Rasio Profitabilitas Merosot, Bank Permata Masih Mampu Kerek Laba Bersih 74,3 Persen pada Semester I-2021

14 September 2021 12:02 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Pelayanan konsumen di Bank Permata (TrenAsia)

JAKARTA – PT Bank Permata Tbk membukukan kinerja positif pada semester I-2021. Laba bersih emiten bersandi BNLI ini terbang 74,3% year on year (yoy) pada semester I-2021 meski rasio profitabilitas mengalami penurunan.

Laba bersih BNLI melesat dari Rp366 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp639 miliar pada semester I-2021. Direktur Keuangan Kusumawijaya mengatakan capaian ini cukup positif meski perseroan dikepung restrukturisasi hingga melemahnya net interest margin (NIM) pada paruh pertama tahun ini.

NIM Bank Permata ambles ke level 4,4% pada semester I-2021 dari sebelumnya 4,7% pada Desember 2020. Rupanya, raihan laba itu tidak lepas dari efisiensi yang dilakukan Bank Permata yang tampak dari menurunnya cost to income ratio.

Cost to income ratio menurun dari 57,5% pada semester I-2020 menjadi 58,7% pada Desember 2020, dan menukik jari 52,7% pada semester I-2021. “Meski kami lihat rasio NIM kami menurun, kami bisa melakukan efisiensi sehingga profitabilitas tetap terjaga,” jelas Lea dalam paparan publik virtual, Selasa, 14 September 2021.

Total aset Bank Permata ikut melesat 34,8% menjadi Rp213 triliun pada semester I-2021 dari sebelumnya Rp158 triliun pada semester I-2021. Membengkaknya aset Bank Permata didorong oleh moncernya penyaluran kredit segmen wholesale banking.

Penyaluran kredit segmen wholesale banking Bank Permata merangkak naik dari Rp52,7 triliun pada semester I-2020 menjadi RP73,7 triliun pada semester I-2021. Segmen ini berhasil menopang penyaluran kredit segmen retail yang menurun dari Rp48,4 triliun pada semester I-2020 menjadi Rp44,2 triliun pada semester I-2021.

Dengan begitu, penyaluran kredit Bank Permata tetap tumbuh 16,6% yoy. “Kredit kami menguat, diikuti oleh kondisi restrukturisasi kredit yang telah turun menjadi kurang dari 10% dari total kredit,” ucap Lea.

Kini, Bank Permata hanya menyisakan restrukturisasi kredit sebesar Rp11,8 triliun. Sebanyak 54,1% berasal dari segmen wholesale banking, 29,5% dari retail, dan 16,3% berasal dari segmen small medium enterprise (SME).

Kualitas aset, yang tampak dari non performing loan (NPL) gross di emiten berkode BNLI ini juga terdorong membaik. Total NPL gross BNLI menurun 43 basis poin (bps) menjadi 3,3% dari sebelumnya 3,7% pada semester I-2020.

Perseroan memprediksi dampak pandemi COVID-19 masih akan terasa hingga 2023. Sehingga, Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) terus ditingkatkan perseroan menjadi 218%.

“Mengingat dampak pandemi yang dampaknya diperkirakan masih terjadi hingga 2023, kami terus tingkatkan pencadangan meski begitu, likuiditas kami tetap kuat,” papar Lea.

Adapun penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Permata mengalami kenaikan 25% yoy menjadi Rp155,6 triliun. Lebih rinci, DPK itu didominasi dari dana murah atau CASA sebesar Rp80,3 triliun dan deposito Rp75,3 triliun.

Meski melebihi deposito, sejatinya komposisi CASA di Bank Permata melemah. Hal ini tampak dari rasio CASA yang parkir di level 51,5% pada semester I-2021 dari sebelumnya 52,1% pada semester I-2020.

Berita Terkait