Perusahaan Butuh Modal? Ini Karakteristik Start Up yang Disukai Para Investor

01 September 2021 20:02 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Amirudin Zuhri

Plt. Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf, Josua Puji Mulia Simanjuntak memberikan paparan tentang industri pariwisata dan ekonomi kreatif pada pembukaan program Baparekraf for Startup (BEKUP) 2020, di Jakarta, Selasa, 7 Juli 2020

JAKARTA – Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, generasi muda mulai memberanikan diri untuk mendirikan perusahaan rintisan alias start up. Sayangnya, laju bisnis mereka terkadang terhalang oleh masalah permodalan untuk mengakselerasikan perusahaan yang mereka dirikan. 

Untungnya, saat ini sudah banyak firma pengelola dana ekuitas yang bisa menjadi juru selamat bagi para pengusaha start up yang bisa menopang roda bisnis mereka. Meski demikian, para pemilik modal tidak sembarangan dalam memilih perusahaan yang akan diberikan 'uluran tangan' permodalan. 

"Perusahaan yang terus berinovasi dan punya cut cost (biaya lebih rendah) paling bisa bertahan dalam banyak kondisi," kata Co-Founder & Co-Managing Partner Northstar Group Patrick Walujo dalam keterangan resmi, Rabu 1 September 2021. 

Selain itu, Patrick juga memaparkan, investor tertarik dengan pendiri (founder) start up yang punya kejelasan visi dan menguasai bisnis yang dijalankannya. Menurutnya, salah satu kunci dasar untuk kesuksesan bisnis adalah accounting

“Orang banyak uang untuk investasi itu banyak, tapi yang bisa menjalankan bisnis itu sedikit," lanjutnya. 

Ekonomi Digital

Pada kesempatan yang sama, Director Northstar Group Henky Prihatna memaparkan start-up yang 'cantik' di mata investor adalah perusahaan yang bergerak di sektor ekonomi digital. Sebab, pertumbuhan sektor ekonomi digital sangat cepat. 

“Pada 2025, ekonomi digital Indonesia berpotensi meningkat 3 kali lipat daripada sekarang. Karena yang tadinya konvensional, akan dipaksa bertransformasi ke digital agar bisa bertahan dalam persaingan bisnis," ujar Henky. 

Sedangkan secara personal, Henky menyukai sosok founder start-up yang bukan hanya bermodal teori saja. Tetapi juga visi dan misi perusahaan, lalu kemampuan untuk mengeksekusi visi dan misi tersebut dengan baik. 

Selain itu, investor juga akan mempertimbangkan sektor industri yang dijalankan oleh para pengaju modal. “Terakhir, business models, make sense atau gak? Profitable atau enggak, itu juga kita lihat sebagai investor," imbuhnya. 

Namun, semua kriteria tersebut tentu baru bisa dilakukan ketika pemilik start-up benar-benar menguasai manajemen bisnisnya. Oleh karena itu, diperlukan literasi finansial yang akan memandu mereka untuk lebih bijak dalam menentukan masa depan bisnis mereka. 

Berita Terkait