Resmi Undur Diri, Muhyiddin Yassin Masih Dipercaya Raja Jadi PM Malaysia

16 Agustus 2021 23:30 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Sukirno

PM Malaysia Muhyiddin Yassin mundur. Foto: Biro Pers Setpres (Setkab.go.id)

JAKARTA - Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin menyatakan pengunduran dirinya kepada Raja Sultan Abdullah Alam Ahmad Shah, pada Senin, 16 Agustus 2021. Meski telah resmi undur diri, Muhyiddin masih dipercaya raja memegang pemerintahan sementara.

Muhyiddin mengatakan dia mengajukan pengunduran dirinya kepada raja karena kabinetnya telah kehilangan kepercayaan dari mayoritas anggota parlemen.

"Oleh karena itu, legitimasi saya sebagai perdana menteri tidak perlu lagi dibuktikan di parlemen. Hari ini saya mengundurkan diri sebagai perdana menteri dan (atas nama) semua menteri Kabinet, seperti yang disyaratkan oleh konstitusi federal," ujarnya seperti dilansir dari Channelnewasia.

Muhyiddin, yang dipilih pada Maret 2020, mengatakan telah mencoba berbagai upaya untuk menyelamatkan pemerintah Perikatan Nasional (PN) setidaknya sampai tugas penanganan pandemi COVID-19 selesai.

Namun upaya ini tidak berhasil karena ada pihak-pihak yang serakah yang lebih tertarik merebut kekuasaan daripada mengutamakan kehidupan dan penghidupan masyarakat.

Muhyiddin adalah presiden dari Parti Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) yang memimpin koalisi Perikatan Nasional (PN).

Dia mengatakan dia bisa mengambil jalan keluar yang mudah dengan mengorbankan prinsip-prinsipnya dan tetap sebagai perdana menteri, tetapi itu bukan pilihannya.

"Saya tidak akan pernah berkonspirasi dengan kelompok kleptokratis, mengganggu independensi peradilan dan membelakangi konstitusi federal hanya untuk tetap berkuasa," tandasnya.

Tekanan terhadapnya meningkat baru-baru ini setelah beberapa anggota parlemen dari partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), blok terbesar dalam aliansi yang berkuasa, menarik dukungan mereka.

Awal bulan ini, sejumlah anggota parlemen UMNO, yang dipimpin oleh presiden partai Ahmad Zahid Hamidi, menarik dukungan mereka untuk Muhyiddin, mengorbankan mayoritas parlemennya yang sudah tipis.

Muhyiddin mengatakan krisis tersebut disebabkan oleh penolakannya terhadap tuntutan seperti menjatuhkan tuduhan korupsi terhadap beberapa individu.

Politisi UMNO menghadapi tuduhan korupsi termasuk mantan perdana menteri Najib Razak dan presiden partai Ahmad Zahid Hamidi. Mereka telah membantah melakukan kesalahan dan termasuk di antara mereka yang menarik dukungan untuk Muhyiddin.

Selain berseteru dengan koalisinya, Muhyiddin juga terus dikritik terkait penanganan pandemi COVID-19, terutama setelah dia terlibat selisih pendapat dengan Sultan Abdullah terkait pemberlakuan status darurat nasional COVID-19.

Sejak itu, oposisi menganggap Muhyiddin melanggar konstitusi karena melangkahi wewenang raja. Para penentang Muhyiddin juga merasa sang perdana menteri berupaya menghindari mosi tidak percaya dengan menunda rapat parlemen.

Meski telah resmi mengundurkan diri, Muhyiddin masih dipercaya raja sebagai perdana menteri sementara Malaysia hingga waktu yang belum diketahui.

Istana mengatakan pemilihan bukanlah pilihan terbaik dan Raja Al-Sultan Abdullah senang Muhyiddin tetap sebagai juru kunci.

"Setelah pengunduran diri, raja senang Muhyiddin mengisi peran sebagai perdana menteri sementara sampai perdana menteri baru ditunjuk," kata pejabat Istana.

Raja sendiri mengatakan tidak cocok untuk mengadakan pemilihan selama pandemi. Infeksi dan kematian akibat COVID-19 di Malaysia membuat negara itu menempati peringkat tertinggi di Asia Tenggara.

Namun keputusan pemilihan diserahkan ke raja, yang dapat menunjuk seorang perdana menteri dari antara anggota parlemen terpilih berdasarkan siapa yang menurutnya paling mungkin untuk memimpin kabinet.*

Berita Terkait