Raup Pendapatan Rp88,77 Miliar, Laba Bumi Resources Minerals (BRMS) Meroket 356,37 Persen

12 Agustus 2021 20:05 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Laila Ramdhini

Tambang Emas Citra Palu Minerals milik PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dari Grup Bakrie / Dok. Perseroan

JAKARTA – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mencatat lonjakan pendapatan dan laba bersih pada semester I-2021. 

 

Berdasarkan laporan keuangan interim, perseroan berhasil mencetak pendapatan sebesar US$6,12 juta atau setara Rp88,77 miliar (asumsi kurs Rp14.500 per dolar Amerika Serikat) per 31 Juni 2020. Angka ini melonjak 140,06% year-on-year (yoy) dari tahun lalu, Rp2,55 juta atau sekitar Rp16,98 miliar.

 

Hampir 60% dari pendapatan BRMS berasal dari penjualan produk emasnya ke para pembeli, di antaranya PT Aneka Tambang Tbk dan PT Bhumi Satu Inti. Sisanya, sekitar 40% dari pendapatan berasal dari jasa penasihat pertambangan terhadap Bellridge Holdings Limited.

 

 

Pada periode yang sama, perseroan membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebanyak US$4,27 juta atau setara Rp64,17 miliar. Nilai tersebut meroket hingga 356,37% secara tahunan dari periode yang sama tahun lalu, US$969.707 atau setara Rp14,06 miliar.

 

Direktur Utama dari BRMS Suseno Kramadibrata mengatakan konstruksi pabrik pengolahan bijih emas kedua perseroan di Palu masih sesuai jadwal untuk dapat diselesaikan pada Mei 2022. Pabrik baru ini akan memiliki kapasitas untuk mengolah sampai dengan 4.000 ton bijih per harinya. 

 

“Hal ini akan meningkatkan volume produksi emas kami secara signifikan pada semester kedua di tahun depan. Saat ini, kami masih memproduksikan emas dari pabrik pengolahan pertama dengan kapasitas pengolahan sekitar 500 ton bijih per hari sejak awal tahun 2020,” ujarnya, Kamis, 12 Agustus 2021,

 

Hingga Juni 2021, BRMS membukukan pendapatan lain-lain sekitar US$30 juta. Pendapatan lain-lain tersebut terdiri dari penghapusan utang, penilaian persediaan, serta penerimaan cicilan pelunasan piutang. 

 

Penghapusan utang merupakan pendapatan yang dicatat karena adanya penghematan biaya oleh perseroan yang terjadi karena dihapuskannya utang kepada salah satu kontraktor terkait dengan pekerjaan pembangunan pabrik pengolahan bijih emas di Poboya, Palu. 

 

Perseroan juga membukukan biaya sekitar US$29 juta di laporan laba rugi, yang merupakan pengurangan dari akun aset pajak tangguhan di laporan neraca. Akun aset pajak tangguhan tersebut merupakan kerugian pada anak usaha di masa lampau yang telah di kapitalisasi menjadi aset di laporan neraca.

 

Kerugian yang telah dikapitalisasi menjadi aset tersebut (dalam bentuk aset pajak tangguhan) harus seluruhnya di amortisasi (dihapuskan) sebagai biaya di laporan rugi laba dalam periode 5 tahun sejak pencatatannya.

Berita Terkait