Perdana Melantai di Bursa, Saham Surya Biru Murni (SBMA) Kena Auto Reject Atas

08 September 2021 10:30 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Laila Ramdhini

Karyawan beraktivitas di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Saham dan waran PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA) resmi tercatat di Papan Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, 8 September 2021. SBMA merupakan emiten ke-36 yang tercatat di BEI sepanjang tahun 2021. 

Pada penawaran umum perdananya, perseroan melepas 278.400.000 saham dengan nilai nominal saham Rp100 dan harga pelaksanaan Rp180 per lembar. Sehingga, SBMA berpotensi meraup dana sebanyak Rp50,11 miliar melalui aksi korporasi ini.

Pada perdagangan perdananya, saham SBMA melesat 34,44% menyentuh auto reject atas (ARA) ke level Rp242 per lembar. Pada kesempatan yang sama, kapitalisasi pasar perseroan tercatat senilai Rp224,67 miliar.

Sebagai pemanis, SBMA turut menerbitkan 46.400.000 Waran Seri I atau sebanyak 7,14% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh saat pernyataan pendaftaran disampaikan yang menyertai saham biasa atas nama yang dikeluarkan dalam rangka IPO. 

Setiap pemegang 6 saham baru hasil penawaran umum perseroan berhak memperoleh 1 Waran Seri I, di mana setiap 1 Waran Seri I memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli 1 saham baru perseroan yang dikeluarkan dalam portepel dalam jangka waktu 1 tahun.

Kehadiran SBMA diyakini dapat menjadi kompetitor baru PT Aneka Gas Industri Tbk (AGII) di pasar modal Indonesia. Walaupun demikian, ukuran bisnis SBMA memang jauh lebih kecil dibandingkan dengan AGII atau Grup Samator.

SBMA telah beroperasi sejak tahun 1982, memproduksi dan menjual berbagai macam gas untuk industri baik dalam bentuk gas maupun cair seperti ksigen, nitrogen, asetilen, argon, hidrogen, dan karbondioksida. Kegiatan operasional dan penjualan SBMA berfokus di Pulau Kalimantan. 

Untuk menunjang usahanya, SBMA memiliki jaringan transportasi di seluruh Pulau Kalimantan dan dilengkapi tim manajemen yang berpengalaman lebih dari 30 tahun dan memiliki kontrak kerja dengan perusahaan-perusahaan besar di berbagai bidang usaha.

Berita Terkait