Produktivitas dan Kualitas Kalah dari Impor Jadi Dalang Tergerusnya Kedelai Nasional

JAKARTA – Head of Research Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta menyatakan, pemerintah harus fokus pada meningkatkan produktivitas dan kualitas kedelai nasional.

Pasalnya, petani kedelai saat ini menghadapi pada berbagai persoalan yang membuat penyerapan produksi tidak. Menurutnya, beberapa faktor penghambat antara lain kualitas dan harga yang tidak bisa bersaing dengan kedelai impor.

“Maka dari itu, peningkatan produktivitas sangat penting,” kata Felippa dalam keterangan resmi, Rabu, 6 Januari 2021.

Kondisi ini sangat miris, sebab Indonesia merupakan negara dengan konsumsi kedelai terbesar di dunia setelah China. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor kedelai Indonesia sepanjang semester I-2020 mencapai 1,27 juta ton atau senilai Rp7,52 triliun.

Sebanyak 1,14 juta ton di antaranya berasal dari Amerika Serikat. Pada tahun-tahun sebelumnya, total impor kedelai mencapai 2,67 juta ton (2017), 2,58 juta ton (2018), dan 2,67 juta ton (2019). “Impor karena ada kesenjangan antara kebutuhan dengan ketersediaan.”

Sayangnya, kedelai nasional sulit terserap karena tidak mampu bersaing dengan kedelai impor yang lebih berkualitas baik dengan harga lebih murah. Selain masalah produktivitas, faktor harga jual di tingkat petani juga berpengaruh besar terhadap pengembangan kedelai lokal.

Faktor Penghambar Produktivitas

Ada beberapa hal yang memengaruhi rendahnya produktivitas kedelai nasional. Pertama, faktor iklim karena kedelai adalah tanaman sub-tropis, sehingga pertumbuhan di daerah tropis seperti Indonesia menjadi tidak maksimal.

Kedua, kedelai adalah jenis tanaman yang membutuhkan kelembapan tanah yang cukup dan suhu yang relatif tinggi untuk pertumbuhan yang optimal. Sementara itu di Indonesia, curah hujan yang tinggi pada musim hujan sering berakibat tanah menjadi jenuh air.

Ketiga, permasalahan lahan yang terbatas. Lahan yang cocok untuk bertanam kacang kedelai harus memiliki kadar pH yang netral dengan kedalaman minimal 20 sentimeter.

“Tentu saja meningkatkan produktivitas bukanlah hal mudah, oleh karena diperlukan pembinaan dan pendampingan bagi petani kedelai, serta investasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, dengan pembinaan yang intensif maka produktivitas yang lebih tinggi meningkat. Pembinaan dapat dilakukan, antara lain dengan penggunaan benih, pupuk dan sarana produksi lain yang tepat.

“Pembinaan juga dapat dilakukan melalui kerjasama dengan pihak swasta,” terang Felippa.

Tags:
Center for Indonesian Policy Studies (CIPS)impor kedelaikedelaiproduktivitas kedelai
Ananda Astri Dianka

Ananda Astri Dianka

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: