Rasio Kredit Bermasalah BRI Memburuk, Segmen Mikro Paling Banyak Menyumbang

09 Agustus 2021 11:05 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Bank Rakyat Indonesia Kantor Cabang Tangerang, Kamis 29 Juli 2021. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan kinerja penyaluran kredit Rp929,40 triliun atau tumbuh 5% secara tahunan (year on year/yoy). Meski kinerja penyaluran meningkat, kualitas aset dari emiten pelat merah ini justru semakin memburuk.

Rasio kredit bermasalah (Non performing loan/NPL) BBRI tercatat selalu tumbuh sejak 2019. NPL BBRI pada kuartal II-2021 ini parkir di level 3,27%.

“Perhatian terbesar kami adalah kualitas aset. NPL terus meningkat kuartal ami melihat peningkatan NPL yang signifikan di segmen mikro,” ungkap Analis Mirae Asset Sekuritas Handiman Soetoyo dalam risetnya, Senin, 9 Agustus 2021.

Seperti diketahui, sebanyak 40,2% dari total penyaluran kredit BBRI berasal dari segmen mikro. Bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) ini menyalurkan sebanyak Rp366,56 triliun pada pelaku usaha mikro sepanjang semester I-2021.

Handiman menyebut kualitas aset di BBRI ini mesti diperbaiki. Apalagi, BRI menargetkan ekspansi segmen mikro untuk menguasai 45% dari total penyaluran kredit pada 2025.

BRI bakal mencengkram lebih banyak kredit mikro dengan mengandalkan dua entitas anak barunya, yakni PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM. Emiten bersandi BBRI ini bakal memimpin holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Ultra Mikro bersama Pegadaian dan PNM.

Adapun penyaluran kredit segmen kecil dan menengah tercatat sebesar Rp236,82 triliun. Lalu, penyaluran kredit segmen konsumer dan korporasi pada paruh pertama 2021 ini berada di angka Rp145,94 triliun dan Rp180,08 triliun.

“Segmen mikro ini menjadi yang terpukul cukup dalam karena pandemi COVID-19 sehingga mempengaruhi kualiatas aset BRI,” ucap Handiman.

Di sisi lain, restrukturisasi kredit akibat COVID-19 di BRI masih berjalan cukup lambat. Proses penyelesaian restrukturisasi kredit masih berjalan 20% menjadi Rp175,2 triliun dari sebelumnya Rp231 triliun.

Selain segmen mikro, korporasi juga menjadi batu sandungan BRI menggenjot kinerja. Perusahaan pelat merah, kata Hadiman, menjadi entitas korporasi yang menahan kinerja penyaluran kredit BRI.

“Segmen korporasi, terutama BUMN di sektor transportasi dan pertanian dan non-BUMN di industri tekstil juga meningkatkan pemburukan pada kualitas aset BRI,” tegas Handiman.

Untuk diketahui, BRI menjadi salah satu bank yang memberikan restrukturisasi terhadap PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) senilai Rp10 triliun. Di sisi lain, kinerja BRI yang tertahan juga dipengaruhi adanya lonjakan beban pencadangan yang tumbuh 97,6% yoy.

Beban Pencadangan 

Beban pencadangan BRI pada semester I-2021 ini sudah menembus Rp18,84 miliar. “Beban pencadangan ini membuat raihan laba bersih dan pendapatan tidak terdorong optimal,” jelas Handiman.

Padahal, BRI telah mengempeskan beban bunga yang terkorelasi 34,42% dari Rp18,60 triliun menjadi Rp12,20 triliun. Hal ini membuat pendapatan bunga BRI yang tumbuh tipis 9,21% yoy menjadi Rp58,55 triliun tidak terlalu terguncang oleh beban tersebut.

Maka, BRI membukukan pertumbuhan laba bersih (bank only) sebesar 22% yoy pada semester I-2021. Capaian in membuat laba per saham (earning per share) BBRI terbang dari Rp83 pada semester I-2020 menjadi Rp102 per lembar pada semester I-2021.

Ditinjau dari entitas tunggal, total aset BRI pada semester I-2021 ini tergelincir. Nilai aset BRI mengalami penurunan tipis dari Rp1.421,78 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp1.411,62 pada akhir Juni 2021.

Meski begitu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI masih berhasil tumbuh tipis 2,33% menjadi Rp1.096,45 triliun pada semester I-2021. Dana itu terdiri dari tabungan Rp461,70, giro sebesar Rp191,39 triliun, deposito Rp443 triliun. 

Adapun Capital adequacy ratio (CAR)  atau rasio kecukupan modal BRI per akhir Juni 2021 berada di level 19,98% atau dua kali lipat lebih tinggi dari batas bawah yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) sebesar 8%. Sementara likuiditas BRI masih terjaga dengan nilai Loan to deposit ratio (LDR)  84,77%.

Berita Terkait