Prospek Pasar Modal Cerah, IHSG Akhir Tahun Diprediksi Lebih Bergairah

06 September 2021 15:45 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Laila Ramdhini

Pewarta mengamati layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Jum’at, 20 November 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Pasar modal Indonesia diproyeksikan lebih bergairah di sisa akhir tahun ini. Sejumlah analis memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemungkinan besar meningkat pada kuartal IV-2021.

CEO Sucor Sekuritas Bernardus Setya menjelaskan proyeksi kinerja pasar modal dalam negeri lebih baik pada kuartal terakhir 2021, karena tren ekonomi global yang menunjukkan sebagian besar negara keluar dari zona resesi akibat pandemi COVID-19, tak terkecuali Indonesia. 

Ia mengatakan secara konsensus PDB Indonesia mencapai 4% tahun ini. Proyeksi yang cukup signifikan setelah minus 2% pada 2020. Selain itu, optimisme muncul karena dana asing yang masuk ke pasar modal Indonesia cukup kuat pada 2021 dibandingkan dengan tahun lalu.

Pada periode Februari – Desember 2020, Bursa didominasi dengan penjualan bersih saham oleh investor asing. Puncaknya pada September 2020, di mana asing net sell Rp15 triliun. Sedangkan, total pembelian asing pada tahun lalu hanya terlihat pada Mei dengan nilai di bawah Rp10 triliun.

Berbeda dengan tahun ini, pembelian saham oleh investor asing sangat dominan dengan nilai terbesar terjadi pada Januari mencapai lebih dari Rp10 triliun. Hal itu pun berlanjut dalam kurun waktu empat bulan terakhir yang mendorong geliat IHSG.

“Kita optimistis mengalami recovery setelah kita mengalami kontraksi yang dalam akibat COVID-19 yang terjadi sejak 2020. Kami melihat IHSG di kisaran Rp6.600 - Rp6.800 di akhir tahun,” ujar Bernad dalam seminar yang diselenggarakan oleh D’Origin dan IGICO Advisory, dikutip Senin, 6 September 2021.

Harga Komoditas Dorong IHSG

Bernardus menilai menguatnya sektor komoditas akan menjadi salah satu pemicu menggeliatnya IHSG. Apalagi Indonesia merupakan salah satu pemasok komoditas terbesar di dunia. Sebagai contoh, harga batu bara naik 86,02% per akhir Juli 2021 dan pada bulan ini harganya mencapai US$175 per ton, tertinggi sejak 2018. 

Pun demikian dengan harga timah yang naik 74,16% dan nikel 18,02%. Di dalam negeri, optimisme pasar pun terdorong dengan keberhasilan pemerintah menekan laju COVID-19 Varian Delta dan memasifkan program vaksinasi. Hal itu lantas memutar kembali roda perekonomian lebih kencang. 

Bernardus memberi gambaran, memasuki semester kedua utamanya pada September biasanya merupakan bulan berdarah bagi IHSG. Data menyebutkan, pada bulan tersebut pada periode 2018-2020 IHSG masuk zona merah. 

Kendati demikian, data dari 2017-2020, pada Oktober IHSG selalu di zona hijau dan satu tahun di zona merah. Ia menyebut pasar pada September memang volatile termasuk pada 2021. Tetapi hal itu adalah kesempatan bagus untuk melirik melihat saham apa yang berpotensi dikoleksi ke depan.

Oleh karena itu, menurutnya, investor tak perlu khawatir menghadapi kondisi pasar di akhir tahun karena kecenderungan pasar yang bullish lebih besar.

“Pada Agustus ada short rally dari tanggal 1-18 digerakan emiten big caps. Dan kami yakin blue chip pada kuartal 4 cukup menarik diperhatikan. IHSG mengalami kenaikan dari Oktober sampai Desember ditopang blue chip biasanya,” papar dia.

Adapun pada periode 1-18 Agustus, emiten big caps yang menggerakkan penaikan IHSG dan persentase kenaikan harga sahamnya adalah, BBCA (10,55%), BBRI (9,7%), ASII (10,7%), TLKM (5,56%), BMRI (6,14%), SMGR (22,4%), BBNI (13,49%), INTP (27,27%), BRPT (16,49), dan CPIN (7,21%).

Pemulihan Ekonomi

Optimisme yang sama diungkapkan pula oleh Mentor of BBK Trading Tools Feyara. Menurutnya, apa yang diungkapkan Bernardus menimbulkan optimisme yang kuat di pasar modal Indonesia. Selain itu, optimisme terdorong pula stimulus pemerintah untuk meningkatkan pemulihan ekonomi.

“Ada realisasi Program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) 2021 yang realisasinya 43,9% yaitu Rp326 triliun. Kemudian peningkatan ekonomi triwulan kedua year-on-year sekitar 7%,” ujarnya.

Pemerintah melalui PEN, kata dia, mendorong tingkat konsumsi yang akan menggerakkan sektor rumah tangga pada akhir tahun. Feyara pun menekankan, dorongan pemerintah atas investasi di sektor publik akan memicu sentimen positif di pasar modal pada kuartal terakhir 2021.

Senada, Vice President Samuel Sekuritas Indonesia, M. Alfatih mengatakan pandemi COVID-19 memang menjadi fenomena yang memukul ekonomi termasuk pasar modal paling keras jika dibandingkan dengan isu global lain sebelumnya. 

Sebut saja Tapering 2013, Brexit, US mini recession, ataupun fenomena perang dagang AS-Tiongkok semasa Presiden Donald Trump berkuasa di Amerika Serikat. Pandemi COVID-19 menurutnya membuat harga pasar keluar dari up channel range-nya yang ada sejak 2012. 

“Dan sekarang sedang mencoba untuk kembali dalam up channel nya dengan menembus resisten dari 2018 sebelum dia lanjut tren naiknya. Dan tren naiknya optimisnya sih Rp8.000, untuk periode beberapa tahun ke depan,” kata dia dalam kesempatan yang sama. 

Oleh karena itu, seperti alasan-alasan yang sudah dijelaskan Bernardus, Alfatih turut memperkirakan harga IHSG berada di kisaran Rp6.800 di pada akhir kuartal keempat 2021, dengan support level Rp5.800 - Rp6.000.

Skema Elliot Wave

Sementara itu, Founder B-Trade TC yang juga Elliot Wave expert Wijen Pontus menjelaskan proyeksi IHSG melalui dua skenario yang dianalisis dengan skema Elliot Wave. 

Skenario pertama dan yang kemungkinan besar terjadi adalah skenario sangat optimistis. IHSG akan break pada level Rp6.200 hingga Rp6.400 dalam jangka waktu sekitar satu bulan ke depan. Bagi Wijen, hal itu merupakan level resistensi yang cukup penting.

“Karena saya sangat optimistis maka saya gunakan skenario pertama ini sebagai skenario yang mungkin terjadi. Begitu break di Rp6.200-Rp6.400 entah minggu depan atau Oktober skenario ini confirm, IHSG artinya akan bullish setahun ke depan. Target kita tahun depan IHSG ke level Rp6.800 sampai Rp7000,” ujarnya optimistis.

Kendati demikian, dia menyebut ada skenario kedua yakni IHSG menyentuh level Rp6.100 dalam waktu dekat. Sehingga pada akhir tahun IHSG kembali di kisaran Rp5.800. 

Walaupun demikian, lanjut dia, pasar tak perlu khawatir karena ini adalah kesempatan untuk mengoleksi saham incaran karena harga saham cenderung melandai. Jika demikian, menurutnya, indeks komposit akan kembali naik pada akhir 2022.

Saham Syariah Ikut Naik

Di sisi lain, kondisi perekonomian 2021 yang lebih baik pun dinilai akan ikut mengatrol harga saham syariah. Founder Syariah Saham Asep Muhammad Saepul Islam atau dikenal dengan Mang Amsi, bahkan menandai emiten-emiten pilihan yang masuk dalam saham syariah yang kinerjanya akan moncer hingga akhir tahun ini.

“Ada beberapa saham yang bisa dijadikan alternatif untuk tiga bulan atau empat bulan terakhir di 2021 dengan berkaca pada kinerja pada semester I/2021 dibandingkan periode sama tahun lalu. Misalkan PTBA, UNTR, KLBF, INKP, BTPS dan CTRA,” ujarnya.

Ia mengatakan pihaknya fokus pada saham syariah yang likuid, dengan pendapatan dan laba yang naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian return of equity (ROE) yang terjaga baik, dan price to book value (PBV) yang wajar serta price earning (PER) yang normal dari beragam sektor industri.

Berita Terkait