PSBB Diperketat, Pizza Hut Andalkan Gerai Luar Mal

15 September 2020 13:12 WIB

Penulis: wahyudatun nisa

Mitra ojek online melintas usai mengambil pesanan di Gerai Pizza Hut, Jakarta, Kamis 2 Juni 2020. Pemegang lisensi terbesar dari waralaba restoran Pizza Hut di Amerika Serikat, NPC International Inc., mengajukan bangkrut akibat penjualan yang anjlok drastis selama pandemi virus corona atau Covid-19. Namun demikian, PT Sarimelati Kencana, pengelola gerai Pizza Hut di Indonesia masih mengantongi laba Rp 6,04 miliar sepanjang kuartal I 2020. Jumlah ini turun 85% dibandingkan periode sama tahun 2019 yang mencapai Rp 40,18 miliar. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Perusahaan waralaba (franchisee) Pizza Hut Indonesia, PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) menggenjot penjualan gerai di luar mal. Hal ini dilakukan seiring dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) total di Jakarta.

Sekretaris Perusahaan Sarimelati Kencana Kurniadi Sulistyomo mengatakan perseroan akan mengurangi pembukaan gerai di mal. Perseroan akan lebih memfokuskan penjualan di gerai yang berada di luar mal.

“Penerapan PSBB di Jakarta tentu merupakan kemunduran bagi proses recovery bisnis restoran dan ekonomi secara keseluruhan. Kami mengerti alasannya dan akan tetap mendukung keputusan pemda DKI Jakarta,” kata Kurniadi di Jakarta, Senin, 14 September 2020.

Untuk mendongkrak kinerja gerai yang berada di mal, Kurniadi menyebutkan perseroan akan menggenjot penjualan daring melalui kerjasama dengan Grab dan Gojek serta melakukan berbagai promosi untuk menarik pelanggan.

Dengan demikian, dampak penerapan PSBB terhadap penjualan emiten bersandi saham PZZA itu pada kuartal ketiga tahun ini diharapkan tidak akan terlalu besar. Perlu diketahui, sebanyak 35% hingga 40% dari total gerai yang dimiliki oleh PZZA berada di wilayah DKI Jakarta.

“Kami tidak akan menutup kegiatan outlet di Jakarta. Pembatasan kali ini masih memperbolehkan layanan pesan antar atau delivery dan take away,” jelas Kurniadi.

Selama enam bulan terakhir, Kurniadi mengaku konsumen memang cenderung memilih delivery maupun take away. Kendati demikian, pendapatan dari dine in atau makan di tempat masih lebih besar dari itu.

Kurniadi menyampaikan perseroan akan tetap menjalankan rencana ekspansi meski ada pengetatan PSBB di Jakarta. Perseroan akan melanjutkan rencana pembukaan gerai Pizza Hut dengan sangat berhati-hati dan tidak seagresif sebelumnya.

“Ada sekitar 10 pembukaan outlet baru lagi. Yang paling dekat adalah Duri Riau, Pasar Kemis dan Martapura,” ujar Kurniadi.

Di sisi lain, perusahaan waralaba ini juga akan merevisi sejumlah target yang sudah direncanakan. Perseroan berharap ada keringanan pajak baik dari pemerintah pusat untuk pajak penghasilan (PPh) korporasi dan PPh gaji karyawan.

Menurut Kurniadi, jika tarif pajak restoran (PB1) juga dapat diringankan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, maka setidaknya dapat menambah stimulus daya beli masyarakat.

Berita Terkait