Ramai-Ramai Korporasi Sektor Komoditas Buyback Obligasi

15 September 2021 08:03 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Sukirno

Ilustrasi surat utang (obligasi) korporasi dan global bonds / Shutterstock (Shutterstock)

JAKARTA – Sejumlah emiten terpantau telah melakukan pembelian kembali (buyback) obligasi maupun sukuk yang telah diterbitkan selama tahun 2021. Berbagai alasan melatarbelakangi aksi korporasi tersebut.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna mengatakan, setidaknya terdapat dua perusahaan tercatat yang telah melakukan pembelian kembali surat utang sepanjang tahun ini. 

Kedua emiten tersebut adalah PT Timah Tbk (TINS) dan PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA). Adapun total nilai pembelian kembali obligasi yang berhasil direalisasikan sebesar Rp265,8 miliar.

“Sepanjang tahun 2021, terdapat dua perusahaan tercatat yang telah melakukan pembelian kembali surat utang dengan total nilai pembelian kembali Rp265,8 miliar,” ujarnya saat dihubungi TrenAsia.com, Selasa, 14 September 2021.

Berdasarkan catatan redaksi, ada dua emiten lainnya yang tengah berencana melakukan buyback dan/atau melunasi surat utangnya. Antara lain PT Medco Energi International Tbk (MEDC) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA).

Menariknya, empat emiten tersebut berbasis pada sektor komoditas. Lantas apa yang sebenarnya membuat perseroan getol melakukan pembelian kembali sejumlah obligasinya? 

Momentum Pertumbuhan Ekonomi

Perusahaan minyak dan gas (migas) milik konglomerat Arifin Panigoro, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) / Facebook @medcoenergi

Ekonom dan Praktisi Pasar Modal dari LBP Institute, Lucky Bayu Purnomo mengungkapkan beberapa faktor yang dapat melatarbelakangi aksi korporasi tersebut. Antara lain mulai membaiknya produk domestik bruto (PDB) nasional dan terkoreksinya sejumlah sektor komoditas.

Seperti diketahui, perekonomian Indonesia berdasarkan besaran PDB pada kuartal II-2021 melesat 7,07% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020 yang mengalami minus 5,32%.

Menurut Lucky, momen pertumbuhan ekonomi ini yang coba dimanfaatkan oleh perusahaan untuk melakukan penerbitan serta buyback obligasi, baik itu dalam bentuk surat utang, medium term notes (MTN), atau mandatory convertible bonds (MCB).

“Dasar PDB itu kan kenaikan produk dan jasa berdasarkan nilai. Berarti kalau PDB naik, nilai transaksi atas produk dan jasa mengalami peningkatan. Maka dari itu, instrumen pasar juga harusnya diapresiasi,” kata dia saat berbincang dengan reporter TrenAsia.com.

Selain itu, momen koreksi harga komoditas turut menjadi salah satu faktor perseroan mengambil langkah pembelian kembali surat utang. Lucky menganggap, kondisi ini merupakan kesempatan bagi emiten untuk melakukan add-on atau leveraging.

“Kebetulan leverage-nya itu diikuti oleh sentimen PDB. Jadi pasar saat ini sedang mencari posisi price in,” imbuhnya.

Buyback Obligasi dan Sukuk TINS Minim Subscriber

Gedung Timah, Gambir, Jakarta. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

PT Timah Tbk (TINS) telah mengumumkan realisasi buyback obligasi dan sukuk pada 26 Agustus 2021. Nominal efek yang berminat dijual oleh para investor hanya senilai Rp235,8 miliar dari total surat utang yang ingin dibeli kembali oleh perseroan sebanyak Rp1,287 triliun. 

Rinciannya, nominal efek yang ditawarkan perseroan untuk Obligasi Berkelanjutan I Timah Tahap I Tahun 2017 Seri B mencapai Rp720 miliar. Namun, nominal efek yang berminat untuk dijual oleh investor sebanyak Rp94 miliar.

Kemudian, nominal efek yang ditawarkan perseroan untuk Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Timah Tahap I Tahun 2017 Seri B senilai Rp180 miliar. Akan tetapi, nominal efek yang berminat untuk dijual oleh investor sebesar Rp62 miliar.

Terakhir, nominal efek yang ditawarkan perseroan untuk Obligasi Berkelanjutan I Timah Tahap II Tahun 2019 Seri A sejumlah Rp387 miliar. Di sisi lain, nominal efek yang berminat untuk dijual oleh investor hanya senilai Rp79,8 miliar.

Dengan demikian, perseroan hanya mendapatkan sekitar 18,32% dari total nilai buyback yang telah ditargetkan. Lucky menyebut minimnya subscriber dalam pelaksanaan pembelian kembali obligasi TINS dipengaruhi oleh fundamental perseroan.

Ia menilai, perseroan tidak boleh terlalu percaya diri dan harus lebih realistis dalam menentukan target buyback. Selain itu, perseroan tidak harus bergantung seutuhnya pada investor. Pasalnya, investor sendiri bersifat pragmatis. 

“Kapan ada untung, investor beli. Kalau tidak prospektif, maka tidak akan dibeli,” tutur dia.

Di sisi lain, lanjut Lucky, TINS sebagai perusahaan pelat merah memiliki kesempatan untuk mengajukan gagasan kepada Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mensiasati kepentingan fundamental keuangannya.

“Sebenarnya ini peran stakeholder antara korporasi dengan Kementerian BUMN,” tambahnya lagi.

Belum lama ini, emiten pertambangan timah itu memutuskan untuk tidak melakukan buyback obligasi dan sukuk secara keseluruhan. Faktor penyebabnya yakni dari sisi kupon dan keyakinan stakeholder.

Stakeholder yakin bahwa perseroan mampu melakukan pembayaran kupon,” ucap Direktur Keuangan Timah Wibisono pada konferensi virtual, 8 September 2021.

Surat Utang Pemerintah untuk Buyback

Ilustrasi surat utang negara (SUN). Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Selain perusahaan tercatat, pemerintah Indonesia sendiri memiliki rencana untuk melakukan pembelian kembali obligasi yang berada di pasar saat ini. Dananya berasal dari penerbitan surat utang dalam mata uang dolar asing alias global bonds.

Pemerintah Indonesia tengah memasarkan obligasi dalam mata uang dolar Amerika Serikat (AS) senilai US$600 juta dengan tenor 10 tahun dan menerbitkan obligasi dolar AS dengan tenor 40 tahun dengan initial price guidance masing-masing pada kisaran 2,5% dan 3,6%.

Mengutip laporan Bloomberg, Selasa, 14 September 2021, Indonesia disebut telah menggelontorkan dana miliaran dolar AS demi memulihkan perekonomian dalam negeri akibat pandemi COVID-19. 

Sedangkan, hasil penawaran obligasi global ini dinilai dapat membantu pemerintah melakukan pembelian kembali obligasi dolar AS yang jatuh tempo pada 2022 dan 2026 dengan total mencapai US$1,25 miliar. 

Rate Strategist Oversea-Chinese Banking Corp. Singapura, Frances Cheung menyebut strategi ini dilaksanakan untuk mendapatkan pendanaan jangka panjang sebelum adanya kenaikan imbal hasil atau yield.

“Kondisi tersebut seiring dengan penarikan sejumlah stimulus besar dari beberapa bank sentral utama di dunia,” ungkapnya.

Selain berdenominasi dolar AS, pemerintah Indonesia juga akan menerbitkan obligasi dalam mata uang euro. Bank of America, Citigroup, Credit Agricole, HSBC, and UBS menjadi joint bookrunners. Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas serta Trimegah Sekuritas bertindak sebgai co-managers.

Menanggapi hal tersebut, Lucky mengimbau agar pemerintah mesti berhati-hati dalam menentukan yield obligasi yang akan diterbitkan. Terlebih lagi, ia tidak menyarankan untuk melakukan buyback obligasi menggunakan dana APBN. Sebab, alokasi APBN sudah cukup ketat karena adanya pandemi.

“Jadi perlu diperhatikan yield-nya, jangan sampai tidak memberikan angka keekonomian di masa yang akan datang,” tutup Lucky.

Berita Terkait