Prospek Ekonomi Usai Pandemi 2021 (Serial 3): Neo Bank hingga NPL Jadi Tantangan Perbankan

January 06, 2021, 05:05 AM UTC

Penulis: Aprilia Ciptaning

Prospek ekonomi Indonesia 2021. Ilustrasi Grafis: Azka Yusra/TrenAsia

JAKARTA – Prospek ekonomi 2021 diperkirakan bakal lebih baik ketimbang tahun sebelumnya. Pukulan telak di industri perbankan akibat pandemi akan pulih seiring dengan peningkatan aktivitas masyarakat.

Seperti diketahui, ambruknya bisnis yang dirasakan oleh hampir seluruh sektor ekonomi telah mempengaruhi kinerja fungsi intermediasi perbankan.

Di tengah pandemi, permintaan kredit terus melemah, sementara itu bank juga memiliki kewajiban untuk merestrukturisasi kredit. Hal ini mengakibatkan ekspansi perbankan makin sulit dijalankan.

Prospek pemulihan dari industri ini pun diperkirakan sangat tergantung pada perkembangan vaksin COVID-19. Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan menyebut, keberjalanan dari implementasi vaksin akan menjadi tolok ukur kebangkitan ekonomi ke depan.

Menurutnya, jika distribusi vaksin berjalan lancar, maka masyarakat tidak akan ragu-ragu untuk beraktivitas seperti sedia kala.

“Selama ini kinerja bank melemah itu karena tidak ada demand dari masyarakat dan korporasi. Jadi, kalau implementasi vaksin bisa maksimal, aktivitas ekonomi diyakini akan bergerak,” ungkap Abdul kepada TrenAsia.com, Sabtu, 2 Januari 2021.

Selain itu, optimisme pemulihan ekonomi juga bergantung dari dorongan proyek pemerintah akan pembiayaan dan infrastruktur. Meskipun demikian, Abdul menyebut kondisi perbankan di Tanah Air masih stabil dan terjaga.

Ini terlihat dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang melaporkan permodalan atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan sebesar 24,19 %. Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) per November 2020 juga tumbuh relatif tinggi sebesar 11,55% year-on-year (yoy). Adapun total kredit baru yang disalurkan mencapai Rp146 triliun.

Namun, yang menjadi tantangan adalah pelunasan kredit dan hapus buku yang masih tercatat lebih besar sehingga mengakibatkan kredit terkontraksi -1,39% (yoy). Kemudian, untuk rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) secara gross tercatat sebesar 3,18%, dan NPL net 0,99%.

Rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid/DPK per 16 Desember 2020 terpantau pada level 157,39% dan 34,14%. Angka tersebut menunjukkan level di atas threshold masing-masing, yakni sebesar 50% dan 10%.

Ke depan, OJK pun memproyeksi kredit hanya tumbuh kurang lebih di kisaran 6%-7%. Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, pertumbuhan kredit belum bisa mencapai kondisi normal karena bank masih harus memperbaiki penurunan portofolio yang terjadi pada 2020.

“Untuk bisa mencapai target pertumbuhan kredit tersebut, seluruh stakeholder harus berupaya menciptakan demand dengan mendorong sektor-sektor prospektif,” ungkapnya dalam agenda Outlook Ekonomi 2021 di Jakarta, akhir Desember 2020.

Menaksir angka lebih tinggi, Bank Indonesia (BI) lebih optimistis dengan target pertumbuhan kredit sebesar 7%-9% pada 2021. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pemulihan tersebut akan berjalan seiring dengan respons kebijakan moneter yang akan terus dilanjutkan.

Terlebih, kebijakan restrukturisasi kredit juga diperpanjang hingga 2022. Keputusan ini diharapkan bisa membantu debitur bank yang keuangannya belum pulih alias masih terdampak secara ekonomi.

Perry Warjiyo dalam konferensi video pada Selasa, 24 Maret 2020 yang disiarkan melalui kanal YouTube Bank Indonesia
Kredit Membaik, NPL Terjaga

Sementara itu, dari sisi perbankan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk melihat pertumbuhan industri keuangan pada 2021 akan bergantung pada keberhasilan pemerintah dalam mendapatkan vaksin yang tepat.

Selain itu, faktor lain juga dipengaruhi oleh penyerapan anggaran stimulus pemerintah. Jika hal ini bisa direalisasikan, aktivitas ekonomi akan meningkat, baik individu, rumah tangga dan korporasi. Dampaknya pun akan dirasakan secara sektoral, termasuk perbankan.

“Terkait fungsi intermediasi perbankan, kami memperkirakan pertumbuhan kredit 2021 sebesar 5 persen,” ungkap Corporate Secretary Bank Mandiri Rudi As Aturridha saat dihubungi TrenAsia.com.

Di samping itu, pihaknya juga akan melanjutkan kebijakan restrukturisasi kredit bagi nasabah. Rudy mengaku, hal ini tidak akan mempengaruhi secara signifikan terhadap kredit macet perseroan. Sampai dengan November 2020, rasio NPL Bank Mandiri tercatat sebesar 3,4%.

“Pada 2021, kami melihat kecenderungan NPL akan tetap terjaga di kisaran 3,4 sampai 3,5 persen,” kata dia.

Fokus perseroan nantinya akan diarahkan pada sektor infrastruktur strategis yang saat ini masih berjalan, seperti proyek jalan tol dan transportasi. Selain itu, fast moving consumer goods (FMCG) dan telekomunikasi juga masih menjadi sektor andalan.

Sementara itu, bank pelat merah lain yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI memproyeksikan pertumbuhan kredit sebesar 6% pada 2021. Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto bilang, perpanjangan restrukturisasi kredit akan memberi ruang bagi bank untuk membantu penyelamatan debitur, khususnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang bisnisnya masih terdampak pandemi.

“Kami pun memproyeksikan NPL pada 2021 tetap terjaga di kisaran 3%. Angkanya masih di bawah NPL industri perbankan nasional,” ungkapnya.

BRI, lanjutnya, telah melakukan berbagai strategi dalam menjaga NPL, yakni intensif memonitor kualitas kredit debitur dan melakukan penagihan dengan tetap memperhatikan prinsip prudential banking.

Sebagai langkah antisipatif, Aestika menyebut pencadangan kredit telah disiapkan oleh perseroan dengan rasio NPL coverage di atas 200%. Tiga sektor utama yang menjadi fokus BRI, yakni sektor pertanian, pangan dan kesehatan.

Di samping itu, BRI akan menjaga komposisi kredit UMKM minimal 80% pada 2021. Aestika mengungkapkan, ini merupakan bagian untuk mendorong pertumbuhan kredit lewat skema penjaminan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Untuk mencapai target itu, BRI akan memaksimalkan penggunaan aplikasi proses kredit secara digital melalui BRIspot, referal dari agen BRLink, serta mendorong kemitraan dengan financial technology (fintech) maupun e-commerce.

Karyawan menunjukkan mata uang Rupiah di salah satu tempat penukaran uang atau Money Changer di kawasan Melawai, Jakarta, Senin, 9 November 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
Tren Restrukturisasi Kredit Menurun

Terkait hal ini, Abdul menilai restrukturisasi kredit yang diberikan oleh bank kepada debitur akan memperlihatkan sejauh mana perseroan bisa mempertahankan likuiditas atau kinerja keuangannya. Di sisi lain, tren permintaan restrukturisasi dari masyarakat pada 2021 dianggap akan menurun.

“Tidak akan banyak seperti sebelumnya. Sebab, rendahnya permintaan kredit pada 2020 otomatis juga akan berpengaruh pada penurunan restrukturisasi kredit,” ujar Abdul.

Pasalnya, kata dia, restrukturisasi kredit yang diberikan pada 2020 oleh bank, dilakukan untuk memperbaiki kredit debitur yang diajukan sebelum pandemi. Dengan demikian, jika permintaan kredit rendah, maka tren restrukturisasi kredit 2021 pun akan mengikuti volume permintaan pada 2020.

Adapun restrukturisasi perbankan yang dilakukan sampai 9 November 2020, realisasinya mencapai Rp936 triliun. Data OJK memperlihatkan sebanyak 7,5 juta debitur telah menerima kelonggaran tersebut. Rinciannya, sebanyak 5,8 juta debitur UMKM senilai Rp371,1 triliun, dan 1,7 juta debitur berasal dari non-UMKM senilai Rp564,9 triliun.

Ilustrasi pungutan pajak layanan digital hingga e-commerce / Shutterstock
Kemunculan Neo Bank

Abdul juga memprediksi, ke depan tren “Neo Bank” akan muncul seiring dengan pesatnya perkembangan bank digital. Nama Neo Bank atau Oke Bank sendiri, jelasnya, merupakan istilah yang kerap dipakai untuk menyebut model bank di mana operasionalnya dapat dilakukan secara virtual alias tanpa harus memiliki kantor perusahaan.

Biasanya, bank tersebut dibentuk dan berasal dari grup percakapan platform daring, salah satunya WhatsApp. Apabila ke depan tren tersebut muncul di Indonesia, ini memungkinkan kinerja bank jadi lebih efisien.

“Oke Bank tak ubahnya seperti financial digital.  Jadi, collecting money-nya berdasarkan himpunan grup,” tambahnya.

Keunggulannya selain efisien, terangnya, penciptaan Oke Bank juga dimanfaatkan untuk memperbaiki interaksi antara bank dengan nasabah. Selain itu, pelayanan juga lebih cepat karena menggunakan aplikasi yang bekerja secara otomatis, sehingga ini bisa mengurangi biaya tambahan.

Kemudian terkait akurasi, sistem bank digital juga akan melibatkan tekonologi credit scoring. Dengan memanfaatkan big data dan artificial intelligence, pihak bank dapat menganalisis riwayat dan behavior nasabah secara online dan lebih tersistematis. Hal ini menjadi inovasi dari penerapan prinsip kehati-hatian.

Selain itu, Oke Bank juga memungkinkan perbankan untuk menjangkau lebih luas nasabah baru yang selama ini masih unbankable. Di sisi lain, secara tidak langsung tren ini berkontribusi dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan digital masyarakat.

“Prospek ke depan semuanya akan mengarah ke digital,” ungkap Abdul. Bank pun, lanjutnya, mesti melihat kehadiran teknologi ini sebagai solusi sehingga diharapkan bisa mendorong untuk menciptakan sistem yang andal dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. (SKO)

Artikel ini merupakan sambungan dari serial Prospek Ekonomi Usai Pandemi 2021 sebelumnya:

  1. Prospek Ekonomi Usai Pandemi 2021 (Serial 1): Kilau Investasi RI di Tahun Kerbau Logam
  2. Prospek Ekonomi Usai Pandemi 2021 (Serial 2): Panen Cuan di Pasar Modal, Tren Bullish Bikin IHSG Diramal Tembus 7.250