PMI Manufaktur Indonesia pada November 53,9 Lampaui Raksasa Ekonomi China

03 Desember 2021 04:04 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Sukirno

Ilustrasi industri manufaktur di pabrik saat menghadapi era new normal. (Hino.co.id)

JAKARTA --  IHS Market mengumumkan bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada bulan November menempati posisi 53,9. PMI ini melampaui PMI China sebagai raksasa ekonomi di kawasan Asia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, PMI Manufaktur Indonesia terus mengalami ekspansi selama tiga bulan terakhir.

"Kami sangat bersyukur dan memberikan apresiasi atas capaian ini, karena pelaku industri kita masih tetap semangat menjalankan usahanya seiring dengan upaya pemerintah mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional," katanya dalam keterangan pers, Kamis, 2 Desember 2021.

Pada bulan Oktober lalu, PMI Indonesia tembus level 57,2 dan sekaligus merupakan memecahkan rekor sebagai PMI tertinggi sepanjang masa.

Bulan November ini, PMI Manufaktur tercatat menurun 5,77%. Namun masih lebih tinggi dari PMI Manufaktur September yang hanya 52.2.

Meski demikian, jika dibandingkan dengan negara-negara ekonomi besar di Asia, PMI Manufaktur Indonesia masih sangat ekspansif. China, misalnya, PMI-nya tercatat sebesar 49,9. Kemudian Korea Selatan sebesar 50,9 dan negara-negara ASEAN di level 52,3.

Agus mengatakan pemerintah optimistis performa gemilang sektor industri manufaktur bisa mengungkit pemulihan ekonomi.

Sepanjang tahun ini, dia memperkirakan industri akan tumbuh sebesar 4%-5% apabila tidak ada gejolak kasus atau gelombang susulan dari dampak pandemi COVID-19.

“Pemerintah bertekad untuk terus menjaga iklim usaha yang kondusif. Investasi dan produktivitas sektor industri tetap dijaga dengan baik agar bisa terus berjalan," katanya.

Beberapa indikator yang menunjukkan bahwa kinerja sektor industri nasional masih gemilang ditopang oleh kinerja ekspor.

Sepanjang Januari-Oktober 2021, industri pengolahan mencatatkan nilai ekspor sebesar US$143,76 miliar setara Rp2.070 triliun atau meningkat 35,53% year on year (yoy) dibandingkan dengan tahun lalu.

Berita Terkait