Rasio Kecukupan Modal BSI Masih di Bawah Perbankan Konvensional

29 September 2022 09:01 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Ananda Astri Dianka

Aktivitas pelayanan perbankan di salah satu cabang BSI kawasan Gatot Subroto, Jakarta. (TrenAsia/Panji Asmoro)

JAKARTA - Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI, Hery Gunardi, mengakui bahwa rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) milik perusahaan masih berada di bawah perbankan konvensional.

Hery mengatakan bahwa saat ini rasio kecukupan modal berada di level 17,03% yang mana angkanya berada di bawah industri perbankan konvensional yang berada di posisi 24,41%.

"Ini kenapa kita mau right issue di kuartal IV-2022 ini untuk meningkatkan CAR kita mungkin ke atas 20 persen," ujar Herry dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XI DPR RI, Rabu, 28 September 2022.

Sebelumnya, melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), BSI mengungkapkan rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau right issue dengan menerbitakan enam miliar lembar saham seri B untuk menambah dana kredit yang disalurkan.

Nilai nominal yang ditawarkan BSI dalam aksi ini sebesar Rp500 perlembar saham dan akan diterbitkan dari portofolio perseroan serta dicatatkan di BEI sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

"Saham baru tersebut akan memiliki hak yang sama dan sederajat dalam segala hal, termasuk hak atas dividen dengan saham seri B perseroan lainnya yang telah ditempatkan dan disetor," tulis direksi BSI melalui keterbukaan informasi BEI, Selasa, 16 Agustus 2022.

Right issue ini akan dilaksanakan berdasarkan persetujuan pemegang saham perseroan dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) dan pernyataan pendaftaran perseroan yang akan disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Apabila pemegang saham tidak melaksanakan right issue, maka persentase kepemilikan saham atas perseroan akan berkurang hingga sebanyak-banyaknya 12,73%.

Right issue ini digelar BSI untuk menempati posisi 10 besar bank syariah global dengan aspirasi aset Rp500 triliun pada tahun 2025 dengan tingkat pengembalian ekuitas (return on equity/ROE) di atas 18%.

Untuk mencapai visi tersebut, perseroan pun berupaya melakukan ekspansi pertumbuhan secara organik dan anorganik.

BSI menargetkan pertumbuhan kredit dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) di atas 15% pada tahun 2025.

Dalam rangka mendukung rencana tersebut, perseroan membutuhkan tambahan modal agar rasio kecukupan modal perseroan dapat melampaui 20% pada akhir tahun 2025.

Berita Terkait