Prospek Ekonomi Usai Pandemi 2021 (Serial 1): Kilau Investasi RI di Tahun Kerbau Logam

January 04, 2021, 05:05 AM UTC

Penulis: Ananda Astri Dianka

Vaksin COVID-19 mendorong IHSG di pasar modal / Wray.sk /Fox Business

JAKARTA – Setelah melewati tahun tikus logam alias 2020 yang penuh lika-liku, perekonomian nasional bersiap menata peruntungannya di tahun bershio kerbau logam saat ini.

Menurut ahli Fengsui, Ferry Wong, shio kerbau terlahir dengan unsur tanah sedangkan 2021 memiliki unsur logam atau emas. Sehingga, kedua unsur ini saling memengaruhi sepanjang 2021.

Berdasarkan analisisnya, industri yang akan beruntung sepanjang 2021 adalah asuransi, perdagangan daring, telekomunikasi, industri kesehatan, serta semua aktivitas yang berbasis digital.

“Sebaliknya, bisnis yang kurang menguntungkan tahun ini adalah transportasi, pariwisata, ritel modern, properti, industri otomotif, dan peternakan,” kata Ferry saat berbincang dengan reporter TrenAsia.com baru-baru ini.

Terlepas dari proyeksi ilmu Fengsui, perekonomian tahun ini memang memiliki sejumlah bahan bakar untuk kembali bergerak normal. Seperti misalnya vaksin dan kebijakan strategis ekonomi.

Dengan bekal tersebut, pemerintah percaya diri mematok pertumbuhan ekonomi bisa tembus pada rentang 4,5%-5,5%. Sejumlah lembaga internasional juga tak kalah optmistis dari pemerintah yang mematok pertumbuhan ekonomi nasional 2021 berada pada kisaran 4,5% sampai 5,5%.

Tahun 2021 adalah Shio Kerbau Logam / id.pinterest.com
2021 Bertabur Optimisme Ekonomi

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 4% pada 2021. Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan 5,3% , selanjutnya, Bank Dunia menaksir ekonomi tumbuh hingga 4,4%.

Kemudian, Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memproyeksikan ekonomi nasional tumbuh 6,1% pada tahun depan. Sementara Bloomberg memprediksi ekonomi Indonesia berkisar 5,6% pada 2021. Bank Dunia menaksir pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 4,4%.

Terbaru, laporan prospek ekonomi terbaru dari Oxford Economics, bersama the Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi nasional bisa tembus 6%.

Pertanyaannya, bagaimana Indonesia bisa mencapai seluruh proyeksi ekonomi tersebut?

Vaksin COVID-19/ Reuters
Efek Domino Vaksin COVID-19

Disebut sebagai game changer, kehadiran vaksin COVID-19 tak terelakkan menyulut optimisme tak hanya bagi pengendalian pandemi, melainkan juga pemulihan ekonomi. Apabila vaksinasi sudah terealisasi, kepercayaan, dan rasa aman masyarakat termasuk pelaku usaha akan kembali hidup.

Kondisi tersebut bakal membuat mobilisasi masyarakat lebih leluasa sehingga aktivitas perekonomian bisa berangsur normal. Dengan begitu, konsumsi masyarakat akan terungkit dan pada akhirnya mampu menyuntikkan ‘vaksin’ terhadap perekonomian nasional.

Jangan heran, peranan konsumsi masyarakat terhadap produk domestik bruto (PDB) memang sangat besar. Dalam lima tahun terakhir, rerata kontribusinya mencapai 56,2% dari total PDB nasional.

Jika kapasitas konsumsi masyarakat kembali besar, maka momentum dunia usaha untuk meningkatkan kapasitas produksinya akan melebar. Hingga pada gilirannya, geliat perekonomian akan memancing kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya.

Menurut Staf Khusus III Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Arya Mahendra Sinulingga, setiap kenaikan investasi sebesar 1% akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,3%. Lalu, pada setiap 0,3% kenaikan pertumbuhan ekonomi, penciptaan kesempatan kerja rata-rata sebesar 0,16%.

“Hingga, setiap 0,3 persen kenaikan pertumbuhan ekonomi akan menyerap sekitar 75.000 tenaga kerja,” kata Arya dalam publikasi resmi, Senin, 28 Desember 2020.

Dengan banyaknya tenaga kerja yang terserap, maka penghasilan masyarakat turut terangkat dan kembali lagi kepada peningkatan daya beli alias konsumsi masyarakat dan seterusnya.

Senada dengan Ferry Wong, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan terdapat beberapa industri yang masih jadi primadona di mata investor. Beberapa industri tersebut adalah makanan dan minuman, logam dasar, otomotif, serta elektronik.

Petugas medis mengambil sampel saat melakukan ujicoba cepat (rapid test) Drive Thru kepada pengemudi angkutan umum di halaman kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin, 20 April 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
Industri Farmasi

Tak ketinggalan, industri farmasi dan alat kesehatan juga bersiap untuk menjadi ladang baru para investor. Bukan tanpa alasan, industri ini memang sangat relevan dan menjadi salah satu motor bagi banyak aspek kehidupan semenjak pandemi COVID-19.

Akhir tahun lalu, pemerintah menyuntikkan dana sebesar Rp2 triliun kepada holding BUMN Farmasi, PT Bio Farma (Persero). Hal ini sebagaimana tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2020 yang ditetapkan Presiden Joko Widodo pada 30 Desember 2020.

Dalam beleid tersebut, pemerintah menetapkan penambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) ke dalam modal saham Bio Farma. PMN tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2020.

Injeksi dana tersebut mendanai pengadaan vaksin COVID-19, serta peningkatan, dan pengembangan layanan kesehatan.

Selain itu, Kementerian Perindustrian menargetkan realisasi penanaman modal di sektor industri manufaktur mencapai Rp323,56 triliun.

“Investasi akan menjadi faktor penggerak pertumbuhan sektor industri pada 2021,” kata dia pada Konferensi Pers Akhir Tahun 2020 di Jakarta.

Pemurnian emas di smelter
Proses pemurnian emas di smelter. / Foto: Khushie Singh-Columbia.edu
Industri Tambang

Belakangan, industri tambang, khususnya nikel memang tengah naik daun. Sejak produsen mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla kabarnya bakal membangun pabrik baterai di Indonesia.

Tak mengherankan mengapa CEO Tesla, Elon Musk berniat bangun pabrik baterai lithium di Indonesia. Alasannya, Data United States Geological Survey (USGC) membuktikan, hingga 2019, Indonesia masih memiliki cadangan bijih nikel sebanyak 21 juta ton dengan produksi 800.000 ton.

Sementara pada tahun yang sama, Wood Mackenzie memperkirakan, kebutuhan nikel dunia bakal meningkat dari 2,4 juta ton pada 2019 menjadi 4 juta ton pada 2040.

Harta karun ini tak hanya dilirik Tesla. Teranyar, perusahaan electric vehicle (EV) battery atau baterai kendaraan listrik asal Korea Selatan, LG Energy Solution Ltd sudah meneken kerja sama dengan pemerintah Indonesia.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menandatangani Nota Kesepahaman kerja sama proyek investasi bernilai US$9,8 miliar. Investasi ini bergerak di bidang industri sel baterai kendaraan listrik terintegrasi dengan pertambangan, peleburan (smelter), pemurnian (refining) serta industri prekursor dan katoda.

“Indonesia akan naik kelas dari produsen dan eksportir bahan mentah menjadi pemain penting pada rantai pasok dunia untuk industri baterai kendaraan listrik,” kata Bahlil, 30 Desember 2020.

Ilustrasi penanaman modal asing di Indonesia turun akibat wabah virus corona. / Pixabay
Tren Global Investasi

Investasi ini memang sangat menjanjikan. Alasannya, tentu sejalan dengan upaya negara-negara di dunia untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi karbon dioksida (CO2). Banyak negara juga mencanangkan penerapan kendaraan listrik sebanyak 15%-100% dari total kendaraan yang beredar.

Diperkirakan, pada 2040 terdapat 49 juta unit kendaraan listrik (electric vehicle) atau sekitar 50% dari total permintaan otomotif dunia. Selain itu, beberapa pabrikan mulai mengalihkan lini produksi kendaraan konvensionalnya menjadi kendaraan listrik, yaitu antara 20%-50% dari total produksinya.

Adapun target penerapan kendaraan listrik di dunia akan terus meningkat secara bertahap. Dalam rentang tahun 2020-2030 negara-negara Asia akan mulai menerapkannya.

Antara lain China (8,75 juta unit kendaraan), Thailand (250.000 unit kendaraan), Vietnam (100.000 unit kendaraan). Malaysia (100.000 unit kendaraan), serta India (55.000 unit mobil listrik dan 1 juta unit motor listrik).

Sementara itu, target penerapan kendaraan listrik Indonesia pada tahun 2035 adalah 4 juta unit mobil listrik dan 10 juta unit motor listrik.

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan bersama Menteri BUMN, Erick Thohir saat berkunjung ke UAE / Dok. Kementerian BUMN
Investasi adalah Kunci

Pada gilirannya, investasi memang berperan mendorong petumbuhan ekonomi. Laporan JP Morgan yang bertajuk “Make Indonesia Great Again” memproyeksikan investasi Tanah Air akan baik tahun ini. 

Head of Indonesia Research  & Strategy JP Morgan Henry Wibowo memprediksi aliran FDI ke Indonesia pada 2021 menyentuh rekor tertingginya.

“Kami sangat optimistis,” katanya mengutip laporan resmi, Senin, 4 Januari 2020.

Henry menjelaskan, UU Ciptaker serta aturan turunannya yang akan terbit pada Februari 2021 menjadi faktor utama masuknya aliran investasi di Indonesia.

Senjata lainnya adalah pembentukan lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Sovereign Wealth Fund (SWF) yang juga tertuang dalam UU sapu jagad.

Adapun, modal awal yang digelontorkan pemerintah mencapai US$5 miliar atau setara Rp75 triliun. Dana tersebut berasal dari ekuitas APBN 2021 sebesar US$2 miliar dan transfer aset BUMN sebesar US$3 miliar.

Sementara, rencana investasi dari investor lokal dan asing yang ditargetkan mencapai US$15 miliar-US$20 miliar. Saat ini, prospek yang telah datang berasal dari United States International Development Finance Corporation sebesar US$2 miliar dan Bank Jepang US$4 miliar.

Tak melulu mengandalkan investasi, pemerintah juga mendongkrak perdagangan antarnegara. Contohnya, penandatanganan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) oleh 15 negara Asia Pasifik.

Penelitian Center for Indonesia Policy Studies (CIPS) mengatakan, Indonesia berpotensi meningkatkan ekspor hingga 7,2% melalui RCEP. Lima tahun sejak ratifikasi, potensi ekspor diprediksi meningkat 8%-11%.

Selain faktor-faktor di atas, kebijakan fiskal pemerintah turut memegang peranan penting bagi pemulihan ekonomi tahun ini. Dalam RAPBN 2021, Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 mencapai Rp356,4 triliun.

Anggaran tersebut untuk Perlindungan Sosial (Rp110,2 triliun), Insentif Usaha (Rp20,4 triliun), Pembiayaan Korporasi (Rp14,9 triliun), Sektoral Kementerian/Lembaga dan Pemda (Rp 136,7 triliun), UMKM (Rp48, 8 triliun) dan Kesehatan (Rp25,4 triliun). (SKO)

Artikel ini akan bersambung ke bagian kedua terbit berikutnya berjudul “Prospek Ekonomi Usai Pandemi 2021 (Serial 1)”