PPRE Kantongi Kontrak Baru Rp3,39 Triliun, 31 Persen Didapat dari Jasa Tambang

04 Agustus 2021 14:22 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Rizky C. Septania

Tambang Nikel Weda Bay, salah satu tambang nikel yang dikerjakan oleh PT PP Presisi Tbk (PPRE). (eramet.com)

JAKARTA – PT PP Presisi Tbk (PPRE) telah mengantongi kontrak baru sebesar Rp3,39 triliun hingga Juli 2021. Dari jumlah tersebut, kontribusi pendapatan jasa tambang tercatat 31%. Sejak tahun ini, PPRE memang berupaya membidik kontrak jasa tambang lebih serius.

Sementara itu, lini bisnis civil work masih mendominasi pendapatan anak usaha PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) ini sebesar 60%, production plant 3%, dan sisanya didapat dari structure work maupun rental heavy equipment.

“Pencapaian tersebut tentunya meningkatkan positioning Perseroan sebagai kontraktor jasa tambang nikel maupun maincontractor pada pekerjaan civil work,” ujar Direktur Utama PPRE Rully Noviandar dalam siaran pers, Rabu, 4 Agustus 2021.

Pencapaian kontrak baru senilai Rp3,39 triliun itu pun berarti PPRE telah mencapai 92% dari targetnya tahun ini yang sebesar Rp3,67 triliun. Pencapaian kontrak baru ini juga melonjak 256% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,32 triliun.

Pada Juli 2021, proyek jasa tambang memang menjadi kontributor utama. Proyek pekerjaan jasa hauling nikel dan hauling road upgrading Biri-biri dari Weda Bay Nickel masing-masing tercatat sebesar Rp355,68 miliar dan Rp51,49 miliar. 

“Dengan telah didapat dan berjalannya dua pekerjaan besar pada jasa tambang nikel yakni jasa tambang nikel Morowali dan jasa tambang nikel di Weda Bay Nickel, Halmahera, peluang untuk meningkatkan pertumbuhan perseroan sebagai kontraktor nikel tentunya semakin terbuka lebar,” ucap Rully.

Selain itu, PPRE juga mendapat kontrak proyek rehabilitasi Pamanukan-Palimanan dari Kementerian PUPR sebesar Rp66,56 miliar, proyek jalan KIT Batang sebesar Rp39,2 miliar, dan proyek pembangunan junction Cisumdawu sebesar Rp42,07 miliar.

Competitiveness perusahaan juga meningkat dengan diperolehnya pasar-pasar baru diluar group sebesar 87% dari total kontrak baru yang diperoleh hingga Juli 2021,” tambah Rully.

Dalam kesempatan lain, Direktur Operasi PPRE Darwis Hamzah mengatakan masuknya PPRE ke lini bisnis jasa tambang tidak hanya sebagai strategi baru mengoptimalisasi alat-alat berat yang sudah dimiliki perseroan sebelumnya.

“Masuknya PP Presisi pada jasa pertambangan juga turut serta dalam program strategis pemerintah yaitu peningkatan produksi serta hilirisasi tambang mineral khususnya nikel,” tuturnya.

 

Berita Terkait