Punya Segmen Pasar Besar, Pemerintah Dorong Hilirisasi Industri Pengolahan Porang

29 Agustus 2021 17:06 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Sukirno

Presiden Jokowi saat meninjau fasilitas pabrik pengolahan porang PT Asia Prima Konjac, Kamis, 19 Agustus 2021. Foto: BPMI Sekretariat Presiden/Laily Rachev (Setkab.go.id)

JAKARTA -- Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mendorong hilirisasi industri pengolahan porang. Komoditas ini sedang tumbuh dan memiliki segmen pasar domestik dan pasar internasional yang cukup besar.

"Kami memproyeksikan porang bisa menjadi salah satu komoditas pertanian unggulan baik di dalam maupun luar negeri. Peluang ini datang karena sebagian masyarakat telah beralih ke pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan yang lebih sehat," ujar Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika dalam keterangan resmi, Sabtu, 28 Agustus 2021.

Dia mengatakan, kebijakan hilirisasi industri berbasis agro dilakukan untuk memacu nilai tambah bahan baku dalam negeri. Termasuk membawa dampak positif bagi peningkatan investasi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja sehingga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.

"Pendalaman struktur industri manufaktur di Indonesia juga diakselerasi melalui kebijakan hilirisasi berbasis sektor primer. Hal ini sejalan tekad Kemenperin dalam mewujudkan pembangunan industri nasional yang mandiri, berdaulat, maju, berkeadilan dan inklusif," katanya.

Menurut Putu, pengembangan industri pengolahan porang patut menjadi prioritas karena didukung dengan ketersediaan bahan baku di dalam negeri dan memiliki segmen cukup besar di pasar domestik.

Tentu, diperlukan upaya harmonisasi dari sektor hulu hingga hilirnya, termasuk untuk menjaga keberlangsungan produktivitas porang dengan kualitas yang sesuai standar kebutuhan industrinya.

"Kami akan fokus untuk peningkatan hilirisasinya, mulai dari chip porang sampai pada berbagai produk turunannya seperti tepung dan beras yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat. Dalam pengembangan ini, kami akan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, dan melakukan pembinaan terhadap industrinya agar bisa produktif dan kompetitif," tandasnya.

Bermitra dengan Swasta

Putu mengatakan, pihaknya telah melakukan diskusi langsung dengan dua pemain utama industri pengolahan porang, yakni PT Asia Prima Konjac di Madiun dan PT Ambico beralamat di Pasuruan, Jawa Timur.

"Kemarin (Jumat) kami melakukan kunjungan kerja di kedua pabrik itu untuk pendalaman, terutama terkait teknologi dan inovasi yang perlu dikembangkan. Sebab, ini akan menjadi keunggulan produk kita dalam bersaing di kancah internasional," katanya.

Dalam kesempatan itu, Direktur Asia Prima Konjac, Revie Christianto menyampaikan, pihaknya memproduksi chip porang dan tepung porang dengan total kapasitas penggunaan bahan baku porang sebanyak 80 ton per hari.

Terakhir, Asia Prima sudah mengekspor produk chip porang sebanyak 2.500 ton ke China pada tahun 2020. Selain itu juga memiliki lahan porang seluas 3,5 hektare yang berada dalam kawasan perusahaan.

"Kami sedang melakukan ekspansi untuk meningkatkan kapasitas produksi, dari 80 ton per hari akan menjadi 180 ton per hari pada tahun 2022 untuk memproduksi beras porang dan tepung porang. Jadi, nanti ada tambahan dua lini dengan masing-masing kapasitas 50 ton per hari," ujar Revie.

Dia berharap, pemerintah memiliki penyusunan standar produk olahan porang dan penerbitan regulasi yang dapat mendukung pengembangan industri pemurnian glukomanan, serta akses teknologi yang efektif dan efisien untuk pemurnian glukomanan.

"Kami selaku investor dalam negeri, ingin serius mengembangkan bisnis ini. Kami berharap sektor ini menjadi prioritas dan mendapat dukungan dari pemerintah," ucapnya.

Jadi Komoditas Ekspor

Presiden Joko Widodo juga telah mengunjungi  pabrik pengolahan porang milik PT Asia Prima Konjac dalam kunjungan kerjanya ke Madiun,19 Agustus 2021 lalu.

Melihat potensi luar biasa yang dimiliki perusahaan tersebut, dia pun meminta Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk menjadikan porang sebagai komoditas ekspor andalan baru di Tanah Air.

Menurut Jokowi, porang merupakan komoditas baru yang dapat memberikan nilai tambah yang baik, tidak hanya bagi perusahaan pengolah porang tetapi juga kepada para petani porang.

"Saya sudah menyampaikan kepada Menteri Pertanian untuk betul-betul kita seriusi komoditas porang," katanya.

Berdasarkan data yang tersedia, dalam satu hektare lahan dapat menghasilkan 15 hingga 20 ton porang. Pada musim tanam pertama pun para petani dapat menghasilkan hingga Rp40 juta porang selama 8 bulan.

Jokowi berharap komoditas porang ini dapat diekspor tidak hanya dalam bentuk mentahan dan barang setengah jadi, namun sudah dalam bentuk beras porang.

"Insyaallah nanti tahun depan sudah akan menjadi barang jadi yaitu menjadi beras porang," ungkapnya.*

Berita Terkait