Prodia Tebar Dividen 50% dari Laba Bersih Rp105,13 Miliar

April 22, 2020, 10:21 PM UTC

Penulis: wahyudatun nisa

Ilustrasi layanan laboratorium Prodia. / Prodia.co.id

Emiten kesehatan PT Prodia Widyahusada Tbk. (PRDA) membagikan dividen sebesar Rp105,13 miliar atau 50% dari perolehan laba bersih sepanjang 2019. Jumlah ini setara dengan Rp112,13 per lembar saham.

Pada periode tersebut emiten berkode saham PRDA itu membagian dividen lebih besar dari tahun sebelumnya yakni Rp87,73 miliar atau meningkat 19,8%. Keputusan pembagian dividen dilakukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Prodia Tower, Jakarta, Rabu, 22 April 2020.

Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty mengatakan perseroan terus menjaga pertumbuhan bisnisnya sehingga dapat memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi pemegang saham.

“Kami terus fokus melanjutkan strategi peningkatan pendapatan, pengendalian biaya operasional, dan penggunaan sistem automasi serta teknologi informasi untuk meningkatkan layanan bagi pelanggan,” kata Dewi dalam keterangan resmi yang dirilis pada keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Rabu, 22 April 2020.

Di sisi laporan keuangan, perusahaan yang tercatat di BEI sejak November 2016 itu, mencatat kenaikan pendapatan sebesar 9,03% menjadi Rp1,74 triliun, sedangkan tahun sebelumnya sebesar Rp1,59 triliun.

Untuk itu, laba kotor perusahaan ikut meningkat 10,42% menjadi Rp1,04 triliun dari semula sebesar Rp942 miliar. Alhasil, per 31 Desember 2019, perusahaan berhasil mengantongi laba bersih hingga Rp210,3 miliar meningkat 19,84% dari periode sebelumnya yaitu Rp175,45 miliar.

Selain itu, perusahaan Group Prodia Utama ini juga membukukan kenaikan EBITDA (earning before interest, taxes, depreciation, and amortization) sebesar 13,89% dari Rp277,49 miliar pada 2018 menjadi Rp316,03 miliar pada 2019. Margin EBITDA juga berhasil ditingkatkan menjadi 18,12%.

Sepanjang 2019, Dewi menyebutkan perusahaannya tetap meningkatkan produktivitas, salah satunya dengan meluncurkan pemeriksaan esoterik atau genomik.

Teknologi pemeriksaan itu meliputi DIArisk untuk memprediksi risiko diabetes pada individu, TENSrisk untuk melihat risiko hipertensi, dan pemeriksaan Nutrigenomik yang mempelajari faktor genetika terhadap kesehatan serta bagaimana tubuh merespons nutrisi dan kebiasaan olahraga.

Selanjutnya, NIPT-Prosafe untuk melihat risiko kelainan kromosom pada janin, CArisk untuk melihat risiko terhadap 13 jenis kanker, IMMUNErisk untuk mendeteksi risiko seseorang terhadap tujuh jenis penyakit terkait sistem imun yang sering terjadi di masyarakat, serta VASCULArisk yang dapat mendeteksi risiko penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular.

“Kami juga telah memperbaharui sistem automasi di laboratorium pusat rujukan nasional atau PNRL (Prodia National Reference Lab) yang berlokasi di Prodia Tower, Jakarta,” ujar Dewi.

Sistem automasi laboratorium ini bertujuan untuk mempercepat waktu selesai hasil pemeriksaan atau turn around time (TAT), menurunkan kesalahan dari proses manual, serta meningkatkan efisiensi proses melalui penggunaan sistem automasi dan sistem perangkat antara (middleware) yang mutakhir.

“Laboraturium automasi dengan platform baru ini memungkinkan kami untuk meningkatkan kemampuan pemeriksaan dengan jumlah sampel yang lebih banyak dan lebih cepat,” katanya.

Dalam penjelasannya, saat ini jumlah sampel per tahun lebih dari 550.000 dan estimasi jumlah sampel dalam lima tahun kedepan akan meningkat dua kali lipat.

Adapun, tahun lalu emiten kesehatan ini telah menambah dan merelokasi beberapa cabangnya. Tercatat hingga akhir tahun 2019, Prodia telah mengoperasikan jejaring layanan sebanyak 287 outlet di 34 provinsi dan 126 kota di seluruh Indonesia.

Pada perdagangan Rabu, 22 April 2020, saham PRDA ditutup naik 1,61% sebesar 50 poin ke level Rp3.150 per lembar. Kapitalisasi pasar saham PRDA mencapai Rp2,95 triliun dengan imbal hasil 12,45% dalam setahun terakhir. (SKO)