PUPR Tangani Ruas Jalan Palopo-Rantepao di Sulsel yang Tertimbun Longsoran

JAKARTA-Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah menangani bencana longsor di ruas jalan Kota Palopo-Rantepao, Sulawesi Selatan (Sulsel). Ruas jalan tersebut merupakan jalur vital pergerakan orang dan logistik yang menghubungkan kota pelabuhan Palopo dan pusat produksi pertanian di kawasan Toraja.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan dalam penangan darurat pihaknya akan membuatkan jembatan gantung untuk orang dan kendaraan roda dua, agar masyarakat tidak terisolir. Sementara, penanganan permanen akan akan dilakukan dengan membangun jembatan rangka baja.

“Melihat kontur topografi yang curam, kami menilai sulit untuk mengganti alinyemen jalan. Sehingga kita manfaatkan ruas jalan eksisting saja,” kata Basuki dalam keterangannya yang dirilis Kementerian PUPR pada Senin, 29 Juni 2020.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sulawesi Selatan Muhammad Insal menyampaikan Kementerian PUPR telah memobilisasi alat berat berupa excavator dan dump truck untuk membersihkan material longsoran yang menutup badan jalan.

“Untuk alat berat excavator dan loader dari arah Rantepao sudah ada dilokasi longsoran, sedangkan alat berat dari arah Palopo sedang melakukan pembersihan timbunan tanah di lokasi longsor,” jelas Insal.

Insal mengatakan Pekerjaan perbaikan jalan akan ditangani dengan paket preservasi jalan dan jembatan batas Sulawesi Barat-Makale-Rantepao-Batas Kota Palopo.

Dia menuturkan, kronologis indikasi akan terjadinya longsor sudah mulai terlihat sejak 8 April 2020 dengan adanya retakan melintang pada perkerasan aspal dan lokasi sekitarnya.

“Pada tanggal 10 April 2020 terjadi penurunan badan jalan sedalam 0,20 meter. Pada 14 April 2020 elevasi penurunan badan jalan mencapai -1,00 meter. Penurunan badan jalan terus terjadi hinga mencapai -2,80 meter pada 18 Juni 2020,” ungkap Insal.

Dengan struktur tanah yang labil serta dipicu hujan intensitas tinggi, alhasil terjadi longsor pada Jumat, 26 Juni 2020. Longsor tersebut menyebabkan arus lalu lintas dari arah Kota Rantepao dan Kota Palopo terputus pada KM 366+500 karena tertimbun longsoran pada badan jalan sepanjang 50 meter dan menimbulkan retakan badan sepanjang 25 meter ke arah Kota Palopo.

Selain itu, ruas jalan yang berada di bagian bawah tepatnya di KM 368 juga ikut tertimbun material longsoran sehingga tidak bisa dilewati kendaraan. Akibat longsor tersebut dilaporkan sebanyak enam unit rumah warga terbawa longsor yang sejak awal penurunan sudah ditinggalkan pemiliknya. Sekitar 40 kendaraan terjebak diantara longsoran.

Tags:
infrastrukturlongsorPUPRpusat produksi pertanianSulawesi Selatan
wahyudatun nisa

wahyudatun nisa

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: