PUPR Berikan 25 Unit Rumah Khusus Bagi Korban Bencana Sumsel

May 08, 2020, 10:08 PM UTC

Penulis: wahyudatun nisa

Rumah khusus untuk warga yang terdampak bencana di bantaran Sungai Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan. / Dok. Kementerian PUPR

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memberikan bantuan 25 unit rumah khusus (rusus) bagi warga yang terdampak bencana di bantaran Sungai Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatra Selatan.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan pemberian rusus ini sesuai dengan instruksi presiden untuk menjamin keberadaan empat sektor utama dalam masa pandemi COVID-19 ini, yaitu pangan, kesehatan, logistik, dan pelayanan dasar.

“Rusus merupakan salah satu jenis pelayanan dasar dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan terdampak bencana,” kata Basuki dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2020.

Basuki menjelaskan para penerima manfaat direlokasi ke rusus bertipe 28 meter persegi yang dibangun di Kelurahan Pelangki, Kecamatan Muaradua, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. Rusus ini memiliki satu ruang keluarga, dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan dapur.

Kementerian PUPR juga melengkapi rusus tersebut dengan fasilitas pendukung seperti jaringan listrik, instalasi air bersih, serta jalan lingkungan yang tertata dengan baik. Bantuan ini senilai Rp3,25 miliar.

Basuki berharap bantuan ini dapat meningkatkan kualitas hidup para penerima manfaat dengan menyediakan rumah yang layak huni dan sehat.

Adapun, program rusus merupakan salah satu upaya Kementerian PUPR demi memenuhi kebutuhan rumah bagi kelompok masyarakat tertentu seperti nelayan, guru, tenaga medis, TNI/Polri, petugas di daerah perbatasan dan pulau terpencil, serta pemukiman kembali korban bencana.

Bupati Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Popo Ali menyatakan bantuan rusus ini sangat membantu masyarakat untuk memiliki dan tinggal di rumah yang lebih layak huni.

“Selama ini mereka tinggal di rumah yang kondisinya sangat tidak layak huni karena berada pada pinggiran sungai. Tentunya hal itu tidak baik untuk kesehatan dan dapat terjadi banjir sewaktu-waktu serta longsor sehingga membahayakan masyarakat yang tinggal di sana,” jelasnya. (SKO)