Peringkat Layak Investasi Indonesia Bertahan, Bukti Optimisme Investor Internasional

09 Mei 2022 13:31 WIB

Penulis: Muhammad Heriyanto

Editor: Rizky C. Septania

Kantor Kementerian Keuangan RI di Jakarta Pusat, DKI Jakarta. (Kantor Kementerian Keuangan RI)

JAKARTA - Indonesia mampu mempertahankan peringkat layak investasi. Peringkat ini sekaligus pengakuan atas perbaikan ekonomi makro yang kuat dan bukti optimisme investor internasional terhadap perekonomian Indonesia.

Peringkat layak investasi ini ditentukan oleh Lembaga Pemeringkat Kredit Standard and Poor’s (S&P) yang meningkatkan outlook Indonesia dari sebelumnya negative menjadi stable dan mempertahankan peringkat atau rating kredit Indonesia pada level BBB (Investment Grade).

“Peningkatan outlook Indonesia ini merupakan pengakuan atas arah perbaikan ekonomi makro yang kuat, khususnya laju pemulihan ekonomi yang relatif cepat, posisi eksternal yang kuat, dan penguatan signifikan pada sisi fiskal,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Luky Alfirman dalam keterangan resminya, dikutip Senin, 9 Mei 2022.

S&P menyebut posisi eksternal Indonesia menguat signifikan di tahun 2021, mencatatkan surplus 0,3 % Produk Domestik Bruto (PDB). Perbaikan transaksi perdagangan terus berlanjut dan mencatatkan pertumbuhan yang kuat di awal tahun 2022. Diperkirakan defisit akan jauh menyempit dalam dua hingga tiga tahun ke depan dan kembali di bawah 3 % terhadap PDB.

“S&P optimis bahwa posisi eksternal Indonesia resilient di tengah gejolak global akibat konflik Rusia – Ukraina,” ujar Luky.

Dari sisi stabilitas politik, S&P menilai Indonesia dalam kondisi stabil dan kondusif yang telah teruji dalam keputusan politik penanganan pandemi COVID-19 serta reformasi fiskal. Afirmasi peringkat Indonesia oleh S&P pada BBB dengan stable outlook juga mencerminkan optimisme investor internasional terhadap prospek perekonomian Indonesia di tengah tantangan global maupun domestik.

“Di saat beberapa negara menghadapi penurunan peringkat, Indonesia justru mampu mempertahankan peringkat layak investasi dan memperbaiki outlook dari negatif menjadi stabil,” ujar Luky.

Luky menyebut kebijakan fiskal yang responsif dan fleksibel serta sinergi kebijakan Pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan secara efektif akan mendorong pemulihan ekonomi. Arah kebijakan dan sinergi antarlembaga serta seluruh elemen masyarakat akan terus diarahkan untuk memperkuat akselerasi pemulihan ekonomi.

Berita Terkait