Permintaan Global Loyo, Produksi dan Penjualan Batu Bara Adaro Energy Turun

JAKARTA – Pandemi COVID-19 rupanya masih belum berbaik hati pada industri batu bara global. Pada kuartal III-2020, permintaan untuk batu bara baik metalurgi maupun termal masih tertekan oleh sulitnya pemulihan ekonomi dan kebijakan importasi dari beberapa negara.

PT Adaro Energy Tbk mencatat total produksi batu bara mencapai 41,10 juta ton pada 9M20, turun 7% year on year (yoy) dibandingkan kuartal III-2019.

Sementara itu, volume penjualan batu bara pada kuartal ketiga tahun ini yang tercatat 40,76 juta ton atau setara dengan penurunan 9% yoy.

Pada periode ini pula, perusahaan bersandi saham ADRO memproduksi dan menjual batu bara masing-masing sebesar 13,81 juta ton dan 13,62 juta ton. Masing-masing turun 12% dan 14% dibandigkan dengan cetakan pada kuartal ketiga tahun lalu.

Perurunan permintaan batu bara berasal dari China dan India. Sebabnya, pengetatan pembatasan kuota impor oleh China dan musim hujan di India yang datang lebih awal. Sehingga mendorong pelemahan permintaan terhadap batu bara termal seaborne secara yoy pada kuartal III-2020.

Meski begitu, permintaan dari Asia Tenggara, terutama Vietnam, menguat di bulan-bulan pertama kuartal ketiga tahun ini. Sementara negara Asia Tenggara lainnya semakin mengaktifkan aktivitas ekonomi.

Tanda Pemulihan

Walaupun terjadi penurunan secara tahunan, namun mulai tampak tanda-tanda rebalancing pada kuartal III-2020 yang terjadi berkat pengurangan suplai.

Menurut Minerba One Data (MODI), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, produksi batu bara Indonesia turun 10% yoy pada periode Januari-September karena penurunan permintaan domestik maupun ekspor.

Hingga 30 September 2020, penjualan ADRO didominasi oleh produk E4700 dan E4900, berkat adanya permintaan yang solid untuk batu bara jenis-jenis ini. Pasar Asia Tenggara meliputi 48% penjualan pada September 2020, di mana Indonesia dan Malaysia meliputi porsi yang terbesar.

Dengan kondisi pasar batu bara seperti itu, per September 2020, pendapatan usaha perseroan turun 26% yoy menjadi US$1.955 juta. Kontraksi didorong oleh penurunan Average Selling Price (ASP) dan volume penjualan, yang masing-masing turun 18% dan 9%.

Pendapatan perusahaan bersandi ADRO kontraksi 26% menjadi US$1,95 miliar dari sebelumnya US$2,65. Penurunan pendapatan juga diikuti oleh anjloknya laba bersih perseoran sebesar 73,06% menjadi US$109,37 juta.

Padahal, hingga September 2019, ADRO mampu mencetak laba bersih hingga US$405,99 juta.

Tags:
ADROpenjualan batu baraproduksi batu baraPT Adaro Energy Tbk
Ananda Astri Dianka

Ananda Astri Dianka

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: