Rencana Go Private, Penjualan Rokok Bentoel Merosot 36,3 Persen pada Semester I-2021

25 Agustus 2021 11:15 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Rizky C. Septania

Kantor pusat rokok Bentoel / Istimewa (Istimewa)

JAKARTA – Emiten rokok PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) mencatatkan penjualan sebesar Rp4,84 triliun pada semester I-2021. Jumlah ini merosot 36,3% dibandingkan penjualan semester I-2020 yang sebesar Rp7,6 triliun.

Mengutip laporan keuangan interim RMBA di Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan juga menekan beban pokok penjualan 32,4% menjadi Rp4,39 triliun pada semester I-2021. Pada periode yang sama tahun lalu, RMBA mencatat beban pokok penjualan sebesar Rp6,49 triliun.

Laba kotor RMBA pun tercatat Rp451,52 miliar pada semester I-2021. Laba tersebut turun 59,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,11 triliun.

RMBA mencatat beban operasi sebesar Rp336,52 miliar sepanjang enam bulan pertama 2021. Beban ini ditekan 70,7% dari Rp1,15 triliun pada semester I-2020. RMBA pun mencatat laba usaha sebesar Rp115 miliar, berbanding terbalik dengan rugi usaha sebesar Rp36,55 miliar sebelumnya.

Pada bottom line, RMBA pun mencatat rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp28,9 miliar. Rugi ini berhasil ditekan 82,5% dari Rp165,44 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Terdapat kenaikan bersih kas dan bank sebesar Rp824,77 miliar pada semester I-2021. Ini pun membuat posisi kas RMBA tercatat Rp581,69 miliar pada enam bulan pertama 2021. Pada awal tahun, posisi kas ini tercatat minus Rp243,08 miliar.

Aset RMBA tercatat sebesar Rp10,67 pada semester I-2021, turun dari posisi aset akhir 2020 yang sebesar Rp12,46 triliun. Aset lancar tercatat sebesar Rp6,72 triliun sementara aset tidak lancar tercatat Rp3,95 triliun.

Liabilitas tercatat sebesar Rp4,94 triliun yang terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp2,09 triliun dan liabilitas jangka panjang Rp2,85 triliun. Sementara itu, ekuitas tercatat sebesar Rp5,72 triliun pada semester I-2021 ini.

Rencana Go Private

Tahun ini dapat menjadi tahun terakhir RMBA melaporkan laporan keuangannya ke BEI. Ini karena perusahaan rokok milik British American Tobacco ini mengumumkan akan menjadi perusahaan tertutup atau go private.

Sekretaris Perusahaan RMBA Dinar Shinta Ulie mengungkapkan hanya ada sekitar 2.385 pemegang saham publik RMBA hingga saat ini. Porsi kepemilikan sahamnya pun kecil, yaitu 7,52%. Itu pun 7,29% dimiliki satu pihak, UBS AG London, dan 0,23% dipegang oleh publik lainnya.

“Saham perseroan tersebut tidak secara aktif diperdagangkan dan relatif tidak likuid. Oleh karena itu, perseroan mengajukan rencana go private,” ujar Dinar dalam keterbukaan informasi BEI, Jumat, 20 Agustus 2021.

RMBA pun menawarkan membeli kembali saham milik publik dengan harga Rp1.000 per saham. Harga tersebut 356,21% lebih tinggi dari harga saham dalam 90 hari terakhir (Rp281) sebelum perdagangan saham BEI disuspensi atas permintaan RMBA pada 6 Agustus 2021.

Meski jauh lebih menarik dari harga saham dalam perdagangan beberapa tahun terakhir, besaran harga saham tersebut jauh lebih rendah dari harga yang dipatok ketika IPO. Saat itu, RMBA menetapkan harga saham sebesar Rp3.380 per lembarnya.

Berita Terkait