PGN Pangkas 55 Persen Capex, Distribusi LNG ke Sinopec Ditunda Akibat Pandemi

JAKARTA – Emiten pelat merah PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) melakukan pemangkasan belanja modal (capital expenditure/capex) hingga 55% akibat adanya pandemi COVID-19. Hal ini disampaikan oleh Direktur Keuangan PGN Arie Nobelta saat Public Expose Live 2020 yang diselenggarakan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Jumat 28 Agustus 2020.

Arie juga meminta anak usaha PGN, PT Saka Energi Indonesia (Saka) untuk juga melakukan pemotongan Capex dan belanja operasional (operating expenditure/opex) sebanyak 20%-25. Saka akan menggunakan skala prioritas dalam penggunaan belanja modal dan melakukan renegosiasi dengan beberapa vendor demi mempertahankan cashflow.

“Jadi kalau ada yang bisa diundur tahun depan bisa dilakukan manajemen Saka khususnya komitmen investasi yang sudah disepakati pemerintah. Misalnya pengembangan wilayah kerja di Saka, kita minta renegosiasi lagi ke pemerintah,” ujarnya.

Sementara, Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Syahrial Mukhtar angkat suara terkait rencana pengiriman LNG ke perusahaan migas asal China, Sinopec. Ia menegaskan pengiriman enam kargo LNG yang telah direncanakan sebelumnya akan ditunda pada tahun ini.

“Mungkin harapannya di tahun depan dan selanjutnya kerja sama ini nanti bisa kita akan penuhi. Tapi untuk LNG ini memang banyak peluang potensi di market-market Asia Selatan,” imbuhnya.

Langkah Perseroan

Sebagai subholding gas yang mengelola dan mengoperasikan layanan gas bumi, pihaknya mengaku terus mengembangkan infrastruktur gas bumi di seluruh wilayah Indonesia. PGN mengaku tetap melaksanakan pengembangan infrastruktur dan layanan gas bumi. Hal tersebut membuat jumlah pelanggan saat ini mencapai lebih dari 405.000 pelanggan.

Saat ini, PGN sedang menyelesaikan sejumlah infrastruktur baru untuk memperluas penggunaan gas bumi dan mendorong bauran energi domestik. PGN melalui PT Pertamina Gas (Pertagas) melaksanakan pembangunan Pipa Minyak Rokan sepanjang 367 kilometer, Proyek tersebut berada di koridor Minas-Duri-Dumai dan Koridor Balam-Bangko-Dumai, Wilayah Kerja Rokan.

Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama menyatakan kehadiran jaringan pipa minyak ini dapat memperkuat portofolio dan meningkatkan pendapatan transportasi migas perseroan. Selain itu diharapkan dapat meningkatkan lifting dari Blok Rokan yang merupakan salah satu blok minyak terbesar di Indonesia.

“Kami targetkan, pipa ini akan komersial pada akhir 2021 yang akan menyalurkan minyak rata-rata sekitar 265.000 barel minyak per hari. Selain itu, umur ekonomis proyek ini sekitar 20 tahun,” jelasnya.

Lebih lanjut, Rachmat menuturkan target on stream pada jalur utara melalui koridor Balam-Bangko-Dumai dan koridor Duri-Dumai akan dilaksanakan pada triwulan III tahun depan. Sedangkan pada jalur selatan melalui koridor Minas-Duri akan on stream pada awal 2022.

Ia menambahkan, PGN juga melaksanakan proyek gasifikasi kilang PT Pertamina (Persero) yang saat ini menggunakan BBM maupun LPG. Total volume penyaluran potensial sekitar 90 BBTUD atau setara dengan 16.400 BOEPD. Terdiri dari lima lokasi kilang, yaitu program RDMP Balongan, RDMP Balikpapan, RDMP Cilacap, Kilang TPPI, dan GRR Tuban.

“Optimalisasi penyaluran pasokan gas ke kilang Pertamina dapat meningkatkan nilai ekonomi Pertamina dan untuk mencapai efisiensi energi kilang Pertamina,” tutur Rachmat.

Kinerja Perusahaan

Pada triwulan I-2020, PGN berhasil meningkatkan penyaluran gas bumi sebesar 882 BBTUD dibandingkan tahun sebelumnya. Pengangkutan gas melalui pipa transmisi Pertagas berkontribusi utama pada peningkatan volume transmisi.

PGN juga membukukan pendapatan sebesar US$874 juta pada triwulan pertama tahun 2020. Pendapatan emiten berkode PGAS tersebut sebagian besar diperoleh dari hasil penjualan gas sebesar US$693 juta.

Lalu penjualan migas sebesar US$76 juta. Sementara transmisi gas dan minyak sebesar US$70 juta dan pendapatan usaha lainnya sebesar US$34 juta.

Pada periode yang sama, PGN mencatatkan laba operasi sebesar US$172 juta dan laba bersih sebesar US$48 juta. Adapun EBITDA perseroan mencapai US$260 juta. Pencapaian laba bersih pada triwulan pertama tahun 2020 ini dipengaruhi faktor melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat pada akhir Maret 2020. (SKO)

Tags:
beiBlok RokanBUMNCapital expenditureGGR TubanHeadlineKilang TPPILNGOperating Expenditurepgnpt bursa efek indonesiaPT Pertamina (Persero)PT Perusahaan Gas Negara TbkPT Saka Energi IndonesiaPublic Expose Live 2020RDMP BalikpapanRDMP BalonganRDMP CilacapSaka
Drean Muhyil Ihsan

Drean Muhyil Ihsan

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: