Profitabilias Tinggi Membuat Bank Mandiri Berhasil Tutup Lonjakan Biaya Operasional

08 September 2021 14:33 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Gedung Menara Bank Mandiri di kawasan Sudirman, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Emiten pelat merah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mengalami efisiensi kinerja pada tahun ini. Kondisi ini berimplikasi terhadap melebarnya rasio profitabilitas serta menjadi sumber dana untuk menahan laju pertumbuhan operational expenditure (opex).

Direktur Keuangan (Dirkeu) Bank Mandiri Sigit Prastowo mengatakan efisiensi tersebut menjadi pemicu pertumbuhan kinerja keuangan perseroan. Dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), Bank Mandiri mencatat pertumbuhan 19,73% year on year (yoy) menjadi Rp1.169,2 triliun.

Melesatnya DPK itu dibarengi dengan adanya peningkatan dana murah atau CASA. Secara konsolodasian, CASA Bank Mandiri merangkak naik dari 61,89% pada semester I-2020 menjadi   68,39% pada semester I-2021.

“Pencapaian rasio dana murah yang sangat baik, secara konsolidasi mencapai 68%, secara bank only bahkan mencapai 73%,” ucap Sigit dalam paparan publik virtual, Rabu, 8 September 2021.

Di sisi lain, pertumbuhan penyaluran kredit dan net interest margin (NIM) Bank Mandiri berbanding lurus. Hal ini tampak dari pertumbuhan kredit konsolidasi sebesar 16,4% yoy menjadi Rp1.014,3 triliun.

Sementara NIM bank pelat merah itu juga terdorong dari 4,93% pada semester I-2020 menjadi 5,01% pada semester I-2021. Adapun Return on equity (ROE) Bank Mandiri juga ikut merangkak naik menjadi 12,42% pada semester I-2021 dari sebelumnya 11,27% pada semester I-2021.

Profitabilitas ini, kata Sigit, menjadi tumpuan di tengah peningkatan opex yang melesat menjadi 20,03% secara konsolidasian.

“Setelah adanya merger Bank Syariah Indoesia, biaya operasional atau opex di Bank Mandiri group mengalami peningkatan. Namun begitu masih bisa kita jaga seiring perbaikan profitabilitas,” ujar Sigit.

Peningkatan Biaya Operasional

Biaya operasional Bank Mandiri secara konsolidasian mengalami peningkatan dari Rp19,18 triliun pada semester I-2020 menjadi Rp23,02 triliun pada paruh pertama tahun ini.

Bank berlogo pita kuning ini meraih laba bersih Rp12,5 triliun, naik 21,45% yoy. Laba bersih terutama disokong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 21,50% yoy menjadi Rp35,16 triliun. Selain itu, pertumbuhan pendapatan berbasis jasa (fee based income) sebesar 17,27% yoy menjadi Rp15,94 triliun.

Meski punya entitas baru, yakni PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), Sigit mengatakan kontribusi anak usaha tersebut cukup positif pada semester I-2021. Hingga semester I-2021, BRIS berkontribusi dengan membukukan laba bersih Rp881,3 miliar atau setara 7,1% dari torehan laba bersih Bank Mandiri secara konsolidasian.

Berita Terkait