Prospek Digitalisasi, Perusahaan Properti Rambah ke Bisnis Data Center

22 September 2021 18:00 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Rizky C. Septania

Begitu besarnya potensi ekonomi digital di Indonesia membuat perusahaan rintisan alias startup cukup menggiurkan bagi investor lokal dan asing / Shutterstock

JAKARTA - Potensi bisnis data center di Indonesia disebut meningkat seiring dengan digitalisasi yang terus berkembang.

“Indonesia baru saja memasuki era baru pengembangan data center di mana permintaan pemain lokal dan internasional mulai muncul,” mengutip hasil riset dari Savills Indonesia, Rabu, 22 September 2021.

Selain pertumbuhan ekonomi digital, permintaan pusat data center ini juga didorong oleh regulasi yang dianggap sudah lebih baik.

Sementara itu, proyek pusat data center sendiri sebagian besar masih terkonsentrasi di wilayah Jabodetabek. Namun, ke depan permintaan yang meningkat ini juga mendorong kota-kota besar lainnya seperti Surabaya, Bandung dan Bali untuk ikut membangun pusat data center.

Adapun kapasitas daya diperkirakan sebesar 130 Mega Watt (MW) untuk kawasan 120.000 m2. Sebagian besar operator menawarkan pilihan hosting terkelola dan model layanan cloud.

Saat ini, pemain pusat data center utama di Indonesia masih didominasi pemain lokal. Di sektor properti, tercatat pengembang kawasan berbasis industri Kota Deltamas, PT Puradelta LestariTbk (DMAS) mendapat permintaan lahan industri yang cukup luas, yakni sebesar 70 hektare (Ha).

Perseroan melaporkan, setengah dari permintaan lahan industri tersebut berasal dari sektor industri data center. Saat ini, DMAS tengah membangun fasilitas data center secara khusus. Hal ini diawali oleh perjanjian kerja sama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atas pemasangan listrik sebesar 993 MV. 

Pasokan listrik ini untuk ditujukan mensupplay kebutuhan di sektor tersebut. Pasalnya, bagi pemain data center, listrik dinilai merupakan hal yang vital. 

DMAS juga tengah mengembangkan sebuah zona industribernama Greenland International Industrian Center (GIIC) Kota Deltamas. Kawasan ini dilengkapi dengan fasilitasdan  infrastruktur khusus, untuk mengantisipasi permintaan lahan dari industri yang membutuhkan teknologi terkini.

Dalam kawasan tersebut, terdapat kurang lebih 150 tenant dari berbagai sektor industri, seperti Kalbe, Astra Honda Motor, Mitsubishi Motors, Hyundai Motors, dan Suzuki.

Selain DMAS, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) juga berencana melakukan ekspansi ke bisnis data center. 

Namun, hal ini masih dalam proses kajian dan review. Perusahaan yang masuk dalam Sinar Mas Land ini akan menggarap ekosistem digital, salah satunya di area BSD City.

Proyek tersebut diharapkan bisa menjadi arena kawasan Digital Hub, dengan fasilitas dan infrastruktur meliputi koneksi kabel optik, urban forest, dan konektivitas antarbangunan.

Kawasan yang terhubung dengan Green Office Park ini dikembangkan untuk mengakomodasi tenant digital industri 4.0. Adapun targetnya adalah para pelaku startup maupun perusahaan teknologi multinasional, dan ventura.

Hingga saat ini, di BSD Green Office Park Colony sudah ditempati oleh perusahaan-perusahaan terkemuka, seperti Unilever, Traveloka, Go Work, dan lain-lain. Selain itu, ada sejumlah bank seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Bank Sinarmas, dan CIMB Niaga. Adapun perusahaan edukasi multinasional, seperti Apple Academy, AWS Academy, Monash University, dan MyRepublic.

Terbaru, emiten properti PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) juga merambah ke bisnis data center. Peluang dalam rangka menyambut boomingnya bisnis digital ini dilakukan dengan mengkonversi aset gedung perkantoran yang dimiliki REAL di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Sebagai informasi, berdasarkan laporan JLL bertajuk Data Centre in Indonesia Unveiling The Potential to Become The Next Digital Hub, disebutkan bahwa sektor ini akan terus tumbuh dan berkembang pesat. Ini terjadi atas dorongan dari pertumbuhan generasi muda, kelas menengah baru, serta kebangkitan ekonomi digital.

Structure Research juga memproyeksi pertumbuhan data center di Indonesia pada periode 2020-2025 akan mencapai 23,5% per tahun. Pada 2025, market sizenya diperkirakan mencapai US$618,6 juta atau setara Rp8,9 triliun (Kurs Rp14.500 per dolar Amerika Serikat).

Berita Terkait