Produk Tembakau Alternatif Terobosan Baru Kurangi Masalah Rokok

10 September 2021 13:27 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Amirudin Zuhri

Ilustrasi vape hasil pengolahan tembakau lainnya. (Unsplash.com)

JAKARTA – Tingginya angka prevalensi perokok di Indonesia berpotensi terus menambah masalah terhadap kesehatan publik. Untuk menekan permasalahan tersebut, produk tembakau alternatif dinilai dapat menjadi terobosan baru dalam menurunkan angka perokok.

Wakil Ketua Yayasan Manusia Welas Asih (MAWAS), Dimas Syailendra, menjelaskan produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik, maupun snus, menerapkan konsep pengurangan risiko (harm reduction). Berdasarkan sejumlah hasil penelitian baik dari dalam dan luar negeri, produk ini lebih rendah risiko hingga 90-95% daripada rokok.

Salah satunya adalah riset yang dilakukan badan eksekutif dari Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris, Public Health England yang berjudul “Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Product 2018”. Hasil dari kajian ilmiah tersebut menyatakan profil risiko dari produk tembakau alternatif 95% lebih rendah daripada rokok.  

“Dengan didukung oleh hasil-hasil riset ilmiah sebagai bukti yang menggambarkan betapa rendah risikonya, jelas itu sebuah terobosan yang baik bagi kesehatan publik,” kata Dimas saat dihubungi wartawan.

Pada Februari 2021, Public Health England juga telah menerbitkan laporan independen ketujuh yang merangkum bukti terbaru tentang rokok elektrik. Pada 2020 lalu, sebanyak 27,2% orang menggunakan rokok elektrik sebagai bantuan untuk berhenti merokok dalam kurun waktu 12 bulan dibandingkan dengan 15,5% orang yang menggunakan terapi nikotin, dan 4,4% yang menggunakan obat varenicline.

Dimas berpendapat hasil riset yang mendukung pengurangan risiko ini sejalan dengan misi MAWAS, yaitu membangun kesadaran masyarakat terhadap potensi risiko, salah satunya kesehatan. Oleh sebab itu, kehadiran produk tembakau alternatif dapat dimaksimalkan untuk mengurangi prevalensi perokok.

“Saya pikir adanya produk dengan risiko jauh lebih rendah dari rokok, tentunya akan semakin baik. Masyarakat cerdas yang sadar risiko akan semakin terbentuk untuk menciptakan bangsa yang lebih baik,” tutup Dimas.

Berita Terkait