Permintaan Membludak, Ini Cara Kemenperin Genjot Produksi Industri Gula

07 Agustus 2022 20:01 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Ananda Astri Dianka

Ilustrasi gula (TrenAsia/Debrinata )

JAKARTA – Dalam rangka mempersempit kesenjangan kebutuhan dan produksi gula konsumsi yang cukup tinggi, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya untuk mendongkrak produktivitas industri. 

Upaya itu dilakukan melalui pola intensifikasi, ekstensifikasi, hingga pemanfaatan digitalisasi untuk mengakselerasi pemenuhan kebutuhan gula yang terus meningkat, khususnya di pasar domestik. 

Untuk diketahui, pada tahun 2021, produksi gula nasional mencapai 2,35 juta ton yang terdiri dari produksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar 1,06 juta ton dan pabrik swasta 1,29 juta ton.

Sementara itu, kebutuhan gula pada tahun 2022 mencapai sekitar 6,48 juta ton yang terdiri dari 3,21 juta ton gula kristal putih (GKP) dan 3,27 juta ton gula kristal rafinasi (GKR). 

GKP adalah gula yang hanya ditujukan untuk konsumen rumah tangga sementara GKR adalah produk ekslusif yang diperuntukkan bagi industri pengguna, yakni makanan dan minuman.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, Kemenperin sedang berupaya untuk meminimalisasi kesenjangan jumlah produksi untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat melalui peningkatan produktivitas.

“Hal ini sesuai arahan Bapak Presiden agar produksi gula konsumsi bisa memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujar Agus dikutip dari keterangan tertulis, Minggu, 7 Agustus 2022.

Agus pun mengatakan, industri gula adalah salah satu sektor strategis karena komoditasnya berperan penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan sebagai bahan baku bagi sejumlah sektor industri penggunanya.

Hal ini membuat industri gula memiliki nilai strategis bagi ketahanan pangan nasional dan peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengemukakan, saat ini masih terdapat kesenjangan kebutuhan gula sekitar 850 ribu ton untuk gula konsumsi dan 3,27 juta ton untuk gula rafinasi.

Lonjakan kesenjangan itu disebabkan oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga seiring dengan bertambah jumlahnya penduduk, pendapatan masyarakat, serta tumbuhnya industri makanan dan minuman yang diproyeksi meningkat 5-7% setiap tahunnya.

Berita Terkait