Proyek Kereta Cepat Sudah 79,9 Persen, Jokowi Target Rampung Akhir 2022

18 Januari 2022 01:10 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Sukirno

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau konstruksi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung di dua lokasi di Bekasi, Jawa Barat, Selasa, 18 Mei 2021. (Tangkapan Layar Youtube Setkab/TrenAsia)

JAKARTA -- Presiden Joko Widodo menargetkan megaproyek kereta cepat Jakarta-Bandung (KCJB) bisa rampung akhir tahun ini. Dia berharap proyek raksasanya yang dibangun sejak 2015 tersebut sudah bisa beroperasi tahun depan.

"Sampai saat ini, secara keseluruhan Kereta Cepat Jakarta-Bandung telah diselesaikan 79,9 persen, yang kita harapkan nantinya di akhir tahun 2022 ini sudah bisa diuji coba dan kemudian pada bulan Juni 2023 bisa kita operasionalkan," katanya ketika melakukan Peninjauan Pintu Masuk Tunnel 2 Proyek KCJB di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Senin, 17 Januari 2022.

Kepala Negara menegaskan bahwa pengerjaan proyek KCJB merupakan bagian dari upaya untuk mengurangi kemacetan. Tidak hanya di Jakarta dan sekitarnya, melainkan juga di Bandung, Jawa Barat.

Tidak hanya itu, proyek yang dikerjakan oleh konsorsium kereta cepat Indonesia-China (KCIC) ini diharapkan mampu meningkatkan mobilitas masyarakat dan angkutan logistik sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

"Dan kita harapkan ini menjadi sebuah daya saing yang baik bagi negara kita," tukasnya.

Jokowi menjelaskan bahwa dalam pengerjaannya, proyek KCJB memang mengalami beberapa kendala atau hambatan.

Selain kendala pembebasan lahan yang membuat biaya proyek membengkak hingga US$8 miliar setara Rp113,7 triliun, proyek KCJB terkendala masalah tekstur tanah sehingga membutuhkan pengerjaan yang lebih lama dan ekstra hati-hati.

Lambatnya pengerjaan proyek tersebut terjadi di Terowongan 2 sebagaimana dilaporkan oleh Direktur Utama KCIC Slamet Riyadi, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri PUPR Basuki Hadimuldjono.

"Utamanya di Terowongan 2 ini memang berjalannya agak lambat, karena memang jenis tanah yang ada di sini memang memerlukan kerja yang penuh kehati-hatian," ungkap mantan Gubernur DKI Jakarta.

Asal tahu saja, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dikerjakan oleh PT Konsorsium Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) yang terdiri dari dua konsorsium dengan investasi US$6,07 miliar setara Rp86,24 triliun.

Konsorsium Indonesia membentuk perusahan patungan bernama PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dengan saham 60%. Sementara, konsorsium China dipimpin oleh Beijing Yawan HRS Co. Ltd (40%).

Konsorsium Indonesia terdiri dari empat Badan usaha Milik Negara (BUMN), yaitu PT Kereta Api Indonesia (Persero); PT Wijaya Karya (Persero) Tbk; PT Jasa Marga (Persero) Tbk; dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII. 

Baru-baru ini, KAI telah sebagai pemimpin konsorsium telah menerima dana Penyertaan Modal Negara (PMN) dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebesar Rp4,3 triliun.

Dana talangan tersebut akan dipakai untuk memperkuat ekuitas perusahaan yang mengalami negatif akibat terpaan pandemi.

Penunjukan KAI sebagai pemimpin konsorsium dipayungi oleh Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 93 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Kereta Cepat antara Jakarta dan Bandung.

Berita Terkait