PP Presisi Kantongi Kontrak Baru Januari-Juni Rp2,8 Triliun

07 Juli 2021 05:29 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Proyek PT PP Presisi Tbk, anak usaha PT PP (Persero) Tbk. / pp-presisi.co.id

JAKARTA – Emiten jasa konstruksi PT PP Presisi Tbk (PPRE) berhasil membukukan kontrak baru Rp2,8 triliun hingga semester I-2021. Ini berarti anak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) ini sudah mencapai 75,67% dari target kontrak baru tahun ini sebesar Rp3,7 triliun.

“Pencapaian tersebut tentunya memberikan semangat bagi kami untuk mencapai target kontrak baru hingga akhir 2021,” ujar Direktur PPRE Rully Noviandar dalam keterangan resmi, Selasa, 6 Juli 2021.

Rully menjelaskan kontrak baru tersebut didapat dari sejumlah proyek, seperti pembangunan Tol Cinere-Jagorawi (Cijago) seksi 3 senilai Rp1,1 triliun, pelebaran taxiway dan perpanjangan runway Bandara Sentani sebesar Rp72 miliar, dan suplai beton Cisumdawu sebesar Rp41 miliar.

Selain itu, kontrak baru juga didapatkan lewat anak usaha PPRE yaitu PT Lancarjaya Mandiri Abadi (LMA). Kontrak baru di LMA adalah pembangunan Kawasan Industri Batuta tahap 2 senilai Rp533,9 miliar dan pekerjaan rock excavation Bandara Dhoho Kediri senilai Rp21,7 miliar.

“71 persen dari total kontrak baru tersebut kami peroleh dari pasar nongroup yang artinya competitiveness PP Presisi meningkat melalui jangkauan pasar yang lebih luas,” jelas Rully.

Realisasi kontrak baru tersebut berarti lini bisnis pekerjaan sipil (civil work) masih mendominasi sebesar 69%. Kemudian, 23% didapat dari lini jasa pertambangan yang PPRE ingin kembangkan tahun ini. Lalu, dari lini production plant sebesar 6% dan sisanya structurework maupun rental heavy equipment.

Jasa Tambang
Pertambangan mineral nikel milik PT PAM Mineral Tbk (NICL) / Dok. Perseroan

PPRE juga berencana menambah kontrak baru senilai lebih dari Rp1,5 triliun dari jasa tambang hingga akhir tahun ini. PPRE pun membidik tiga proyek jasa tambang nikel.

“Kami menargetkan sedikitnya tambahan tiga kontrak baru hingga akhir 2021 yang berasal dari jasa tambang nikel yang berlokasi di Morowali Utara dan Halmahera yang di antaranya merupakan tambang nikel terbesar di Indonesia,” ujar Rully.

Rully menjelaskan jasa tambang menjadi fokus baru PPRE dalam tiga tahun mendatang, terutama jasa tambang nikel. Ini untuk memanfaatkan sumber daya dan aset secara lebih optimal. Dirinya juga menargetkan jasa tambang dapat menjadi sumber pendapatan stabil bagi PPRE.

“Karakteristik alat berat yang dibutuhkan untuk pekerjaan jasa tambang nikel sebagian besar telah kami miliki. Tanpa menambah aset baru dalam jumlah besar dan dengan mengoptimalkan aset eksisting, kami dapat meningkatkan perolehan pendapatan perseroan,” jelas Direktur Peralatan dan SCM PPRE M. Wira Zukhrial. (SKO)

Berita Terkait