Reputasi BRI Dipertaruhkan Pasca-Rights Issue, Kok Bisa?

13 September 2021 10:33 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Bank Rakyat Indonesia Kantor Cabang Tangerang, Kamis 29 Juli 2021. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Emiten pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) diberi mandat pemerintah untuk memimpin holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Ultra Mikro (UMi). Memiliki dua entitas anak baru, reputasi BRI sebagai blue chip dipertaruhkan pasca aksi korporasi ini rampung.

Analisis Pasar Modal sekaligus Ekonom LBP Institute Lucky Bayu Purnomo menyebut BRI punya tantangan besar memikul dua entitas barunya, yakni PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM.

“BRI punya tantangan baru pengelolaan usaha, padahal masih ada carry over sentimen yang cukup tinggi di masa lalu seperti NPL (non performing loan) gross BRI yang tinggi. Di tengah situasi ini, pertanyaannya apakah BRI ke depannya bisa menjaga kinerja dari entitas anaknya sekaligus kualitas aset dari BRI secara bank only itu sendiri,” papar Lucky saat dihubungi TrenAsia.com, Senin, 13 September 2021.

Kualitas aset yang ditunjukan dari NPL gross BRI mengalami kenaikan dari 2,94% pada akhir 2020 menjadi 3,12% pada semester I-2021.

Peningkatan terbesar NPL gross BRI memang ditemukan pada segmen mikro, yakni dari 0,83% pada akhir 2020 menjadi 1,53% pada semester I-2021.  Sementara itu, NPL gross pada segmen usaha kecil dari 3,61% pada akhir 2020 menjadi 4,14% pada semester I-2021.

Adapun segmen usaha menengah dan korporasi mengalami perbaikan dari segi kualitas kredit. NPL gross segmen usaha menengah menyusut menjadi 2,99% pada semester I-2021 dari posisi sebelumnya 4,46% pada akhir 2020. Segmen korporasi turun tipis dari 12,58% pada akhir 2020 menjadi 11,81% pada semester I-2021.

“Kemampuan manajemen setelah rights issue ini menjadi pertaruhan reputasi pengelolaan portofolio yang baik,” jelas Lucky.

Kendati punya tantangan untuk menjaga entitas barunya, Lucky menilai kehadiran PNM dan Pegadaian sejatinya bisa berimplikasi positif terhadap keterjangkauan nasabah dari BRI Group. Dua entitas usaha ini, kata Lucky, memiliki core bisnis yang serupa dengan BRI.

“Ekosistem BRI akan semakin positif, setelah mengakuisisi Danareksa dan kini menambah portofolio barunya. Ini akan menambah kemampuan BRI Group menambah nasabah, tapi jangan sampai ada kasus-kasus gagal bayar yang nantinya memberatkan entitas induknya,” kata Lucky.

Target 18 Juta Nasabah

Manajemen BRI sebelumnya telah menargetkan ada sebanyak 18 juta nasabah baru pasca rights issue rampung dilaksanakan. Menurut Lucky, target itu tergolong optimistis karena emiten pelat merah ini memang andal menyasar segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Tidak hanya menambah jangkauan nasabah, BRI juga berpotensi kembali menyalip PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebagai bank pemilik aset terbesar. Pasalnya, BRI bakal menambah setidaknya Rp38,15 triliun aset dari PNM dan Rp67,8 triliun dari Pegadaian.

Hingga semester I-2021, BRI telah memiliki total aset sebesar Rp1.450,91 triliun atau turun dibandingkan Desember 2020 yang sebesar Rp1.511 triliun. “Saya kira akan positif untuk menambah aset dari BRI dari dua entitas ini, belum lagi ada partisipasi publik juga,” ungkap Lucky.

Seperti diketahui, BBRI bakal melepas 28,21 miliar saham seri B atau 18,62% dari modal yang disetorkan. Saham ini bakal diperdagangkan di pasar reguler dan pasar tunai dengan nominal pelaksanaan Rp3.400 per lembar.

Dengan demikian, emiten pelat merah ini bakal mengantongi dana hingga Rp95,92 triliun dari aksi korporasi ini. Sebanyak Rp54,77 triliun dana yang diperoleh BBRI tersebut berasal dari eksekusi inbreng saham negara dari Pegadaian dan PNM. Sementara sisa dana sebesar Rp41,15 triliun berasal dari Penawaran Umum Terbatas (PUT) I oleh pemegang saham publik.

“Respon pasar menurut saya akan positif karena rights issue ini berpengaruh ke aspek fundamental dari BRI. Apalagi dilakukan saat ekonomi kita membaik,” ujar Lucky.

Lucky pun memprediksi saham BBRI bakal menembus Rp4.400 usai rights issue ini rampung. Angka ini lebih tinggi 17,96% dibandingkan harga saham BBRI di bursa pada perdagangan sesi I Senin, 13 September 2021 yang hanya Rp3.730.

Berita Terkait