karya Capai Rp19,2 Triliun, Terbesar dari BNI

21 Juli 2021 21:35 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Rizky C. Septania

Gedung Waskita Karya | Foto: Istimewa

JAKARTA – PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) mengantongi restu restrukturisasi utang dengan nilai outstanding Rp19,2 triliun. Dari nilai tersebut, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menjadi kreditur yang memberi nilai restrukturisasi terbesar, yakni Rp9,16 triliun.

Senior Vice President (SVP) Corporate Secretary Waskita Karya Ratna Ningrum menyebut upaya restrukturisasi ini punya implikasi positif terhadap perbaikan arus kas perseroan. Selain BNI, terdapat empat bank lainnya yang menyetujui restrukturisasi WSKT.

Bank tersebut antara lain PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp4,61 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp2,79 triliun, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Rp1,71 triliun, dan PT Bank Pembangunan Daerah Jabar Banten Tbk (BJBR) Rp998,22 miliar.

Waskita Karya mendapatkan fasilitas penambahan tenor pinjaman hingga 31 Desember 2026 dan opsi perpanjangan hingga 2031.

“Perseroan juga mendapatkan penyesuaian bunga/imbal hasil atas pinjaman/pembiayaan syariah,” ucap Ratna kepada Trenasia.com, Rabu, 21 Juli 2021.

Restrukturisasi yang diterima WSKT ini nilainya mencapai 65% dari total pinjaman kepada lima  kreditur tersebut. Adapun total pinjaman kepada seluruh kreditur tersebut mencapai Rp29,26 triliun.

Ratna menuturkan WSKT kini tengah menggenjot divestasi ruas tol untuk memperkuat ekuitas perseroan.  Hal ini dilakukan demi memperbaiki nilai debt to equity (DER) WSKT yang menembus 4,7 kali per kuartal I-2021.

“Waskita memiliki 8 program penyehatan keuangan antara lain, Divestasi Aset, Restrukturisasi Waskita Induk, Restrukturisasi Anak Usaha, Penyelesaian Ruas Tol Khusus, Restrukturisasi Bisnis, Penerapan Tata Kelola dan Manajemen Risiko, serta pengajuan dukungan kepada Pemerintah dalam bentuk Penjaminan pinjaman dan Surat Utang,” jelas Ratna.

Targetkan Divestasi 6 Ruas Tol

Sebelumnya, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo menargetkan divestasi enam ruas tol WSKT pada tahun ini. Divestasi ini, kata Kartika bisa mempertebal ekuitas sekaligus mengurangi total liabilitas perseroan yang mencapai Rp88 triliun pada kuartal I-2021

Waskita Karya pun baru saja sukses melepas 55% sahamnya pada proyek Jalan Tol Cibitung-Cilincing. Transaksi jual saham ini dilakukan oleh anak usaha WSKT, PT Waskita Toll Road (WTR), kepada PT Akses Pelabuhan Indonesia (API).

“Setelah menandatangani PPJB, kami masih harus melakukan pemenuhan persyaratan administrasi dan memastikan proses divestasi dilakukan dengan mematuhi ketentuan yang berlaku sebelum penandatanganan Akta Jual Beli (AJB) antara kami dengan PT API,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu, 21 Juli 2021.

Dari transaksi ini, anak usaha WSKT mengantongi dana segar hingga Rp2,49 triliun.  Sebelum divestasi Tol Cilincing-Cibitung, WSKT juga telah sukses melepas sahamnya di tiga jalan tol lain. Ketiga jalan tol tersebut adalah Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi, Tol Semarang-Batang, dan Tol Cinere-Serpong.

Pada Juni 2021, WSKT lewat WTR melepas 20% saham di PT Jasamarga Semarang Batang (JSB) pemilik Tol Semarang-Batang dan 34,99% saham di PT Cinere Serpong Jaya (CSJ) pemilik Tol Cinere-Serpong. Penjualan ini dilakukan kepada  PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) alias SMI dengan nilai Rp2,07 triliun.

Waskita juga sukses menjual seluruh kepemilikan sahamnya di PT Jasamarga Kualanamu Tol (JMKT) yang memiliki Tol Medan-Kualanamu-Tebing kepada Hong Kong, Kings Rings Ltd pada April 2021.

 

Berita Terkait