Pertumbuhan Sektor Manufaktur Diharapkan Terus Berlanjut Melalui Digitalisasi & Pemulihan Ekonomi

11 Agustus 2021 19:00 WIB

Penulis: Fachrizal

Editor: Rizky C. Septania

industri sektor manufaktur (Trenasia.com)

JAKARTA – Pertumbuhan industri sektor manufaktur diharapkan terus berlanjut melalui digitalisasi.  Hal ini sangat mungkin dapat terjadi mengingat teknologi turut berperan serta dan mendukung terciptanya ekosistem rantai logistik sehingga memungkinkan kegiatan logistik berjalan dengan efektif dan lebih efisien.

Menurut Feri Irawan, selaku Direktur Keuangan & Human Capital IPCC menyatakan,  proses digitalisasi pada industri logistik membuat flow of goods bisa tertracking dengan lebih baik, mulai dari pemesanan, proses administrasi hingga proses receiving/delivering-nya.

“Proses digitalisasi pada industri logistik membuat flow of goods bisa ter-tracking dengan lebih baik, mulai dari pemesanan, proses administrasi hingga proses receiving/delivering-nya,” ujar Feri, seperti yang dikutip dari siaran pers, Rabu, 11 Agustus 2021. 

Selain itu, menurut Feri, proses kemudahan digitalisasi ditambah dengan proses pembayaran dan penerimaan flow of money yang lebih ringkas karena terkoneksi dengan sistem pembayaran dan keuangan.

Efek positif dari proses digitalisasi juga diperkirakan akan mampu mendorong kenaikan harga saham di pasar yang saat ini masih berada di bawah harga IPO.

Efek digitalisasi pada sektor industri manufaktur menjadi semakin tak terhindarkan lagi. Pasalnya,  Sektor ini merupakan penyumbang sumber pertumbuhan tertinggi di kuartal II-2021, yaitu sebesar 1,35% dibanding industri lainnya. 

Tercatat, berdasarkan data yang dihimpun dari dari Kemenperin pada Minggu, 8 Agustus 2021, industri perdagangan menyumbang pertumbuhan terbesar kedua, dengan 1,21%, disusul transportasi & perdagangan 0,77%, akomodasi makanan & minuman 0,54%, dan beragam sektor industri lainnya sebesar 3,20%.

Bila ditotal, total akumulasi pertumbuhan dari 5 pertumbuhan diatas, mencapai 7,07% di kuartal II-2021. Sementara, sektor industri manufaktur terus tumbuh dengan persentase pertumbuhan mencapai 6,91% di kuartal ini secara yoy meskipun mengalami tekanan akibat pandemi Covid-19.

Sektor manufaktur juga menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada triwulan II tahun ini yakni sebesar 17,34%. Selain itu, kinerja ekspor sektor manufaktur pada semester I/2021 tercatat sebesar USD 81,06 miliar. Jumlah itu setara 78,80% dari total ekspor nasional yang mencapai USD 102,87 miliar.

Berkat digitalisasi teknologi, sektor manufaktur menunjukkan tajinya di sepanjang semester I tahun ini dan diharapkan akan terjaga hingga akhir 2021, sehingga kinerja saham emiten di sektor tersebut bisa kembali bersinar.

Maryadi Laksmono, seorang praktisi pasar modal sekaligus pendiri komunitas Investor Cafe, menyatakan hasil positif tersebut diharapkan bisa menular kepada kinerja saham emiten sektor manufaktur. Dia menilai, selain faktor digitalisasi teknologi, perbaikan kinerja tersebut tak terlepas dari pulihnya kegiatan masyarakat.

“Update terakhir sampai dengan semester I/2021 beberapa sudah mulai membaik kinerjanya kalau saya lihat,” kata Maryadi. 

Selain faktor digitalisasi, pertumbuhan ekonomi sendiri juga ditopang oleh program pemulihan ekonomi lewat vaksinasi massal dan PPKM level 4 yang tengah diupayakan pemerintah.

Cara ini pun dinilai cukup berhasil, pemerintah berhasil mencatatkan rekor pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2021 sebesar 7,07 persen. Mengingat pada kuartal II-2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia masih resesi di angka minus 5,32 persen.

“Berkat kerja keras pemerintah dan masyarakat yang bersama-sama mengendalikan Covid-19,  aktivitas dari masyarakat yang sepanjang semester I sudah mulai pulih meningkatkan kinerja mereka. Menopang permintaan sehingga bisa membukukan kinerja yang membaik,” kata Maryadi.

Kuartal II-2021 Membaik

Cynthia Nadeak, selaku direktur D'Origin menambahkan sejak Juli lalu pemerintah kembali menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk menekan laju pandemi Covid-19. Hal itu, memang akan menjadi tantangan bagi pelaku ekonomi di semester II-2021.

Namun, stimulus berupa kebijakan fiskal dan upaya pemerintah menekan laju pandemi di sepanjang tahun ini dinilai akan menekan risiko PPKM yang masih diperpanjang hingga pekan kedua Agustus 2021.

“Apa yang dilakukan pemerintah sudah mewakili. Stimulus membuat kinerja emiten membaik. Sentimen positif bisa juga datang dari luar pelaku pasar melihat upaya pemerintah menggalakan vaksin tumbuh persepsi baik dan sentimen positif yang menggerakan harga saham,” tuturnya.

Salah satu emiten yang bersinggungan dengan industri manufaktur sendiri adalah PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. atau IPCC yang merupakan anak usaha dari PT Pelindo II (Persero).

Perusahaan pelat merah tersebut bergerak di bidang usaha Kepelabuhanan (Port)  yang menyediakan layanan Bongkar Muat di Terminal Kendaraan. IPCC menjadi bagian dari mata rantai ekosistem logistik industri otomotif di Tanah Air.

Investor Relations IPCC, Reza Priyambada menilai ada harapan pertumbuhan kinerja di sektor manufaktur hingga akhir 2021. Pelaku usaha di sektor tersebut setidaknya sudah beradaptasi dengan kondisi menantang karena pandemi Covid-19.

Dia menilai, performa sektor manufaktur masih dapat bertumbuh di masa pandemi, emiten manufaktur ataupun yang terkait harus mampu menunjukkan perbaikan dan efisiensi kinerja untuk menarik minat investor.

Presiden Direktur IPCC Rio T.N. Lasse mengatakan kegiatan perseroan sangat dipengaruhi oleh tren di industri otomotif. Pada 2020 kinerja IPCC sempat mengalami penurunan karena terimbas Pandemi Covid 19.

Pendapatan IPCC pada semester I/2021 dari Terminal Domestik mencapai Rp55,85 miliar, naik dari periode yang sama pada 2020 hanya Rp44,28 miliar. Adapun pendapatan dari Terminal Internasional pada paruh pertama 2021 mencapai Rp177,17 miliar naik dari periode yang sama 2020 sebesar Rp130,83 miliar.

Hal itu pun berpengaruh pada saham IPCC yang saat ini sedang dalam tren naik pasca diumumkannya kinerja keuangan dan operasional yang kian positif. Sebelumnya, harga saham IPCC saat IPO pada 2018 sempat mencapai tertinggi di level Rp1.715 per lembar, namun karena pandemi sempat menyentuh Rp232 yaitu pada Maret 2020. Saat ini saham IPCC kembali merangkak di kisaran Rp480 hingga mendekati Rp700 per lembar.

“Pada semester I/2021 kita rebound karena kondisi manufaktur, terutama otomotif yang sudah lebih baik, seiring pemulihan di negara tujuan ekspor dan pelonggaran pembatasan aktivitas masyarakat di negara tujuan ekspor,” katanya dalam diskusi daring yang digelar D Origin Advisory bekerjasama dengan Komunitas Investor Cafe & IGICO Advisory yang bertemakan "IPCC Goes Digital" pada Selasa, 10 Agustus 2021.

Berita Terkait