3 Pembangkit Panas Bumi Ini Bakal Beroperasi dalam Waktu Dekat

28 Juli 2021 22:01 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Laila Ramdhini

PLTP Geo Dipa Energi. / Geodipa.co.id

JAKARTA – PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN tengah menyiapkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sebesar 360 Mega Watt (MW) dengan sinergi bersama BUMN sebesar 230 MW. 

Executive Vice President Komunikasi Korporat dan CSR PLN Agung Murdifi melaporkan portofolio PLTP yang telah berjalan saat ini berkapasitas total 572 MW. Adapun listrik yang dihasilkan dari pembangkit tersebut mencapai 4.128 GWh.

“Sementara itu, kapasitas pengembangan yang tengah berlangsung sebesar 590 MW dengan potensi listrik sebesar 4.651 GWh,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu, 28 Juli 2021.

3 PLTP segera beroperasi

Ia juga mengungkapkan, dalam waktu dekat ini, ada tiga proyek PLTP yang bakal beroperasi. Pertama, PLTP Dieng Binary berkapasitas 10 MW dengan target operasi komersial pada 2023. PLTP ini merupakan hasil kerja sama antara PLN Gas & Geothermal dengan GDE.

Kedua, PLTP Binary Lahendong dengan kapasitas 5 MW yang akan beroperasi pada 2023. Proyek tersebut digarap oleh PLN Gas & Geothermal dan PGE dengan potensi hingga 30 MW. 

Ketiga, PLTP Ulubelu Binary dengan kapasitas 10 MW yang bakal beroperasi komersial pada 2024 dengan potensi maksimal 100 MW.

PLTP eksisting

Adapun PLTP yang sudah beroperasi milik PLN antara lain PLTP Ulubelu unit 1 dan 2 sebesar 110 MW, PLTP Mataloko 2,5 MW, PLTP Lahendong 80 MW, dan PLTP Ulumbu 10 MW.

Kemudian, beberapa proyek PLTP yang masuk rencana PLN antara lain Kepahiang sebesar 2x55 MW yang ditargetkan beroperasi pada 2027, Tangkuban Perahu sebesar 2x20 MW pada 2026-2027, serta Ungaran sebesar 55 MW pada 2027.

Selain itu, Oka Ille Ange sebesar 2x5 MW pada 2028, Atadei sebesar 2x5 MW pada 2027, Tulehu sebesar 2x10 MW pada 2025-2026, dan Songa Wayaua 2x5 MW pada 2025-2027.

Potensi dan keunggulan PLTP

Menurut Agung, keunggulan dari pengembangan PLTP, yakni bersifat renewable atau berasal dari sumber daya alam sehingga bisa terisi ulang. Selain itu, ia juga sustainable alias dapat menghasilkan energi berkelanjutan untuk jangka waktu yang panjang. Energi ini juga tidak tergantung pada kondisi cuaca.

“Energi panas bumi itu bisa direct use, dapat dipakai langsung ke pengguna akhir. Selain itu, tidak memerlukan lahan atau ruang luas, hanya membutuhkan 0,75 ha/MW,” tambahnya.

Seperti diketahui, wilayah Indonesia yang dilewati jalur cincin api membuat potensi energi panas bumi berlimpah. Negara ini menempati urutan kedua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat (AS), dalam hal potensi panas bumi. Posisi Indonesia di atas Jepang, Kenya, dan Islandia. 

Berdasarkan data Badan Geologi, sumber daya panas bumi yang dimiliki Indonesia sebesar 28,5 Giga Watt (GW). Meskipun demikian, hingga 2019, pemanfaatannya baru mencapai 2.133 MW atau 7,5%dari total sumber daya yang ada.

Berita Terkait