PT Timah Serius Jajaki Garap Tanah Jarang, Saat Ini Masih Tahap Eksplorasi

08 September 2021 13:43 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Amirudin Zuhri

Gedung Timah, Gambir, Jakarta. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – Anggota holding tambang MIND ID, PT Timah Tbk (TINS), kembali memaparkan keseriusannya dalam menjajaki pertambangan logam tanah jarang atau yang juga disebut rare earth minerals.

Sekretaris Perusahaan TINS Abdullah Umar menjelaskan pertambangan tanah jarang ini membutuhkan proses yang panjang. Abdullah mengatakan pihaknya sendiri masih dalam tahap eksplorasi untuk menambah inventori.

Rare earth ini kan mineral ikutan. Kita utamanya bukan mencari rare earth-nya tetapi mencari timah kemudian hasil ikutannya kita kumpulkan sebagai inventori,” ujar Abdullah dalam paparan publik, Rabu, 8 September 2021.

Selain melakukan eksplorasi, TINS juga sedang mencari partner untuk memproses tanah jarang ini. Pengolahan tanah jarang memang membutuhkan proses panjang dengan teknologi tinggi. TINS pun sedang mencari partner yang sudah memiliki teknologi terbukti.

“Prosesnya panjang dari rare earth-nya itu sendiri, kemudian dipecah menjadi oxide, dari oxide kemudian dipecah lagi menjadi logam, kemudian sampai jadi magnet,” jelas Abdullah.

TINS pun juga mencari partner yang berpengalaman dalam sisi lingkungan juga. Ini karena tanah jarang di Indonesia mengandung unsur radioaktif seperti uranium dan torium.

Beberapa waktu sebelumnya, pihak TINS sempat mengungkapkan akan menggandeng perusahaan dari Eropa untuk menggarap logam tanah jarang yang hasilnya dapat dimanfaatkan untuk bahan baku perlengkapan berteknologi tinggi ini.

Meski begitu, TINS belum bisa mengungkapkan nama perusahaan yang akan menjadi partner tersebut hingga saat ini. TINS berpotensi menjadi salah satu perusahaan penghasil logam tanah jarang ini karena logam tersebut merupakan mineral ikutan timah.

TINS mengestimasi dibutuhkan kemampuan produksi pengolahan monasit untuk menghasilkan logam tanah jarang sebesar 1.000 ton sampai 2.000 ton per tahun.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam buku “Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia” sempat mencatat Indonesia sendiri memiliki potensi sumber daya logam tanah jarang sebesar 72.579 ton setelah penelitian di beberapa wilayah.

Sumber daya logam tanah jarang tersebut berasal dari endapan plaser dan endapan lateritik. Endapan plaser banyak dijumpai di lokasi pengolahan timah seperti Kepulauan Riau, Bangka Belitung, dan daerah selatan Kalimantan Barat.

Sementara, endapan lateritik dapat ditemukan di wilayah-wilayah seperti Parmonangan, Tapanuli, Sumatra Utara; Ketapang, Kalimantan Barat; Taan, Sulawesi Barat; dan Banggai, Sulawesi Tengah.

 

Berita Terkait