Perkuat Solidaritas Negara IMT-GT, Pemerintah Kebut Rancangan Cetak Biru untuk Tanggulangi Dampak Pandemi Covid-19 Bersama

08 Agustus 2021 11:08 WIB

Penulis: Fachrizal

Editor: Rizky C. Septania

Airlangga Hartanto (Kemenko Perekonomian RI)

Jakarta - Pemerintah Indonesia bersama Malaysia dan Thailand berupaya mengakselerasi perancangan blueprint atau Cetak Biru Implementasi IMT-GT 2017-2021. 

Percepatan perancangan IMT-GT dibentuk sebagai solidaritas dan kerja sama Sub-Regional Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) untuk menanggulangi krisis ekonomi dan kesehatan akibat pandemi bersama.

Rancangan implementasi IMT-GT ini nantinya juga menyusun perpanjangan kerangka kerja lima tahun berikutnya pada 2022-2026. 

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, Kerjasama IMT-GT dibentuk untuk akselerasi pertumbuhan ekonomi, menghilangkan kesenjangan, dan meningkatkan kesejahteraan penduduk di tiga negara. 

“Selama 28 tahun berkiprah, telah kita saksikan bahwa kerja sama ini tetap bertahan dari berbagai guncangan ekonomi yang melanda dunia. Jadi, dalam situasi krisis pandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya, kita perlu meningkatkan solidaritas dan kerja sama untuk membantu rakyat kita keluar dari krisis kesehatan dan ekonomi,” ujar Menko Airlangga pada Jumat 6 Agustus 2021.

Pernyataan ini disampaikan saat memimpin Delegasi Indonesia pada Pertemuan Tingkat Menteri IMT-GT ke-27 yang digelar secara virtual pada Jumat , 6 Agustus 2021, di Jakarta. 

Dalam pertemuan tersebut hadir Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Ekonomi) Malaysia YB Dato' Sri Mustapa Bin Mohamed, Menteri Keuangan Thailand Arkhom Termpittayapaisith, Wakil Presiden Asian Development Bank (ADB) Ahmed M. Saeed, dan Sekretaris Jenderal Sekretariat ASEAN Dato’ Lim Jock Hoi.

Airlangga melanjutkan, dirinya beserta Menteri Malaysia dan Thailand telah menyepakati untuk memastikan semua target dalam kerja sama IMT-GT dapat tercapai dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kita harus memanfaatkan platform Kerjasama IMT-GT untuk mendorong proyek yang konkret bagi percepatan pertumbuhan ekonomi di kawasan dengan tetap memperhatikan permasalahan yang terjadi saat ini seperti kesehatan, revolusi industri, ketahanan pangan dan energi, kualitas sumber daya manusia, dan sumber daya berkelanjutan. 

Tak lupa, kita juga harus mempercepat transformasi dan adaptasi teknologi yang memainkan peran kunci untuk masa depan kerjasama IMT-GT,” tutur Menko Airlangga.

Airlangga sendiri mendukung adanya adopsi prinsip economy dalam kerangka kerja Pemerintah untuk lima tahun ke depan. Berkaitan dengan hal ini, Indonesia juga tengah mengembangkan kebijakan sektor industri dengan konsep ekonomi sirkular melalui Standarisasi Industri Hijau. 

Melalui ekonomi sirkular, Indonesia diproyeksikan akan menciptakan 4,4 juta pekerjaan baru dan menambah US$42,2 miliar dari PDB pada 2030. 

“Saya yakin, kondisi serupa juga dapat diterapkan di negara-negara lainnya,” lanjutnya.

Meskipun tengah dilanda gelombang kedua pandemi, Indonesia beserta Malaysia dan Thailand tetap berkomitmen untuk menyelesaikan berbagai program dan kegiatan dalam Cetak Biru Implementasi IMT-GT 2017-2021, serta menyusun kerangka kerja lima tahun berikutnya dalam Cetak Biru Implementasi IMT-GT 2022-2026.

Isi dari kerangka kerja lima tahun berikutnya dalam Cetak Biru Implementasi IMT-GT 2022-2026 adalah:

  1. Mendorong pengembangan dan penyelesaian proyek konektivitas dan menyelaraskan dengan koridor ekonomi untuk meningkatkan keunggulan komparatif.
     
  2. Kerja sama IMT-GT harus lebih inklusif, tangguh dan berkelanjutan. Dua sektor prioritas yang berpotensi besar untuk dikembangkan adalah pertanian dan pariwisata. Selain itu, diperkuat juga pengembangan komoditas yang berdampak luas bagi masyarakat, seperti kelapa sawit dan karet.
     
  3. Terus mengeksplorasi potensi ekonomi produk dan layanan halal, serta memprioritaskan pengembangannya untuk membuka peluang menembus pasar dunia.
     
  4. Penguatan peran seluruh elemen dalam kerjasama IMT-GT. Selain penguatan peran pemerintah daerah dan dunia usaha, peran strategis akademisi sebagai thinktank dalam wadah UNINET juga perlu untuk terus ditingkatkan.
     
  5. Sinergitas agenda kerja IMT-GT dengan inisiatif ASEAN, antara lain ASEAN Comprehensive Recovery Framework (ACRF) yang terkait kerangka kerja pemulihan ekonomi, dan ASEAN Catalytic Green Finance Facility (ACGF) untuk pembiayaan proyek-proyek infrastruktur berwawasan lingkungan untuk mencapai target pengurangan emisi di kawasan IMT-GT.

Berita Terkait