Reliance Prediksi IHSG Akhir Pekan Ini Terkonsolidasi Cenderung Melemah

20 Agustus 2021 08:00 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Laila Ramdhini

Ilustrasi pergerakan saham di BEI.

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak terkonsolidasi cenderung melemah mencoba bertahan pada level support moving average (MA) 200 hari dengan support resistance 5.860 – 6.026 pada perdagangan Jumat, 20 Agustus 2021.

Kepala Riset Reliance Sekuritas Indonesia, Lanjar Nafi mengatakan IHSG akan menguji support MA 200 hari yang tepat berada di level 5.988 sebagai konfirmasi arah pergerakan. Apabila break out, maka akan menjadikan sinyal pelemahan lanjutan hingga menguji support selanjutnya. 

“Momentum bearish terlihat pada indikator Stochastic dan RSI serta pergerakan pada indikator MACD yang mulai memasuki area negatif,” kata Lanjar melalui laporan riset yang diterima TrenAsia.com, Jumat, 20 Agustus 2021.

Di samping itu, lanjutnya, Bursa Asia berpotensi dibuka hati-hati pada hari ini karena ketegangan penyebaran varian delta COVID-19, pelemahan komoditas, penguatan dolar Amerika Serikat, serta prospek pengurangan stimulus the Fed yang akan membebani prospek ekonomi ke depan. 

Isu virus delta memicu keraguan tentang vaksinasi yang sebelumnya menjadi senjata utama dukungan pembukaan kembali ekonomi global. Indeks berjangka sedikit lebih tinggi di Jepang, Australia dan Hong Kong. 

“Sedangkan indeks berjangka AS berfluktuasi memberikan signal pergerakan yang cenderung tertahan diakhir pekan,” tambahnya.

Dari dalam negeri, investor akan mencermati potensi capital outflow yang mengancam akibat dari prospek pengurangan stimulus the Fed. Sehingga secara sentimen IHSG berpotensi bertahan cenderung melemah pada akhir pekan.

Pada perdagangan kemarin, IHSG terperosok cukup dalam sebesar 2,06% ke level 5.992,32 dengan pergerakan yang psimistis sejak awal sesi perdagangan. Saham-saham disektor indeks keuangan dan energi memimpin pelemahan indeks sektoral. 

Lanjar melihat investor mengambil langkah aman dari potensi capital outflow akibat komentar the fed mengenai masa depan stimulus pembelian aset yang akan berakhir lebih cepat, meskipun Bank Indonesia optimistis tapering the Fed tidak akan sebesar pada tahun 2013. 

Selain itu, pertumbuhan kredit yang masih belum cukup kuat sebesar 0,5% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi trigger negatif investor ke depan terhadap dampak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat yang berkelanjutan.

Berita Terkait