Punya 6 Subholding Terintegrasi, Pertamina Optimistis Valuasi Tembus US$100 Miliar

12 September 2021 06:05 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Sukirno

Presiden Joko Widodo beserta Ibu Negara Iriana meninjau kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, pada Sabtu, 21 Desember 2019. Kawasan TPPI tersebut akan dikembangkan menjadi industri petrokimia nasional yang menghasilkan beragam produk turunan petrokimia dan produk Bahan Bakar Minyak (BBM). Turut mendampingi Presiden Jokowi dan Ibu Negara saat meninjau kilang TPPI adalah Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Selain itu hadir pula Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama, Presiden Direktur PT TPPI Yulian Dekrie dan Direktur Utama PT Tuban Petro Sukriyanto. / Foto: BPMI Setpres/Kris

JAKARTA – Holding minyak dan gas PT Pertamina (Persero) membidik target nilai pasar alias valuasi US$100 miliar setara Rp1,4 kuadriliun melalui enam subholding yang dibangunnya. Nilai pasar tinggi itu diperkirakan bisa tercapai pada 2024.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebut potensi untuk menggenggam pasar global semakin terbuka lebar. Apalagi, dirinya menyebut Pertamina punya valued added sehingga punya daya saing tinggi.

“Buktikan kepada dunia, Indonesia juga bisa punya perusahaan yang valuasi-nya mencapai US$100 miliar. Kita bisa, dan saya yakin legacy ini untuk kita semua. Saya memastikan transformasi akan tetap berjalan, karena ini bagian terpenting buat kita sebagai bangsa besar. Tidak mungkin kita akan terus menjadi bangsa besar kalau tidak ada ketahanan energi,” imbuh Erick dalam peresmian enam subholding Pertamina, Jumat, 9 September 2021.

Adanya subholding ini dinilai Direktur Utama (Dirut) Pertamina Nicke Widyawati semakin mempertajam visi global perseroan. Dirinya menyampaikan subholding yang sudah ada sejak 2018 ini terus mengalami peningkatan entitas dan kinerja.

Selain itu, Nicke juga menyebut perseroan bakal terus mendukung komitmen paris agreement yang diteken pemerintah pada 2015. Pasalnya, Pertamina merupakan satu-satunya perusahaan pelat merah yang bisnis di bidang energinya terintegrasi dari hulu ke hilir.

“Bagaimana cara kita melaksanakan? Kita membagi kapal besar Pertamina dengan membuat 6 kapal-kapal kecil yang kita sebut Subholding. Ada yang bertugas hari ini. Ada yang bertugas untuk transisi menjajaki di laut yang berbeda. Dan ada yang harus berpindah kapalnya di lautan sebelah,” ujarnya.

Subholding Upstream, Subholding Refining & Petrochemical dan Subholding Commercial & Trading difokuskan untuk menggenjot bisnis berkelanjutan. Untuk itu, Nicke menyebut Pertamina sebesar 55% di lini bisnis eksisting tersebut, karena Indonesia memiliki cadangan yang harus dioptimalkan.

Sementara itu, Subholding Gas akan bergerak ke tengah untuk mengelola energi transisi dari fosil fuel ke new and renewable energy, yakni gas dengan porsi dalam bauran energi tetap di angka 22% hingga 25%.

Nicke memprediksi ada peningkatan permintaan energi hingga lima kali lipat dalam 10 tahun ke depan. Maka dari itu, dirinya telah menyiapkan pipa gas sepanjang 24.000 kilometer dan terpanjang di Asia Tenggara untuk menggarap sektor ini.

Adapun untuk Subholding Power & NRE telah bergerak menuju energi terbarukan. Saat ini, pemerintah telah memulai integrasikan geothermal, yang nantinya kapasitas terpasang ketiga terbesar di dunia. Ke depan, Pertamina akan mengintegrasikan antara hulu geothermal dengan hilir yakni petrokimia.

Untuk mendukung kelima Subholding tersebut, Pertamina memiliki Subholding Integrated Marine Logistic. “Subholding ini harus ada di masa kini, di masa transisi dan di masa depan. Apapun energinya, kita tetap membutuhkan transportasi laut yang terintegrasi,” jelas Nicke.

Sementara itu, Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama mengatakan strategi yang ditempuh perseroan melalui subholding ini semakin menimbulkan optimisme peningkatan kinerja. Tantantanya, perusahaan pelat merah ini harus melakukan transformasi Sumber Daya Manusia (SDM) yang menjadi eksekutor setiap rencana bisnis perseroan.

 “Pengelolaan SDM juga semakin membaik. Kami mendukung terus transformasi organisasi dan pengelolaan SDM, termasuk dengan memastikan adanya sistem penilaian dan pemberian remunerasi Pekerja yang adil dengan berbasis kinerja (performance based), saya bilang Pertamina paling top,” jelas Ahok, sapaan akrab Basuki.

Berita Terkait