Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2021 Capai 5,02 Persen, Ditopang Ekspor dan Konsumsi Domestik

07 Februari 2022 12:27 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Laila Ramdhini

Ilustrasi bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,02% year on year (yoy) pada kuartal IV-2021. Selama tahun 2021, ekonomi Indonesia tumbuh 3,69% yoy.

Sementara itu, produk domestik bruto (PDB) berdasarkan harga berlaku mencapai sebesar Rp4.498 triliun, sedangkan berdasarkan harga konstan sebesar Rp2.845,9 triliun.

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan pertumbuhan ekonomi yang membaik ditopang oleh kondisi perekonomian global yang pulih, kinerja ekspor dan mobilitas masyarakat yang meningkat setelah kebijakan pelonggaran pembatasan.

"Kuartal empat (ekonomi) tumbuh cukup tinggi karena kuartal ini mengkompensasi seluruh kegiatan yang sempat tertunda di kuartal ketiga, karena kasus pandemi dan mobilitas terbatas," katanya dalam konferensi pers virtual, Senin, 7 Februari 2022.

Dia menjelaskan, peningkatan mobilitas dan aktivitas peradangan ritel dan belanja serta konsumsi pemerintah dan masyarakat mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal IV meningkat dibandingkan dengan kuartal III-2021.

Secara kuartalan (quater to quater/qtq), ekonomi Indonesia tumbuh 1,06% setelah pada kuartal sebelumnya tumbuh 3,51%.

Selain itu, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi juga didorong oleh meningkatnya realisasi investasi kuartal IV-2021 baik itu Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

"Dari polanya kuartal itu ekonomi selalu kontraksi. (Namun) Agak berbeda dengan kuartal keempat 2021, di mana ekonomi kita mampu tumbuh 1,06 persen. Ini karena di kuartal ketiga kemarin semua aktivitas ekonomi terkompensasi di kuartal keempat," terang Margo.

Dia menambahkan, seluruh lapangan usaha mengalami pertumbuhan pada kuartal IV, kecuali sektor jasa keuangan yang mengalami kontraksi sebesar 2,59%.

Penyebabnya adalah karena adanya perlambatan jasa intermediasi perbankan akibat penurunan suku bunga referensi dan suku bunga kredit yang disertai penurunan pendapatan sekunder pada bank umum. Selain itu, karena beban biaya operasional dan penurunan pendapatan dari berbagai usaha asuransi.

Sementara lapangan usaha yang tumbuh tertinggi terjadi pada sektor jasa kesehatan yang tumbuh 12,18%, disusul sektor transportasi dan pergudangan (7,93%) dan pengadaan listrik dan gas (7,81%) serta informasi dan komunikasi (6,21%).

Menurut struktur PDB, sektor industri memberikan kontribusi terbesar bagi pertumbuhan ekonomi yaitu sebesar 18,80%, yang diikuti sektor perdagangan (12,71%), pertanian (11,39%), kontruksi (10,48%) dan pertambangan (10,43%).

Secara rinci, lapangan usaha industri sendiri mengalami pertumbuhan 4,82%, kemudian perdagangan 5,56%, pertanian 2,28%, konstruksi 3,91% dan pertambangan 5,15%.

"Empat sektor ini mendominasi PDB kurang lebih 63,80 persen," papar Margo.

Sementara untuk industri pengolahan mengalami pertumbuhan sebesar 4,92% yang ditopang oleh peningkatan produksi timah, feronikel dan bauksit.

"Juga karena industri migas dan batu bara yang tumbuh cukup tinggi karena peningkatan produksi BBM dan LNG, juga oleh industri tekstil dan pakaian jadi, industri makanan dan minuman," ungkap Margo.

Secara umum, sumber pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2021 tertinggi berasal dari industri pengolahan (1,01%), kemudian perdagangan (0,71%), konstruksi (0,40%), infokom (0,39%), dan lainnya (2,51).

Sementara sumber pertumbuhan ekonomi menurut pengeluaran tertinggi berasal dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) (1,21%), kemudian disusul konsumsi rumah tangga (1,09%), ekspor (0,98%) dan pengeluaran lainnya (0,41%).

"Pada tahun 2021 Pembentukan Modal Tetap Bruto merupakan pertmbuhan tertinggi yaitu sebesar 1,21 persen," jelas Margo.

Berita Terkait