Belanja Vaksin COVID-19 Capai Rp11,72 Triliun, Kemenkeu Optimistis 65 Juta Dosis Tersedia

04 Agustus 2021 12:31 WIB

Penulis: Fachrizal

Editor: Laila Ramdhini

(Trenasia.com)

Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi capaian belanja vaksin COVID-19 yang ditengarai mencapai Rp11,72 triliun per 31 juli 2021. Nantinya, alokasi anggaran tersebut diproyeksikan untuk menyediakan  65,79 juta dosis vaksin.

Menurut Direktur Anggaran Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kemenkeu, Purwanto, pemerintah menyediakan anggaran sebesar Rp57,84 triliun untuk keseluruhan program vaksinasi, yang berasal dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp51,33 triliun dan Dana Alokasi Umum (DAU) ke daerah sebesar Rp6,51 triliun.

Anggaran tersebut tidak hanya digunakan untuk pengadaan vaksin, tetapi juga pengolahan informasi, distribusi, dan pelaksanaan vaksinasi. Pemerintah melalui DAU juga menganggarkan Rp1,96 triliun untuk insentif bagi vaksinator, termasuk TNI/Polri, bidan, dan tenaga perbantuan lain.

“Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) sudah menerbitkan surat edaran bahwa DAU atau DBH (Dana Bagi Hasil) bisa dipakai untuk penanganan vaksinasi. Di daerah, sampai 30 Juli 2021, anggaran untuk vaksinasi sudah terealisasi Rp575,24 miliar,” ujarnya dalam webinar Keterbukaan Informasi Publik di Jakarta, Selasa, 3 Agustus 2021.

Pemerintah pun menargetkan pada Agustus 2021 vaksinasi akan mencapai rata-rata dua juta dosis per hari. Saat ini, rata-rata vaksinasi harian masih berkisar pada satu sampai 1,5 juta dosis per hari.

Menurut Purwanto, vaksin yang sudah terdistribusi mencapai 86,25 juta dosis vaksin dari total 97,5 juta dosis vaksin yang berasal dari pengadaan pemerintah serta hibah. Sebagian vaksin, menurutnya, masih disimpan di gudang atau di PT Bio Farma.

Hingga 31 Juli 2021, vaksinasi yang sudah dilakukan mencapai 67,76 juta dosis yang terdiri dari 47,23 juta dosis pertama dan 20,53 juta vaksin dosis kedua.  

"Tapi perlahan-lahan kita menuju dua juta dosis vaksinasi per hari. Karena di sini kita bukan hanya bicara stok vaksin, tapi juga Sumber Daya Manusia (SDM)-nya. Untuk menyuntik, itu harus dilatih, yang sudah bisa juga mesti dilatih meski sebentar supaya terstandar dan tidak salah," kata Purwanto.

 

Berita Terkait