“Pulau Emas” yang Lama Hilang Muncul Kembali di Sungai Musi

01 November 2021 21:28 WIB

Penulis: Amirudin Zuhri

Editor: Amirudin Zuhri

Sungai Musi (Travel Indonesia)

JAKARTA-Sisa-sisa "Pulau Emas" yang telah lama hilang  mungkin telah ditemukan di Sungai Musi dekat Palembang. Dan tentu saja ada emas mengalir di dasar sungai.

Penyelam yang menyelidiki dasar sungai berlumpur dilaporkan telah mengangkat ratusan patung, lonceng kuil, peralatan, cermin, koin, dan keramik. Mereka juga telah menemukan gagang pedang emas dan cincin emas dan batu delima, guci berukir, kendi anggur, dan seruling berbentuk seperti burung merak.

Harta karun ini semuanya menunjuk pada satu hal bahwa para ilmuwan telah menemukan kota Sriwijaya yang hilang. Sebuah kerajaan  yang pernah menjadi pelabuhan kaya dan kuat di sepanjang rute perdagangan laut antara Timur dan Barat.

Sriwijaya  menguasai Selat Malaka antara pertengahan 600-an dan 1025, ketika perang dengan dinasti Chola India menghancurkan kekuatan kota. Sejak saat itu, pengaruh Sriwijaya menurun, meskipun perdagangan di sana berlanjut selama dua abad. Pangeran terakhir Sriwijaya, Parameswara, berusaha untuk mendapatkan kembali kendali atas perdagangan di wilayah tersebut pada tahun 1390-an, tetapi ia dikalahkan oleh pasukan dari kerajaan terdekat di Jawa; setelah itu, Sriwijaya dan sekitarnya menjadi surga bagi bajak laut China.

Hari ini hampir tidak ada jejak yang tersisa dari masa kejayaan Sriwijaya kecuali artefak berkilauan yang ditarik oleh para penyelam dari sungai. 

Tidak ada penggalian arkeologis resmi yang pernah dilakukan di dalam atau di sekitar sungai. Artefak dijual ke kolektor pribadi di pasar barang antik global. “Itu berarti bahwa bahkan ketika artefak muncul kembali, akhirnya menunjuk ke lokasi Sriwijaya hampir tidak ada bukti fisik seperti apa kehidupan sehari-hari di sana,” kata Sean Kingsley, seorang arkeolog kelautan dan editor majalah Wreckwatch di mana dia baru-baru ini menulis tentang Pulau Emas yang hilang. 

"Kami mulai dari titik nol," kata Kingsley kepada Live Science Senin 1 November 2021. “Seperti masuk ke sayap museum, kosong sama sekali. Orang-orang tidak tahu pakaian apa yang dipakai orang Sriwijaya, apa seleranya keramiknya,  apa yang mereka suka makan, semua tidak ada. Kami tidak tahu apa-apa. tentang mereka."

Dunia air

Penelitian arkeologi sebelumnya di sekitar Palembang, Indonesia, kota Sumatra di dekat tempat Sriwijaya pernah berdiri hanya menemukan petunjuk kecil tentang pelabuhan yang dulu kaya,  candi bata dan beberapa prasasti. Sebagian besar informasi tentang kota berasal dari orang asing yang menulis tentang perjalanan mereka ke Sriwijaya. 

“Para pedagang dan pengunjung ini menggambarkan dunia layaknya "Lord of the Rings" karya J.K. Rowling yang menggambarkan binatang -binatang dan tempat fantastis, " kata Kingsley. 

Mereka menulis tentang gunung berapi yang menyemburkan asap dan api, ular pemakan manusia, burung beo yang bisa meniru bahasa Hindi, Yunani, dan Arab, dan pelaut bersenjata lengkap yang bersedia menyerang kapal apa pun yang mencoba lewat tanpa memasuki Sriwijaya. Kisah-kisah ini memberikan gambaran tentang tempat itu, tetapi sering kali dibuat sensasional dan mengungkapkan sedikit tentang kehidupan sehari-hari di kota pelabuhan.

Menurut laporan tahun 2006 oleh arkeolog Prancis Pierre-Yves Manguin selama abad ke-10 penguasa Sriwijaya membangun kuil Buddha di China dan India. Penghormatan kota kepada China tersebut juga mengisyaratkan kekayaannya, baik yang dihasilkan sendiri maupun yang diperoleh melalui perdagangan.  

Sementara menurut laporan tahun 2019 yang diterbitkan oleh Australian National Centre of Excellence for Maritime Archaeology kota ini memberikan gading, patung kristal, parfum, mutiara, koral, dan cula badak. 

Kingsley mengatakan Sriwijaya memiliki sumber daya alam lokal yang sangat kaya,  termasuk tanaman yang diinginkan seperti kayu cendana dan kapur barus. Dan kemudian ada emas, endapan yang terbentuk secara alami dan  terkikis di Sungai Musi.

Bagaimana peradaban yang begitu kaya bisa lenyap tanpa jejak? Satu kemungkinan yang mungkin adalah bahwa Sriwijaya sebagian besar terdiri dari struktur kayu yang dibangun tepat di atas sungai. Gaya arsitektur dunia air ini masih terlihat di beberapa sungai di Asia Tenggara hingga saat ini. 

Rumah-rumah dibangun di atas rakit dan diikat menjadi semacam kota terapung. Dengan demikian menurut Kingsley sebagian besar struktur Srijivaya akan membusuk dalam beberapa generasi dan hanya meninggalkan mungkin beberapa tiang dan tunggul.

“Juga ada kemungkinan bahwa peristiwa geologis, yang mungkin terkait dengan aktivitas vulkanik Sumatera dapat mengubur situs Sriwijaya,” kata Kingsley.

Hilangnya Sriwijaya

Tanda-tanda bahwa Sungai Musi mungkin menyimpan rahasia Sriwijaya pertama kali muncul pada tahun 2011, ketika pekerja konstruksi mulai mengeruk pasir dari Musi untuk proyek konstruksi besar. 

Artefak berkilauan muncul bersama pasir, membuat banyak pekerja lokal dan nelayan bekerja menjadi penyelam dengan menggunakan alat sederhana dan memeriksa dasar sungai dengan batang besi. 

John Miksic, seorang profesor studi Asia Tenggara di Universitas Nasional Singapura dalam makalah yang dipresentasikan pada 2012 di konferensi Asosiasi Arkeolog Asia Tenggara Eropa menyebut metode amatir ini sering menyebabkan kerusakan pada artefak yang lebih rapuh, seperti porselen. Beberapa artefak yang rusak Artefak termasuk patung perunggu Buddha, manik-manik kaca,  dan timbangan yang mungkin digunakan oleh pedagang.

Menurut laporan Australia 2019 antara 2011 dan 2015, sejumlah besar artefak yang kemungkinan berasal dari masa kejayaan Sriwijaya muncul di pasar barang antik di Jakarta. Ini adalah penemuan Sungai Musi yang paling berharga, tulis Miksic pada 2012 — benda-benda dengan nilai komersial yang rendah dan dijual secara lokal di sekitar Palembang. "Saya pikir penjarahan mungkin masih berlangsung," tulis Miksic dalam email ke Live Science. 

Kingsley mengatakan ada hambatan besar untuk penggalian sistematis Sungai Musi. Indonesia mendapat kritik internasional pada awal 2000-an setelah dua kapal karam besar abad kesembilan dan ke-10 ditemukan dan dijual.  Yang pertama bangkai kapal Belitung, ditemukan pada tahun 1998 dan berakhir dengan selamat di Museum Peradaban Asia di Singapura. 

Sementara artefak kedua, yang dikenal sebagai bangkai Cirebon, dilelang oleh pemerintah Indonesia. Para arkeolog yang khawatir menyerukan agar artefak-artefak itu disimpan. Menanggapi reaksi tersebut, pemerintah kemudian menyimpan sekitar 10% artefak dan mengeluarkan moratorium arkeologi bawah air pada tahun 2010. “Tidak ada yang yakin berapa banyak artefak yang disimpan masih di negara ini,” kata Kingsley.

Moratorium dan kurangnya sumber daya yang dikhususkan untuk warisan budaya di Indonesia berarti bahwa survei arkeologis resmi di Musi akan sulit. Sayangnya, moratorium tidak melindungi artefak Sungai Musi, kata Kingsley.

"Nelayan tidak berhenti memancing dan mereka tidak berhenti menemukan," katanya. "Hanya sekarang, mereka bahkan lebih tidak mungkin melaporkan temuannya kepada pihak berwenang. Jadi arkeologi bawah air bergerak di bawah tanah, dan pasar gelap berkembang pesat."

Mungkin belum terlambat bagi pemerintah atau kolektor kaya untuk masuk dan membeli artefak untuk dipamerkan di museum untuk bisa dilihat semua orang. "Ini adalah peradaban besar terakhir yang hilang yang tidak pernah didengar siapa pun," kata Kingsley. "Ada kewajiban untuk menyelamatkannya dari pelupaan."

 

 

Berita Terkait