Produk Tembakau Alternatif, Opsi Tekan Prevalensi Merokok

09 Agustus 2022 16:02 WIB

Penulis: Feby Dwi Andrian

Editor: Ananda Astri Dianka

kilian-seiler-ytf-vnjWvfw-unsplash.jpg (https://unsplash.com/photos/ytf-vnjWvfw)

Jakarta – Produk tembakau alternatif memiliki potensi yang signifikan untuk membantu pemerintah dalam menekan prevalensi merokok di Indonesia. 

Berdasarkan sejumlah hasil riset di dalam dan luar negeri, produk ini terbukti mampu mengurangi risiko kesehatan jika dibandingkan dengan rokok sehingga layak dikedepankan sebagai pilihan untuk bagi para perokok dewasa yang kesulitan untuk berhenti dari kebiasaannya.

Kurniawan Saefullah, Ketua MAWAS Center, mengatakan prevalensi merokok di Indonesia sudah menembus angka 69,1 juta jiwa. 

Untuk mengatasi masalah merokok tersebut, pemerintah perlu mengedepankan strategi yang berbeda dan pragmatis ketimbang hanya menggunakan strategi pengendalian tembakau yang selama ini tidak berhasil membantu perokok untuk berhenti. 

Implementasi dari solusi tersebut dapat dimulai dengan mengkaji potensi dari pemanfaatn produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik, produk tembakau yang dipanaskan, maupun kantong nikotin.

“Strategi pengendalian tembakau yang dijalankan pemerintah selama ini belum menunjukkan hasil yang maksimal dalam menurunkan angka perokok maupun mendorong perokok bisa berhenti di Indonesia, jadi pemerintah perlu terbuka dengan segala opsi yang tersedia. Produk tembakau alternatif adalah salah satu opsi yang dapat dimanfaatkan pemerintah untuk mengatasi masalah merokok dengan menyediakan akses kepada perokok dewasa untuk beralih,” kata Kurniawan saat dihubungi.  

Kurniawan menambahkan produk tembakau alternatif menerapkan konsep pengurangan risiko (harm reduction). 

Hal itu dibuktikan dengan sejumlah hasil riset salah satunya dari studi dilakukan oleh Public Health England, yang menunjukkan bahwa produk ini mampu mengurangi risiko kesehatan hingga 90%-95% daripada rokok. 

Dengan demikian, perokok dewasa yang sulit berhenti tetap bisa mendapatkan asupan nikotin melalui cara yang lebih rendah risiko dibandingkan dengan terus merokok.

“Pemerintah tidak perlu ragu lagi untuk mengkaji dan memanfaatkan potensi produk tembakau alternatif. Untuk saat ini, yang perlu dilakukan pemerintah adalah melakukan kajian lokal, menyebarkan informasi yang akurat dan komprehensif mengenai produk tembakau alternatif dan memperkuatnya dengan regulasi berbasis rist demi terciptanya perbaikan kualitas kesehatan masyarakat dan mampu mengatasi masalah merokok,” kata Kurniawan.

Hal yang sama juga disampaikan para pembicara dalam Global Forum on Nicotine (GFN) dengan tema “Safer Nicotine Product” yang diselenggarakan belum lama ini. 

Karl Fagerstrom, anggota Society for Research on Nicotine and Tobacco, menjelaskan prevalensi merokok di Swedia merupakan yang paling rendah dibandingkan seluruh negara Uni Eropa. 

“Saat ini prevalensi merokok di Swedia kurang dari 5%. Bahkan telah melampaui batas prevalensi sebesar 5%,” kata Karl.  

Dengan berkurangnya angka perokok tersebut, ternyata turut berkorelasi terhadap penurunan jumlah kasus kanker paru dan penyakit lainnya. 

Mengutip laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2012 lalu, Karl mengatakan angka kasus kanker paru di Swedia merupakan yang terendah dibandingkan seluruh anggota Uni Eropa dengan jumlah sebesar 87 per 100.000 kematian. 

Angka tersebut pun masih lebih rendah dari rata-rata jumlah minimum yang mencapai 91 per 100.000 kematian.

“Produk tembakau alternatif memiliki potensi terbaik untuk pengurangan dampak risiko bagi perokok dewasa yang belum bisa berhenti merokok,” kata Karl.  

Senada dengan Karl, Rachel Murkett, Direktur Biochromex, menjelaskan bahwa produk tembakau alternatif telah teruji dapat mengurangi dampak kesehatan terhadap penggunanya dibandingkan dengan rokok. 

“Produk tembakau alternatif yang lebih rendah risiko dapat memainkan peran sentral dalam mengurangi morbiditas dan mortalitas terkait dengan merokok,” kata Rachel.

Berita Terkait