Raih Laba Perdana Rp332,8 Miliar dalam 8 Tahun, Krakatau Steel (KRAS) Putuskan Absen Tebar Dividen

30 Juli 2021 11:15 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Rizky C. Septania

Gedung Krakatau Steel di kawasan Gatot Subroto Kuningan. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – Emiten pelat merah PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) memutuskan absen membagikan dividen atas perolehan laba tahun buku 2020. Perolehan laba bersih US$23,6 juta atau setara Rp332,8 miliar (asumsi kurs Rp14.105 per dolar Amerika Serikat) bakal dialokasikan sebagai dana cadangan perseroan.

“Perseroan menetapkan penggunaan laba bersih seluruhnya menjadi cadangan perseroan,” ungkap Direktur Utama (Dirut) Krakatau Steel Silmy Karim dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), dikutip Jumat, 30 Juli 2021.

Silmy mengungkap dunia usaha saat ini masih diliputi ketidakpastian akibat pandemi COVID-19. Kesiapsiagaan ini yang tengah dijaga perseroan agar tidak kembali mengulang kisah delapan tahun berturut-turut kerugian pada 2012-2019.

“Dunia saat ini masih menghadapi ketidakpastian, perseroan justru mampu meraih laba. Namun kita tetap perlu waspada menghadapi pandemi COVID-19 ini,” ucap Silmy.

KRAS berhasil berbalik untung setelah meraih kerugian hingga Rp7,1 triliun pada 2019. Silmy mengatakan efisiensi menjadi kunci utama KRAS dalam meraih laba bersih perdana pada 2020.

Pasalnya, pendapatan KRAS pada periode ini justru turun 5% year-on-year (yoy) dari Rp20 triliun pada 2019, menjadi Rp19 triliun pada 2020.

KRAS pada periode ini melakukan efisiensi di segala lini pengeluaran. Perusahaan mampu menurunkan biaya operasional sebesar 41% dari Rp Rp4,8 triliun pada 2019 menjadi Rp2,8 triliun pada 2020.  Penurunan ini terjadi pada biaya energi yang susut 46% menjadi Rp295 miliar, penurunan biaya utility sebesar 27% menjadi Rp564 miliar.

Sementara itu, biaya consumable dan sparepart masing-masing turun 61% dan 59% menjadi Rp230 miliar dan Rp65 miliar pada 2020. Selain itu, efisiensi juga tampak beban pokok pendapatan yang berhasil ditekan. Jika pada 2019 beban pokok pendapatan tercatat minus Rp19,7 triliun, pada periode ini nilainya lebih rendah, yakni minus Rp17 triliun.

Kemudian untuk total liabilitas, nilainya naik 3,14% yoy menjadi Rp42,7 triliun. Pada periode yang sama 2019, total liabilitas yang dibukukan sebesar Rp41,4 triliun.

Peningkatan ini juga terjadi pada total ekuitas, kenaikan sebesar 29,2% yoy dari Rp4,89 triliun pada 2019 menjadi Rp6,32 triliun pada 2020.

Adapun total aset KRAS masih tumbuh meski tipis, yakni Rp49 triliun atau meningkat 6,06% yoy dibandingkan dengan Rp46,2 triliun pada 2019.

Di tahun ini, KRAS membidik target pendapatan hingga Rp28 triliun atau 43% lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun buku 2020.

Berita Terkait